CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Penantian yang sia-sia


"Vitamin," sahut Stella cepat setelah menegak air mineral agar pil yang baru ia telan segera masuk. Raditya mengangguk namun dengan sedikit kerutan di keningnya.


Sampai mereka menyelesaikan makannya, Jamilah sama sekali tidak keluar lagi dari ruang karyawan. Jonathan mengetikkan pesan pada Jamilah secara sembunyi-sembunyi, tapi pesan singkat berwarna hijau itu hanya terkirim belum ada tanda-tanda sudah terbaca.


"Kalian pulang dulu aja, aku masih di sini dulu," ujar Jonathan saat mereka berlima sudah berada di parkiran mobil.


"Ini 'kan mobilmu, Jo?" ucap William heran.


"Tinggal aja di kantor, nanti aku naik taxi online. Aku masih ada perlu sebentar," ucap Jonathan sembari melirik ke arah restoran.


"Nungguin Jamilah?" bisik William, "Ada apa kamu dengan dia?" selidik William.


"Dia cewekku, kenapa?" tantang Jonathan.


"Ya ga apa-apa juga. Baguslah, tapi kenapa waktu di dalam restoran tadi, kamu malah seperti sembunyi dari dia? apa yang kamu tutupi?" kejar William.


"Ga ada. Aku memang ga lihat dia tadi." Jonathan terpaksa berbohong, ia tidak mau terlihat bodoh cemburu pada William tanpa alasan.


"Bohong banget kalau kamu ga tahu, padahal aku ngobrol lama sama dia masak kamu ga dengar? Kamu sadar ga, kalau sudah menyakiti dua hati wanita malam ini, Jo." William menunjuk ke arah Stella yang bersandar di mobil dengan wajah sendu.


Jonathan terdiam, ia tidak menyangka sikapnya pada Stella seharian ini membuat gadis itu terlihat tertekan. Jonathan berjalan mendekati Stella lalu mengulurkan tangannya.


"Aku minta maaf ya, La kalau seharian ini kasar sama kamu." Jonathan benar-benar merasa bersalah setidaknya ia dan Stella adalah teman yang sangat dekat sebelumnya.


Terlepas tindakannya yang terkadang menjengkelkan, Stella adalah gadis yang baik dan periang. Selama ia dekat dengan Stella saat sekolah dulu, gadis itu tidak pernah jaga penampilan agar selalu berpenampilan cantik di depan Jonathan seperti gadis lainnya. Stella selalu tampil apa adanya, tanpa takut terlihat jelek di hadapannya. Meski selalu di cecar, di bohongin juga diberi harapan palsu oleh Jonathan, Stella tetap bertahan menjadi teman yang terbaik untuk Jonathan.


"Tumben amat minta maaf," ucap Stella sambil tertawa pelan. Uluran tangan Jonathan hanya ia tepis secara bercanda. Walaupun bibir Stella mengulas senyum, Jonathan bisa melihat guratan kesedihan di mata gadis itu.


"Kamu pulang dulu sama mereka, aku masih ada perlu di sini," ucap Jonathan pelan. Ia tidak mau menyakiti lagi hati Stella.


"Nungguin Jamilah?" tanya Stella. Kali ini tidak ada nada protes dari mulutnya, yang terdengar justru nada kesedihan yang berusaha ditutupi oleh senyuman. Jonathan tidak menjawab, ia hanya membalik badan Stella dan mengarahkan gadis itu masuk ke dalam mobil.


"Titip ya, Om," ujar Jonathan sembari melambaikan tangan.


Raditya berkali-kali melirik ke arah Stella yang duduk di sebelahnya menggantikan William. Stella meminta duduk di bangku depan karena ia merasa tidak nyaman hanya berdua di bangku belakang dengan Maura yang masih bersikap sinis dengannya.


Raut wajah Stella tampak jauh berbeda dengan saat berangkat pagi tadi. Wajahnya yang kuyu karena kelelahan bercampur rasa sedih tidak bisa di tutupi oleh Stella.


Sampai di kantor Jonathan, Raditya menyerahkan kunci mobil pada satpam yang berjaga lalu ia berjalan ke mobilnya sendiri. Saat mengarahkan mobilnya keluar dari halaman kantor, Raditya melihat Stella sedang duduk di pos satpam sendirian.


"Belum pulang?" Raditya berteriak dari dalam mobil.


"Mau pesan taxi online."


"Ga bawa kendaraan tadi?" Stella hanya menggeleng.


"Saya antar," ujar Raditya sembari membuka pintu mobil dari dalam.


"Makasih, Om. Aku pulang sendiri aja."


"Sudah lama kenal sama Jonathan?" tanya Raditya saat mereka sudah dalam perjalanan.


"Satu kelas di SMU selama tiga tahun."


"Pantes akrab sekali. Kalau suka kenapa ga bilang langsung, cowok itu ga peka seperti cewek."


"Sudah, tapi ya gitu dari dulu Jonathan memang ga bisa hanya dengan satu perempuan. Ceweknya memang banyak, tapi selalu kembali lagi sama aku. Meskipun Jonathan sekarang dekat sama cewek restoran itu, aku yakin kalau dia sudah bosan pasti kembalinya sama aku." Raditya tersenyum sembari menggelengkan kepala mendengar isi hati Stella.


Sementara itu Jonathan menunggu Jamilah hingga selesai kerja di parkiran restoran. Ia sengaja tidak memperlihatkan diri di depan restoran, agar Jamilah tidak berusaha menghindarinya.


Jam sepuluh malam lebih, Jamilah dan beberapa karyawan lain tampak keluar dari pintu belakang restoran. Lalu ia berjalan ke arah jalan raya menunggu angkot di sana.


"Aku temani ya." Jonathan berdiri di samping Jamilah.


"Pak Jo kok belum pulang? temannya mana?" Jamilah mencari-cari di belakang tubuh Jonathan.


"Mereka sudah pulang semua, kalau aku sengaja nungguin kamu pulang."


"Ngapain?"


"Kangen." Jamilah berdecih sebal mendengar kata yang bernada rayuan keluar dari mulut Jonathan, "Aku pesan taxi online ya, kita mampir ke kantorku ambil mobil nanti aku antar pulang." Jonathan menjelaskan rencananya.


"Ngapain? 'kan aku sudah tinggal di apartment yang Pak Jo sewa. Dari sini naik angkot lima menit sampai."


"Ah iya." Jonathan menepuk dahinya. Mengapa ia bisa lupa kalau Jamilah sudah tiga hari tinggal di apartement yang ia carikan sendiri. Terlalu pusing dengan persoalan tanah hilir membuatnya abai tentang keadaan Jamilah.


"Saya maklum aja kalau lupa, ga penting juga. Pastinya masih ada yang jauh lebih penting yang harus dipikir 'kan?" Jamilah mengerling penuh arti. Jonathan sangat yakin yang dimaksudkan Jamilah bukanlah tentang proyek tanah hilirnya, tapi sesuatu yang lain.


"Angkotnya sudah datang, saya pulang dulu ya, Pak." Jamilah melambaikan tangan pada angkot yang akan melintas.


"Aku antar, Milah."


"Ga usah, Pak. Dekat aja. Bapak pulang aja, sudah malam. Terima kasih sudah ditungguin," ujar Jamilah tak mengijinkan Jonathan untuk masuk ke dalam angkot dengannya.


Jonathan hanya bisa melongo menatap angkot yang membawa Jamilah semakin menjauh. Penantiannya selama dua jam ditemani oleh nyamuk di parkiran tadi ternyata sia-sia.


"Nunggu siapa, Pak?" Jonathan menoleh saat ada yang menyapanya. Namun begitu tahu siapa yang berbicara ia langsung berjalan mundur teratur.


...❤️🤍...


Aku bawa cerita bagus untuk kalian



Adriano D'Angelo tak pernah menyangka bahwa Tuhan memberinya kesempatan kedua. Setelah ditembak oleh wanita yang sangat dia cintai kemudian dibuang ke laut, Adriano terdampar dan berhasil diselamatkan oleh seorang gadis bernama Olivia hingga pulih seperti sediakala. Adriano bertekad untuk melanjutkan hidup serta menutup kisah kelam masa lalunya, dengan tak lagi menginjakan kaki di Italia. Akan tetapi, siapa sangka jika dirinya dipertemukan lagi dengan wanita yang telah membuatnya celaka. Dia kembali terjebak dalam pusaran cinta yang ternyata tak mampu untuk disingkirkannya terhadap wanita yang tak lain adalah Florecita Mia.


Akankah Adriano kembali mengejar Mia, atau memilih Olivia yang telah berjasa baginya?