
Jonathan masih terpaku di sisi ranjang. Gairahnya yang masih meninggi membuatnya tak berani banyak bergerak. Diliriknya istrinya yang sekujur tubuhnya terutup oleh selimut tebal. Ia tahu Jamilah pun tidak mau masa itu datang di saat ini, lalu lewat manakah ia harus menyalurkan hasrat yang sudah terlanjur sampai di ubun-ubun itu?
Setelah sedikit agak tenang, Jonathan membaringkan tubuhnya di sisi Jamilah. Keduanya saling memunggungi tanpa suara.
"Maaf," cicit Jamilah lirih."
"Ga apa-apa, aku mengerti. Darah yang keluar juga ga bisa kamu tahan seperti pipis 'kan?" Jonathan mencoba tertawa, tapi yang terdengar seperti ringisan menyedihkan.
"Mas Jo ga marah?" Jonathan terkesiap saat tangan lembut Jamilah menyentuh pundaknya.
"Milaaah, turunkan tanganmu. Kalau aku khilaf, bisa bahaya untuk kamu." Jonathan bergidik merasakan bulu tengkuknya meremang.
"Maaf," ulang Jamilah. Ia menarik tangannya dan memutar kembali tubuhnya memunggungi suaminya. Niat hati menghibur ternyata semakin membuat suaminya tersiksa. Baru ini ia menyadari, bahwa niat baik hubungan intim di malam pertama pernikahan tak selamanya mendatangkan keindahan jika situasinya seperti mereka berdua.
Keduanya tertidur setelah berusaha memejamkan mata dan menahan hasrat yang siap meledak. Jonathan berulangkali terbangun ketika tangan atau kakinya tak sengaja menyentuh tubuh istrinya. Alhasil ia terbangun dengan mata sayu dan sekujur tubuh yang pegal.
"Mentang-mentang pengantin baru, maunya bangun siang," ledek Papanya saat Jonathan menarik kursi untuk sarapan.
Jonathan enggan menanggapi kalimat Papanya yang berusaha memancing reaksinya. Diliriknya Jamilah yang berada di dapur bersama Mamanya. Sepertinya istrinya itu bernasib sama dengannya. Jamilah berulangkali tersenyum malu ketika Mamanya seperti menggodanya.
"Naah, ini suamimu sudah keluar kamar, Milah," panggil Mamanya dengan nada yang menggoda.
Jonathan menggaruk-garuk kepalanya gerah melihat tingkah laku kedua orangtuanya. Ia menyesal sudah menolak hadiah voucher menginap di hotel berbintang dari Papi Raymond. Jamilah keluar dari dalam dapur dengan secangkir teh hangat untuk suaminya.
"Harusnya kamu kasih kopi, Milah. Dia mungkin butuh kafein biar ga ngantuk karena tadi malam pasti kurang tidur, benar 'kan? Coba lihat matamu itu, Jo kelihatan capek sekali." Papa terkekeh senang mendengar ledekannya sendiri.
Memang benar kurang tidur, tapi bukan karena itu. Tapi takut hilang kendali dan bergerak di bawah alam sadar, bisa gawat. Batin Jonathan sedih. Ia masih enggan menanggapi, Jonathan hanga ikut tertawa garing dan berharap Papa serta Mamanya berhenti menggoda dirinya dan Jamilah.
"Tapi enak, to?" Bukannya berhenti, Papanya malah melontarkan ledekan yang lebih berbahaya.
"Paaa ...." Teguran Mama sama sekali tidak menolong, bahkan semakin menambah panas suasana karena diucapkan dengan senyuman geli.
Jonathan mengusap tengkuknya yang terasa pegal. Ia tidak habis pikir, mengapa semakin bertambah usia kedua orangtuanya itu semakin kekanakan.
"Ya jelas enak to, kalau ga enak ga mungkin sampai pagi sampai matamu merah gitu." Bagian bawah tubuh Jonathan mulai menggeliat seolah bertanya seperti apa rasa enak yang dimaksudkan oleh Papanya.
"Milah, jangan kapok dan takut ya. Awal itu selalu ga enak, semua wanita pasti mengalami sakit katanya. Tuh, tanya Mama." Papa menunjuk kearah Mama yang tersenyum tersipu.
"Paaa! Pelase stop." Jonathan mengusap wajahnya kasar. Penampilannya semakin tak karuan. Jamilah tak berani mengangkat kepalanya dari piring dihadapannya. Rasa bersalah semakin menyergapnya.
"Loh, kenapa? Belum berhasil ya?" Papa berbisik tapi cukup keras untuk di dengar oleh Mama dan Jamilah, "Biasa itu, namanya pemula. Lama-lama jadi mahir seperti Papa, meski sudah berumur tapi masih hot," ujar Papa sembari mengerlingkan mata ke arah Mama.
Jonathan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tak mampu lagi menghadapi godaan pagi ini. Siksaan batin rupanya tak berhenti sampai sana. Alex dan istrinya yang ambyar kalau berbicara, keluar dari kamar bergandengan tangan dengan mesranya.
Keduanya terus bertukar senyum sampai duduk di bangku meja makan. Seperti dunia milik berdua, Alex dan Hanum saling melirik, mencubit dan tersipu. Rambut keduanya yang basah jelas memperlihatkan jika sesuatu tengah terjadi sesaat sebelum mereka keluar dari kamar.
"Haai, Jo, Milah gimana semalam?" sapa Hanum ceria. Ia lupa jika semalam adik iparnya meminta pembalut padanya.
"Baik," ucap Jamilah memwakili.
"Mmm, gimana ra ... Uuppss!" Hanum menutup spontan mulutnya.
"Kenapa, Num?" tanya Mertuanya.
Jonathan dan Jamilah melongo mendengar istri Alex mengatakan hal tabu semacam itu dengan santainya, di tengah meja makan dan di depan kedua orangtuanya.
"Astagaaa, kasihannya kamu Jo," ujar Papa spontan.
"Ya ampun, maaf Mama ga tahu," ucap Mamanya sembari menggenggam tangan Jonathan. Ingin rasanya ia tenggelam sampai ke dasar bumi.
"Maa, please biasa aja." Jonathan perlahan melepaskan tangan Mamanya. Ia tahu Mamanya berniat menghiburnya, tapi yang ia rasakan malah memalukan dan menjatuhkan harga dirinya di depan istrinya.
"Jangan khawatir, Jo katanya kalau wanita yang haid saat malam pertama bisa cepat hamil," lanjut Mama.
"Iyaa ... Iyaa," timpal Jonathan cepat. Ia sudah gerah dengan situasi di pagi hari ini.
Terlebih tontonan yang disajikan sepasang insan yang sedang dimabuk asmara dihadapannya, sungguh mengesalkan.
Jonathan memasang tatapan mengerikan yang ia arahkan pada kakak dan iparnya. Berharap keduanya sadar jika ada yang tidak nyaman dengan kelakuan mereka berdua.
"Kenapa?" tanya Alex di sela-sela tawanya karena suapan istrinya yang meleset dari bibirnya. Jonathan hanya diam, tidak mungkin ia mengatakan 'please jangan pamer kemesraan di depanku, aku juga pingin tapi tak bisa'
"Mmm, sabar ya, Jo semua ada masanya," ujar Hanum sok berpetuah puitis.
"Pa, Ma ...." Jonathan mengalihkan pandangannya ke arah kedua orangtuanya yang tidak jauh berbeda dengan kakaknya. Kedua pasang itu saling bertukar senyum simpul malu-malu seperti insan yang baru jatuh cinta.
'Siapa pengantin lawas, siapa pengantin baru di sini!' keluh Jonathan.
"Kenapa, Jo?" tanya Mama tanpa menghilangkan senyum dari bibirnya.
"Aku dan Milah pindah ke apartement ya malam ini?"
"Loh?" Semua terkejut dan menaruh perhatian padanya termasuk gadis yang berstatus istri disampingnya.
"Kenapa, Jo? Kamu ga suka tinggal di sini?" Senyum Mama menghilang berganti kekecewaan.
"Suka, tapi kita mau mandiri." Jonathan menggenggam tangan istrinya dan memberi kode dengan matanya. Jamilah merespon dengan mengeratkan genggaman tangannya. Wanita itu mengangguk menyetujui keputusan suaminya. Rupanya ia juga gerah berhadapan dengan dua pasang manusia ajaib dalam keluarga barunya.
"Ya sudah, Papa sih setuju saja. Anak mau mandiri ya bagus dong, Ma jangan ditahan. Pindah juga masih satu kota, masih bisa sering mampir ke rumah."
"Kita juga, ya Mas. Pindah rumah atau apartment juga boleh." Hanum menggoyang-goyangkan tangan Alex dengan antusias.
"Untuk kamu ga boleh!"
"Tapi, Maaa ..." Hanum merengek mendengar keputusan sepihak Mama. Ia melirik suaminya yang diam tak bisa berbuat apa-apa.
"Hanum harus tinggal di sini temani Mama. Titik," ujar Mama tanpa bisa dibantah.
"Duuhhh, sabar ya akak ipar, semua ada masanya," balas Jonathan dengan seringai licik di wajahnya.
...❤️🤍...
Hai reader terchayaaang mau tamat niiii. Mungkin ada request cerita tentang mereka, atau ada yang terlewat aku lupa ceritakan? Silahkan komen ya
Maaf luamaaaaa banyak bolosnya 🙏🙏