
Hanum turun dari mobil dan berdiri menghadap gedung tinggi berlantai tujuh. Ini kedua kalinya ia berangkat ke kantor bersama dengan Alex, sebagai seorang istri.
Hanum memandang pakaian yang dia kenakan hari ini. Nuansa biru gelap sama seperti suaminya. Hanum hanya dapat meringis dalam hati, setelah pagi tadi mereka sedikit berdebat perkara warna pakaian yang harus serasi.
Terlalu berlebihan dan mencolok menurut Hanum, tapi bukan Alex kalo tidak bisa memaksa Hanum memakai pakaian seperti yang ia inginkan
Ucapan selamat pagi untuk pria di sampingnya, terus menghampiri dari karyawan yang berpapasan selama mereka berjalan menuju ruangan Alex. Hanya pada Hanum mereka masih ragu untuk menyebutnya, karena berita di kantor tentang bos mereka sudah menikah, masih simpang siur.
"Aku harus ngapain? jangan bilang cuman duduk diam di sana," ucap Hanum menuntut.
"Mmm ... oh, ya kamu rapikan file aja." Alex berjalan ke sudut ruangan lalu mengambil dua kardus coklat berisi lembaran kertas beraneka ukuran.
"Ini susun sesuai tanggal dan nomer surat. Sama seperti kerjaanmu di sini dulu 'kan?" Alex tersenyum lebar.
Sejenak Hanum terpukau dengan senyum yang sangat langka terjadi, "Mas Alex tersenyum," spontan Hanum ikut mengembangkan senyuman seolah itu sesuatu yang menular.
"He? memangnya kenapa?" ucap Alex salah tingkah seraya berpura-pura membetulkan posisi dasinya.
"Bagus gini sering tersenyum, gantengnya jadi lebih terlihat," puji Hanum tulus.
"Mmm, ya ... te-terima kasih," sahut Alex gugup, ia lalu kembali ke meja kerjanya dan langsung tertunduk di hadapan berkas-berkasnya tanpa tahu harus melakukan apa.
Tanpa banyak kata Hanum langsung mengerjakan tugas yang diberikan dengan semangat. Ia ingin segera selesai, dan langsung pergi untuk pengambilan gambar untuk video iklan.
"A-aku ada rapat sebentar." Alex berkata pada Hanum masih dengan nada canggung dan tertunduk.
Baru dua langkah Alex berbalik dan berkata lagi, "Kamu jangan kemana-mana sampai aku kembali."
"Iyaaaa, aku di sini setia tunggu Mas Alex sampai selesai rapat," ujar Hanum seraya tersenyum manis. Ia sedang menikmati tingkah suaminya yang sering salah tingkah dan canggung akhir-akhir ini.
Ucapan Hanum yang tidak di sangka itu, membuat Alex secepat kilat ingin menyelesaikan rapatnya.
"Hei, Num kamu lagi ngapain?" tanya Cimoy yang masuk ruangan hendak mengambil berkas yang ketinggalan.
"Nyusun file," ucap Hanum tak acuh. Ia sedikit agak malas melayani pembicaraan dengan sekretaris suaminya ini.
"Ow. Eh, Num kamu ini beneran sudah nikah sama Pak Alex? kok bisa? denger-denger kamu maksa minta dinikahi ya? sampe nyuri berkas calonnya Pak Alex yang dulu kamu taruh di meja itu kan? Hmmm, kalo tau kamu selicik itu, Num sudah kubuang berkasmu atau aku ganti sama punyaku," ujar Cimoy dengan nada mengejek.
"Moy, kamu kan disuruh ambil berkas cepet sudah, ngapain masih di sini," usir Hanum.
"Alaaah, sombong amat mentang-mentang jadi ibu bos, tapi lewat jalur maksa. Ngakunya ibu bos, tapi kerjaanya juga ga jauh dari pesuruh. Kasian deh kamu, Num disuruh rapikan file yang mau dibuang. Sebentar lagi nasibmu ditendang juga sama kayak file itu, Num." Cimoy berjalan keluar ruangan dengan tertawa keras.
Hanum memperhatikan lembaran demi lembaran yang telah ia susun. Tahun yang tertera di sana paling terbaru 12 tahun yang lalu, sedangkan yang ia tahu perusahaan Alex hanya menyimpan dokumen penting paling lama 10 tahun yang lalu.
Hanum mendorong semua berkas dan kardus coklat itu ke tengah meja. Ia merasa kesal sudah dibohongi untuk mengerjakan tugas yang ternyata tidak ada gunanya.
Hanum merapikan kembali semua berkas di atas meja lalu ia masukan ke dalam kardus, tanpa berniat menyusunnya. Hanum menunggu Alex sambil duduk di sofa dengan tangan terlipat di dada dan wajah merengut.
Setengah jam kemudian Alex kembali masuk ruangan setelah menyelesaikan rapatnya dalam waktu yang singkat.
"Sudah selesai?" tanya Alex seraya melirik meja besar di sudut ruangan.
"Selesai apa? menyusun berkas yang akan dihancurkan?" sindir Hanum. Ia tahu kemana berkas-berkas itu akan dibawa kalau bukan untuk dimusnahkan menggunakan mesin penghancur kertas.
"Eemm ... ini aja kamu bantu ngetik hasil rapat, mau?" tawar Alex.
"Ga mau itu kerjaan Cimoy," tolak Hanum.
"Aku di sini itu mau disuruh apa sebenarnya?" keluh Hanum, "Kalo ga ada yang perlu dibantu, aku pergi dulu." Hanum berdiri dari duduknya dan mengambil tasnya.
"Sebentar, Num!" tahan Alex saat Hanum hendak berjalan keluar ruangan.
Tepat saat itu pintu terbuka dan Ane muncul dengan pakaian seksinya, "Haaaii, Aaall," sapanya ceria.
Hanum yang sudah sampai di ambang pintu, kembali lagi masuk ke dalam ruangan. Ia merasa miliknya terancam direbut.
"Ga jadi pergi, Num? Kamu pergi aja, Alex biar makan siang sama aku," ucap Ane tak suka.
"Ga perlu repot-repot, suami saya sudah saya bawakan makan siang, dan kita mau makan bersama, benar begitu sayang?" ucap Hanum dengan menekankan kata sayang dan suami. Alex mengangguk cepat saat Hanum memandangnya.
"Aalll, kamu sudah janji mau kasih aku kesempatan jugaaa. inget loh, Al aku calon istrimu yang sebenarnya bukan dia," protes Ane sambil berjalan mendekat dan mulai merangkul lengan Alex seperti yang biasa ia lakukan.
"Hei! jangan gatel jadi perempuan!" seru Hanum seraya mendorong tubuh Ane hingga jatuh terjengkang.
Ane yang saat itu memakai baju yang ketat dan sepatu berhak tinggi tidak siap menghadapi serangan Hanum.
"Dasar perempuan bar-bar! kamu itu yang gatel, ga tau malu! kamu yang merebut calon suamiku!" Ane berteriak histeris.
"Num, jangan kasar!" seru Alex. Ia berjongkok membantu Ane yang kesulitan berdiri karena pakaian ketatnya. Ane memanfaatkan situasi itu dengan melingkarkan lengannya ke leher Alex.
Hanum mundur selangkah saat mendengar Alex bersuara agak keras padanya.
"Aall, sakit," rengek Ane seraya mengusap pan*tatnya yang terhantam lantai.
"Maaf. Aku memang salah," ucap Hanum lirih. Di kepalanya terngiang-ngiang ucapan Cimoy dan Ane.
Ia merasa bahwa memang benar posisinya yang salah, merebut posisi Ane. Apa bedanya ia dengan seorang pelakor? Alex juga sepertinya tidak seberapa peduli, siapa yang menjadi istrinya. Benar kata Ane, jika ia diberi kesempatan yang sama, pasti Ane jauh lebih di cintai ketimbang dirinya.
Mungkin tempatnya bukan di sisi Alex, tapi di depan kamera. Hanum menemukan sisi hidupnya yang baru, alasan yang kuat untuk tetap bertahan di kota ini meski tak ada Alex lagi yang akan mendampinginya.
"Mas, maaf aku ga bisa temenin makan siang, aku ada pengambilan gambar siang ini," ucap Hanum pelan.
"Kamu tetap di sini sampai aku mengijinkan kamu keluar dari ruangan," ucap Alex tegas.
...❤❤...
Follow IG : Ave_aveeii
Jangan lupa yaa 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰