
Hanum duduk bersandar di tepi ranjang dengan wajah cemberut kesal. Ia merasa jengkel pada suaminya yang tidak mau mendengarkannya untuk memakai pengaman, malah asyik sendiri menikmati setiap inci tubuhnya.
"Kenapa belum tidur?" tanya Alex seraya membuka matanya yang sudah terasa berat. Pekerjaan malam ini sungguh sangat melelahkan, dibanding harus berkutat dengan rapat, proyek dan sederet pertemuan.
Hanum melirik kesal pada suaminya yang sudah bersiap tidur tanpa rasa bersalah telah mempertemukan kecebong kecil dengan sel telur miliknya tanpa peduli bagaimana nanti kedepannya.
"Besok kita harus berangkat pagi biar pulangnya ga kemalaman," ujar Alex seraya menutup mata kembali. Tubuhnya ia biarkan polos hanya tertutup sebatas perut ke bawah.
Hanum melingkarkan selimut pada tubuhnya yang juga tidak mengenakan apapun, lalu berdiri dari atas ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
"Heeii, selimutnya jangan dibawa," seru Alex panik saat tubuhnya yang tanpa selembar benang pun, terpampang nyata karena kain penutupnya sudah ditarik oleh Hanum.
Hanum terus melangkah ke arah kamar mandi berpura-pura tidak mendengar suara teriakan Alex. Dalam hatinya ia terkikik puas saat suaminya itu panik mencari bantal untuk menutup aset pentingnya.
Setelah membasuh tubuhnya, Hanum keluar dari kamar mandi dan mendapati Alex sudah terlelap dengan wajah yang damai.
Hanum memandangi wajah suaminya lekat. Pria ini yang sejak ia sekolah, menjadi motivasi dan penyemangatnya agar cepat menyelesaikan sekolahnya.
Tujuannya apa mengejar Alex juga ia sama sekali tidak punya rencana apapun, yang ia tahu dan inginkan adalah hanya menatapnya secara dekat dan bersama dengan pria yang sudah mencuri hatinya.
Namun saat ia sudah berhasil berada dengan pria itu hampir 24 jam, mengapa rasanya hatinya yang sudah dicuri dulu ingin diikhlaskan saja.
Hanum naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping suaminya. Ia memiringkan badannya menghadap suaminya yang sedang mendengkur halus.
Hanum tersenyum kecil melihat wajah polos Alex. Jika seperti ini, suaminya itu layaknya pria biasa yang terlihat santai dan tanpa beban. Sangat jauh berbeda dengan kesehariannya yang susah tersenyum dan selalu tegang seolah menyimpan beban berat.
Perlahan Hanum menyentuh pipi Alex yang tadi ia kecup. Ia menyentuhnya dengan lembut seakan takut jika suaminya itu akan terganggu tidurnya.
Rasa kagum saat ia masih sekolah dulu, masih ada bahkan rasa itu sudah berkembang menjadi rasa sayang dan memiliki. Namun Hanum masih merasa ada yang kurang dari hubungan ini.
Baru saja akan terlelap, ia dikejutkan dengan munculnya selipan tangan yang melingkar di perutnya. Saat Hanum beringsut menjauh lengan besar itu semakin membelitnya. Dari pada ia mati dalam tidurnya karena sesak nafas, akhirnya lebih baik ia mengalah dan membiarkan Alex menyelipkan kepala di tengkuknya.
...❤...
"Selamat pagi, Ma, Jo," sapa Alex dengan senyum yang melebar. "Papa di mana?" tanyanya saat melihat Mamanya duduk sendirian.
"Pagi juga, Jo. Papamu jemput tamu di bandara," ucap Mama seraya tersenyum lebar melihat putranya yang bahagia.
Alex melirik adiknya sebal. Jonathan terus tersenyum seakan mengejeknya.
"Ada apa?" Akhirnya Alex bertanya di puncak kekesalannya.
"Semalam seru, kayaknya Kak Alex yang menang ya?" tanya Jonathan penuh arti.
"Menang apa sih?" Tubuh Alex menegang.
"Aahhh, masak harus dijelaskan di sini. Saran aja beli peredam ruangan yang bagus ya," ucap Jonathan seraya berbisik.
...❤❤...
Lanjut lagi sore yaa
Mampir di sini dulu yuk karya teman sesama author