
Namun ia berusaha menyingkirkan segala prasangkanya, karena saat ini yang menjadi fokusnya adalah bagaimana bisa secepatnya bertemu dengan Ibu Anita dan adik-adiknya.
Saat menunggu taxi online, panggilan di ponselnya berdering. Nama Alex ada di sana, dan Hanum bisa bernafas dengan lega karena suaminya itu tidak menggunakan fitur panggilan video.
"Ya, Mas?"
"Kamu di mana? Mbok Jum bilang aku berangkat kerja, ga lama kamu ikut keluar dari rumah." Alex mengejarnya dengan pertanyaan.
"Pengambilan gambar iklan," sahut Hanum cepat. Memang benar jika ia ada jadwal pengambilan gambar hari ini, tapi siang bukan sepagi ini.
Terdengar tarikan nafas panjang Alex di seberang sana, "Sampai kapan sih kamu jadi brand ambassador produk itu?"
"Kontrak lima tahun," ucapnya pelan.
"Batalkan setelah acara grand launching produk itu," tandas Alex seolah tidak bisa dibantah lagi.
"Mana bisa seperti itu. Namanya ga profesional kalau aku seperti itu, belum lagi dendanya kalau kontrak dibatalkan secara sepihak," ujar Hanum mengelak.
"Ga ada masalah kalau soal denda, berapapun aku bayar. Kalau soal profesional, kamu memang bukan berprofesi sebagai artis yang harus dituntut profesional," sahut Alex.
"Siapa bilang aku ga mau jadi artis profesional. Aku mau dan aku pingin!" Jika tidak mengingat tujuan awalnya, Hanum pasti akan menyetujui permintaan suaminya tanpa membantah, karena baginya hidup bahagia bersama Alex sudah lebih dari cukup.
"Kamu---"
"Aku jalan dulu, taxi online pesananku sudah sampai." Hanum memutus sambungan telepon secara sepihak. Hanum menarik nafas panjang, berdebat dengan Alex tanpa ia inginkan membuat jantungnya berdegup sangat kencang.
...❤...
Hanum mengamati sosok Arthur dari kejauhan. Ketampanan Arthur berbeda dengan Alex. Jika suaminya itu selalu berpenampilan formal, terkesan dingin dan sulit digapai, Arthur lebih senang berpenampilan casual saat bekerja.
Sangat sesuai dengan dunia kerjanya yang menuntutnya harus selalu aktif bergerak. Selain itu, Arthur seorang pribadi yang mempunyai pembawan hangat dan ramah pada siapapun.
Hanum menggelengkan kepala dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kenapa aku jadi membandingkan mereka?!
"Kenapa?" Hanum terlonjak saat wajah Arthur berada tepat di depan mukanya.
"Duh, Mas Arthur bikin kaget aja." Hanum mengusap-usap dadanya.
"Hehehe, kamu sih dari tadi melamun terus. Ada masalah?"
"Ga ada." Hanum menggelengkan kepala, tapi di dalam hatinya ia menganggukan kepala dan menjerit kencang. Yaa aku punya masalah, tolong aku!
Hanum meringis, belum saja ia menjalankan siasat yang disarankan oleh Ane tapi mengapa situasinya seperti ia sudah berselingkuh?
"Ga dijemput?" tanya Arthur yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.
"Ga. Lagi pesen taxi online," ujarnya.
"Ga bawa kendaraan sendiri?" Hanum menggelengkan kepala. Ia memang belum diberikan ijin untuk membawa kendaraan sendiri oleh Alex, dengan alasan menyetir sendiri di kota besar akan sangat melelahkan karena jarak tempuh yang sangat jauh.
"Udah mau hujan, aku antar?" tawar Arthur seraya menunjuk ke atas langit.
Hanum mengikuti arah pandang Arthur, di atas memang sudah tampak gelap walau jarum jam masih menunjukkan angka empat sore. Aplikasi taxi online-nya juga sedari tadi tidak ada yang mau menerima pesanannya, bahkan beberapa kali di tolak.
"Ayo," ajak Arthur yang sudah beberapa langkah di depannya.
Mungkin ini saatnya. Hanum memantapkan dalam hati lalu mengikuti langkah Arthur dari belakang.
...❤❤...
Follow
IG : Ave_aveeii
Halaman FB : Cerita Aveeii
Jangan lupa yaa 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰