
Hanum meringis melihat senyum lebar di wajah Alex, benar-benar seperti anak kecil yang keluar dari taman bermain.
Tangan Alex yang bebas mengusap perut Hanum, "Rewel ga? maaf ya aku ga bisa ikut anter kamu periksa, padahal aku sudah pingin sekali lihat dia." Wajahnya kembali muram.
"Makanya makan sama minum obat yang teratur, biar bisa anter istri periksa ke dokter." Mama masuk bersama seorang perawat yang membawa nampan berisi air minum, dan beberapa kapsul dan tablet.
Hanum dan Alex yang sedang berpegangan tangan, spontan melepas tautan keduanya.
"Ngapain pake dilepas segala. Mama sama suster juga sudah lihat semuanya dari tadi."
"Mama lihat apaan?" Hanum tertawa kikuk.
"Semuanya lengkap session satu sampe session dua," sahut Mama ringan diiringi tawa kecil dari perawat.
Hanum langsung membelalakan matanya, tapi tetap menunduk malu. Sedangkan pria yang terbaring sakit itu seperti biasa jika ada orang lain di antara mereka, raut wajahnya selalu kembali ke setelan awal pabrik, datar dan tanpa ekspresi. Terkadang Hanum heran, bagaimana suaminya itu dapat menyembunyikan perasaan di balik ketenangannya.
"Ada kabar dari Papamu, rencana penangkapan Om Eko akan di laksanakan siang ini. Kita doakan semoga berhasil," jelas Mama tak memedulikan Hanum yang terus memunggunginya karena salah tingkah.
...❤...
Pak Eko meremas ponsel di tangannya, dari kemarin ia sama sekali tidak dapat menghubungi seorang pun yang berjaga di rumah susun.
"Kemana mereka semua!"
"Om sudah suruh orang kesana?" tanya Ane dengan suara yang manja.
"Tiap kali aku mengutus seorang kesana, selalu tidak ada kabar selanjutnya. Aku jadi khawatir." Pak Eko terlihat tidak tenang.
"Santai aja, Om. Paling juga mereka asik main, yang penting sebentar lagi rencana kita berhasiiiiil." Ane bersorak gembira sembari merangkul leher Pak Eko dari arah belakang.
"Benar sayang, ide kamu memang pintar. Sebentar lagi Alex dalam kekuasaanmu, apa yang kamu bilang, pasti dia ikuti. Kamu memang bikin, Om gemes." Pak Eko mengecup dan menggigit pipi Ane.
"Iiiih, Om saakiit." Ane berputar dan duduk di pangkuan Pak Eko, "Tapi Om janji ya, kalau aku nanti sudah nikah sama Alex, uang saku harus tetap lancar," ucap Ane sembari bergerak-gerak di pangkuan Pak Eko.
"Mana bisa, Ane lupa sama Om. Goyangan Om yang paling bikin Ane ga bisa lupa," sahut Ane genit.
"Kamu tuh paling bisaaa bikin Om senang ...." Pak Eko tak bisa meneruskan kalimatnya, karena lidah Ane sudah membelit di dalam mulutnya.
Ketukan di pintu memaksa keduanya berhenti saling menikmati.
Ane dengan wajah cemberut turun dari pangkuan Pak Eko. Ia membetulkan baju bagian atasnya yang sudah separuh terbuka, lalu duduk di sofa tamu. Sedangkan Pak Eko menarik resleting celananya dan merapikan rambutnya yang sudah hampir memutih seluruhnya.
"Tunggu ya sayang nanti kita lanjutkan lagi, barangkali ini Pak Beni yang datang." Pak Eko mencubit dagu Ane.
Pak Eko membuka pintu dengan remote dari tempat duduknya, dari balik pintu sekretarisnya mempersilahkan Pak Beni dan seorang pria berjaket kulit untuk masuk.
"Selamat siang, Pak Eko. Apa saya mengganggu?" sapa Pak Beni begitu masuk ke dalam ruang kerja Pak Eko.
"Selamat siang, Pak Beni. Tentu tidak mengganggu, justru saya sedang menunggu kedatangan Pak Beni siang ini," ujar Pak Eko dengan semangat.
"Maaf saya agak terlambat, karena masih menunggu kabar dari orang yang membantu saya mencari anak-anak panti," ucap Pak Beni dengan raut wajah sedih.
"Untuk hal itu saya minta maaf, Pak Beni. Seharusnya team saya lebih pagi datang ke panti, jadi saat mereka keluar ada yang menahannya," sahut Pak Eko dengan wajah yang tak kalah sedihnya.
"Tidak apa Pak Eko, sudah ada yang menangani untuk hal itu."
"Benar-benar, lebih baik kita bicarakan tentang anak-anak kita. Pak Beni kemarin info, Alex akan menceraikan wanita kampung itu dan segera akan menikahi keponakan saya, benar begitu?" Wajah Pak Eko seketika berubah ceria dan bersemangat.
...❤❤...
Mampir di sini juga yaa