
Jonathan menutup ponselnya dengan cepat. Saat ia akan beranjak dari sana, baru teringat tujuannya datang ke apartement.
"Aku mau ke rumah sakit, Stella histeris dan sesak lagi. Kamu mau ikut?" tanyanya datar.
"Aku bawa motornya Retno," sahut Jamilah pelan.
Beberapa saat Jonathan berdiri mematung. Ia dilema antara pergi ke rumah sakit dan meninggalkan Jamilah hanya berdua dengan pria asing, ataukah membawa paksa Jamilah segera pergi dari apartement ini. Namun, dering ponsel yang bergetar di sakunya membuat Jonathan kembali panik, dan langsung berlari ke arah lift yang akan membawanya ke lantai dasar.
"Sepertinya wanita bernama Stella itu penting bagi pria yang menyebutmu sebagai pacar?" Celetukan pemuda itu menyadarkan Jamilah yang mematung.
"Sahabatnya," sahut Jamilah. Ia gagal menyembunyikan nada cemburu dalam suaranya.
"Sahabat?? demi sahabat wanitanya, pacarmu meninggalkanmu sendirian?" Jamilah melirik tak suka dengan pertanyaan pemuda itu yang terkesan menghakimi Jonathan.
"Maaf, aku hanya heran karena pria dan wanita biasanya tak ada persahabatan yang murni. Kalau bukan yang cewek memendam rasa biasanya ya sebaliknya."
"Terima kasih." Jamilah memutuskan segera pulang tak ingin berlama-lama dengan pria asing itu. Semakin lama perkataannya semakin terdengar menjengkelkan.
"Sama-sama. Namamu siapa, barangkali kita bertemu lagi jadi bisa saling menyapa." Pemuda itu mengulurkan tangannya.
Jamilah melengos dan berjalan menjahui kamar apartement pemuda itu.
"Hei, panggil aku Ndra. Salam kenal ya!" seruan pemuda itu masih dapat terdengar oleh Jamilah meski ia sudah cukup jauh dari kamar apartement.
Sepanjang perjalanan menuju tempat kost Retno, Jamilah mengingat reaksi wajah Jonathan saat mereka bertemu, jelas sudah kalau kekasihnya itu salah paham. Jonathan datang tepat saat Jamilah keluar dari dalam kamar dan hanya ada seorang pria di sana bersamanya. Tapi bukankah pemuda itu sudah menjelaskan untuk apa ia di dalam kamar, toh pemuda itu juga tidak satu ruangan dengannya.
Brruukk! Jamilah melemparkan tas kecilnya ke atas meja rias Retno, menyebabkan beberapa alat rias Retno berjatuhan.
"Hei, datang-datang kok marah. Hilang cincinmu?"
"Maaf." Jamilah memunguti peralatan rias yang terjatuh dan meletakkannya kembali di meja, "Cincinnya ketemu ... orangnya hilang," imbuhnya lirih.
"Kamu kenapa sih?"
"Ga apa-apa. Aku tidur dulu ya, pusing." Jamilah naik ke atas ranjang dan memunggungi temannya.
Ia menyembunyikan air mata dan isakan yang sejak di jalan tadi berusaha ia tahan. Rasa rindu dan kecewa menjadi satu. Ia menyesal dan kesal saat mengingat Stella yang berniat meminjam kekasihnya. Ia pikir akan semudah dan sesederhana itu, tapi ternyata sangat menyakitkan.
Jamilah ingat perkataan pemuda di apartement, bahwa tidak ada persahabatan yang murni antara pria dan wanita. Seharusnya ia tahu kalau Stella dari dulu menyukai Jonathan dan ia bisa bersikap lebih tegas. Entah bodoh atau terlampau polos, ia malah meminjamkan kekasihnya bak sebuah barang.
Namun sekarang semuanya sudah terjadi, tinggal tunggu apakah keberuntungan akan berpihak padanya. Apakah ia akan tetap menunggu sampai Jonathan benar-benar melepaskannya dan memilih berada di sisi Stella, atau sebelum rasa cinta ini semakin dalam dan menyiksa ia harus segera merelakan kekasihnya itu untuk Stella.
Sementara itu di rumah sakit, Jonathan menyerah menghadapi Stella yang merengek minta pulang malam itu juga.
"Kamu masih lemah, Laa. Baiknya kamu dirawat dulu di rumah sakit sampai benar-benar pulih." Stella menggelengkan kepalanya keras. Keinginannya sudah bulat, untuk menunggu hingga esok pun ia sudah tidak sabar.
Bukan Stella jika tidak bisa memaksakan sesuatu sesuai dengan keinginannya. Dengan pengaruh nama besar ayahnya, Stella dapat keluar dari rumah sakit malam itu juga.
Raut wajah Jonathan yang lelah dan banyak pikiran tidak dapat ia sembunyikan. Pikirannya bercabang antara keras kepala Stella dan sorot mata Jamilah yang terakhir dilihatnya. Ia menangkap dengan jelas kekecewaan besar di mata jernih itu.
Pikirannya menjadi gamang, apakah tadi ia sudah berkata yang menyakitkan pada kekasihnya itu? Rasa cemburu melihat orang yang dicintai berada dalam satu ruangan dengan seorang pria membuat otaknya buntu untuk berpikir jernih.
Jelas ia tahu dan melihat bahwa Jamilah hanya mengambil cincinnya yang tertinggal, tapi mengapa ia masih cemburu buta. Lalu bagaimanakah dia sekarang yang berada dalam satu kamar dengan wanita lain hanya berdua saja.
"Arrgghh!" Jonathan meraup wajahnya dengan kasar.
"Khenapaaa, Jo?" Stella menyentuh tangan Jonathan lembut. Malam ini ia sudah terbaring di ranjang kamarnya yang nyaman. Walaupun masih kesulitan untuk bernafas, Stella tetap bersikukuh untuk pulang ke rumah dengan membawa alat yang dapat menopang pernapasannya.
"Aku pulang dulu ya, ada yang harus aku selesaikan malam ini dengan Jamilah."
Senyum di wajah Stella menyurut, tapi ia memaksakan untuk kembali mengangkat sudut bibirnya. Jangan sampai Jonathan jengah melihat sikapnya yang kekanakan dan kembali pergi menjauh karena sikapnya yang egois.
"Besok aku datang lagi," bujuk Jonathan saat air mata Stella kembali merebak. Walaupun bibirnya mengurai senyuman ikhlas, mata dan tangannya tak bisa berbohong. Tangan Stella masih menggenggam erat tangan Jonathan seolah mengatakan jangan pergi. Perlahan Jonathan melepaskan tangan Stella dan beringsut keluar dari kamar.
"Bagaimana keadaan Stella, Jo?" saat di ruang tamu Jonathan disambut oleh ayah Stella.
"Kondisinya baik, Om," sahut Jonathan singkat. Ia sedang tak ingin berbicara lama-lama tentang Stella malam ini. Matanya sesekali melihat layar ponselnya, menanti jawaban dari Jamilah.
"Om sama Tante sudah tua, kalau kami nanti sudah tidak ada siapa yang akan menjaga dia?"
"Stella banyak temannya, Om."
"Tapi tidak ada yang tulus. Semua hanya dekat karena harta." Jonathan mengangguk-angguk. Semua perkataan ayah Stella tidak ada satupun yang mampir di kepalanya.
...❤️🤍...
Aku bawa cerita bagus lagii nih
Zahra memutuskan untuk menikah dengan pria yang baru saja hadir di hidupnya, cinta pandangan pertama itulah yang dialaminya hingga Ia memutuskan hal penting tanpa tahu terlebih dahulu pria yang akan dijadikan sebagai imamnya.
Kebahagiaan dirasakan di awal pernikahannya, hingga semua hancur karena sebuah kecelakaan yang merenggut bayi yang ada di dalam kandungannya.
Zahra mengalami keguguran dan di hadapan pada kenyataan jika kesempatan untuk menjadi seorang ibu sangatlah kecil karena kecelakaan yang dialaminya.
Mampukah Zahra mengembalikan kehidupan rumah tangganya yang harmonis?
Akankah Zahra bisa merasakan menjadi seorang ibu?