
Alex masih bertahan berdiri tegak di posisinya. Ia berdiri di belakang Hanum yang duduk di tepi kolam. Ia sama sekali belum paham dinamika kondisi wanita yang sedang hamil.
"Habiskan," ucapnya datar.
Air mata Hanum semakin deras menetes, ia merasa jika Alex hanya menginginkan bayi yang ia kandung. Bukan dirinya. Air mata sudah bercampur dengan kuah mie pangsit, sudah tidak ada lagi rasa nikmat baginya.
Hanum memaksa semua mie masuk ke dalam mulutnya. Mengunyah dengan cepat lalu memasukan kembali suapan berikutnya. Ia hanya ingin agar pria yang berdiri mengawasinya di belakang tubuhnya, segera pergi dari sana.
"Hueekk." Hanum menutup mulutnya. Menahan agar apa yang sudah masuk jangan keluar lagi. Dorongan dari lambungnya memaksanya untuk segera pergi ke kamar mandi.
Hanum menaruh mangkuk begitu saja lalu berlari ke kamar mandi dan berjongkok di depan kloset. Mie pangsit yang mungkin belum sempat masuk sepenuhnya, sudah kembali keluar sia-sia.
"Makanya kalau makan jangan cepat-cepat, atau kamu sudah masuk angin duluan karena terlambat makan. Kamu makan itu harus tepat waktu, ingat kamu lagi hamil makan untuk dua orang, kenapa susah sekali sih dibilangi?!" ucap Alex sambil memijat tengkuk Hanum.
Merasa sedikit lebih baik, Hanum berdiri lalu menepis tangan Alex dari lehernya.
"Keluar!" Hanum mendorong suaminya keluar dari kamar mandi, lalu menutup pintunya dengan keras.
Suara keras dari pintu yang terhempas, mengundang perhatian Papa yang akan masuk ke dalam kamar.
Kening Papa berkerut dan matanya bertanya tanpa mengeluarkan suara.
"Ga tau!" sahut Alex seraya menaikan kedua bahunya. Badannya yang sudah lelah ingin segera berbaring, tapi masih harus menghadapi drama istrinya yang memusingkan kepala.
"Muntah?" tanya Papa saat mendengar suara Hanum dari dalam kamar mandi. Alex mengangguk membenarkan.
"Num, minum susunya dulu," panggil Alex, tapi istrinya itu terus berjalan lurus masuk ke dalam kamar tidak menghiraukan kedua pria yang sedang mengamatinya.
Sekilas Papa melihat mata Hanum yang sembab dan memerah meski menantunya itu sudah berusaha menutupnya dengan rambut panjangnya.
"Lex, duduk dulu," ucap Papa seraya menunjuk kursi di hadapannya, "Kalian berdua ada masalah?"
"Ga ada. Aku kan seharian di kantor, baru juga ketemu sore tadi."
"Biarkan istrimu tenang sendirian di kamar dulu. Papa mau cerita sedikit, kamu ada waktu?" Alex mengangguk walau sebenarnya ia ingin segera menyusul Hanum ke dalam kamar.
"Dulu waktu Mama hamil kamu, Papa ada di masa sedang merintis usaha jadi pas repot-repotnya. Kami berdua hidup merantau jauh dari keluarga, jadi teman satu-satunya Mama kamu ya Papa ini." Papa menyesap tehnya sebelum melanjutkan ceritanya.
"Saat kandungan Mamamu masih muda dulu, Mamamu berubah lebih cerewet, manja, susah kalau ditinggal lama, selalu curiga kalau Papa pulang sedikit lebih malam. Kalau Papa pulang dari kantor, lagi capek-capeknya nih Mamamu minta perhatian yang lebih seperti dipijat kakinya lah, usap punggung, usap perut dan lain-lain."
"Sampai satu malam, ada masalah di kerjaan dan waktu Papa pulang dari kantor Mamamu minta jalan keluar cari nasi pecel. Kamu bisa bayangin cari dimana orang jual nasi pecel di malam hari?"
"Papa saat itu langsung emosi dan membentak Mamamu. Mamamu tidak balas marah tidak juga menangis, tapi hanya diam. Diam terus tidak lagi meminta sesuatu, tidak minta dipijat, tidak tanya Papa pulang jam berapa, dan itu selama mengandung kamu hingga saatnya melahirkan. Papa merasa ada yang hilang saat itu, Papa sangat menyesal tapi ga tau bagaimana cara untuk memperbaiki." Papa menghela nafasnya yang terasa berat.
"Mungkin karena itu kamu punya sifat yang pendiam hehehe." Papa tertawa pelan, "Sebaliknya waktu mengandung Jonathan, Papa tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Lex, menghadapi ibu hamil itu terkadang membingungkan, tapi asal kamu tahu wanita yang merepotkan itu sedang mengandung anak kita. Selama 9 bulan wanita itu harus membawa kemana-mana, perutnya yang besar karena kita. Masak hanya perhatian dan membelikan makanan yang tidak setiap saat dia minta, kita harus marah?"
Alex menundukkan kepala lebih dalam. Papa memang tidak menyalahkannya hanya bercerita masa lalunya, tapi mengapa dia yang merasa sebagai pelaku utama. Apa benar yang Papa katakan sedang terjadi padanya dan Hanum?
...🤍❤...