CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Pasutri


"Masih marah?" Alex melirik Hanum yang masih tertunduk memandangi ponselnya. Istrinya itu sejak sore tadi, sama sekali tidak mau mengeluarkan suara.


Dan itu hanya saat dengannya, kalau dengan yang lain senyum cerahnya langsung terkembang. Begitu menoleh lagi ke arahnya, wajah Hanum seolah di program kembali ke raut suram dengan tatapan datar.


Semua ini gara-gara bocah manja yang tidak ada angin tidak ada badai, mengatakan hal yang tidak penting. Sudah tahu masa-masa awal pernikahan mereka ada kata-kata tabu yang pantang diucapkan diantara keduanya, malah diucapkan dengan penambahan kalimat provokasi di dalamnya.


Hanum yang beberapa hari terakhir begitu manis dan perhatian padanya, dalam satu detik berubah menjadi kucing oren yang siap mencakar jika ia mendekat.


Untung sofa itu yang ia tiduri itu empuk. Saat Hanum marah dan tiba-tiba langsung berdiri karena bisikan adiknya yang sirik, kepalanya yang terhempas di kursi masih aman, tapi cukup membuat nyeri pada bekas jahitan di dada.


"Nuum, Hanuuum." Alex menjawil siku Hanum, mencoba menggoda istrinya.


"Kenapa?" Hanum menoleh dan memandang suaminya masih dengan tatapan kesal.


"Sepi ... ngobrol yuk." Alex memberikan senyuman terbaiknya.


"Mau ngomong apa? ow, mau bilang nyesel, baru sadar dan inget pas Jo bilang tadi?"


"Mana ada seperti itu. Kamu kok omongan Jonathan diambil hati. Sudah tahu dia anaknya sep---"


"Iya, aku tau kok Jonathan seperti apa, usil memang anaknya, tapi apa yang dia bilang memang bener pernah terjadi 'kan?" Hanum masih bersikukuh.


Alex hanya diam seakan sudah kehabisan kata-kata. Ia sungguh tidak mengerti mengapa wanita selalu mencari-cari permasalahan di saat situasi sedang tenang.


"Tuh, kan ga bisa jawab," tuduh Hanum semakin kesal melihat Alex yang hanya diam tidak membantah perkataannya.


"Mas Alex pasti nahan bau kalo kita lagi deketan seperti ini," ujar Hanum sedih sembari mencium-cium ketiaknya.


"Kamu wangi kok." Alex mulai menggeser tubuhnya lebih dekat.


"Ga usah belagak menghibur, aku tahu diri kok." Hanum mulai menitikkan air mata.


Alex tetap berusaha tenang. Ia menarik nafas panjang dan dalam, lalu memegang dagu Hanum dan mengarahkan kepala istrinya itu menghadap ke arahnya


"Beneran, kamu wangi. Mungkin kalau dulu kamu katanya bau badan, muka jerawatan, kusam karena kamu ga sempat dan ga punya biaya lebih untuk merawat tubuh. Tapi usahamu selama ini berhasil kan?"


"Jadi dulu mas Alex beneran jijik dekat aku?"


"Apa yang aku bilang dulu sama kamu mungkin buat kamu sakit hati. Aku minta maaf, tapi sejujurnya aku bersikap seolah menolakmu itu karena, aku ga suka kalau seorang wanita yang mengejar-ngejar pria."


"Siapapun itu Hanum, bukan hanya kamu. Aku tidak nyaman jika ada wanita yang sibuk menarik perhatianku secara berlebihan."


"Jadi jangan punya pikiran aku tidak suka karena kamu jelek, bau, gendut. Bukan sama sekali, kalaupun kamu secara fisik tetap sama seperti dulu kita bertemu ... aku tetap cinta."


"Jadi mas Alex bisa suka sama aku dari mananya kalau sebelum ini benci gara-gara aku sukanya ngejar-ngejar."


...🤍❤...