
Pesta pernikahan yang terlambat sedang digelar. Musik berdentum kencang mulai dari yang tempo slow sampai yang hingar bingar memenuhi ballroom Hotel HideAway .
Semua nampak larut dalam kegembiraan, hanya satu orang yang terlihat susah untuk membaur dan tersenyum. Jonathan memilih menjauh dari lingkungan keluarganya. Ia lelah harus memaksa bibirnya untuk selalu menebar senyum. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan klise yang berulang kali dilontarkan.
Jonathan mengambil minuman dari nampan seorang pelayan yang lewat di depannya, lalu berjalan ke arah balkon. Ia menyepi cukup lama di sana, menyesap sedikit demi sedikit minumannya, sembari memandang keramaian kota dari lantai tujuh hotel milik keluarganya itu.
"Jo!, ayooo." William menarik tangannya.
"Apaan?" Jonathan kembali menarik tangannya.
"Di panggil Mama kamu, sebentar lagi acara lempar bunga." William bersikukuh menarik kembali tangan Jonathan.
"Lempar bunga apaan, lebih enak lempar kamu dari lantai tujuh ini." Jonathan berjalan menjauh.
"Jangan gitu lah, Jo. Semua di suruh ngumpul, kamu kan keluarga inti adik cowok satu-satunya masak ga nongol. Nyenengin kakak sendiri di waktu bahagianya 'kan pahala, Jo."
"Tradisi lempar bunga supaya bisa nyusul naik ke pelaminan 'kan? lah aku pasangan aja ga punya, mau naik sama siapa? Mbok Jum?? Aah, mitos itu!" Jonathan mengibaskan tangannya.
"Emang mitos, namanya juga untuk seru-seruan. Siapa tahu pulang dari sini kamu ketemu sama bidadari besok langsung nikah."
"Ga tertarik, kamu aja rebut tuh bunga. Kayaknya kamu yang sudah ngebet naik ranjang."
"Ngaco aja, masih panjang urusanku. Ayolah, cuman berdiri aja ga usah ikut berebut. Biar aja cewek-cewek yang rebutan, kita cuman berdiri jadi pemanis barisan." William pantang menyerah membujuk sahabat sekaligus kerabat jauhnya itu.
"Haaiiss, malu-maluin tauk main gituan." Jonathan akhirnya menyerah. Setengah diseret ia mengikuti langkah William masuk ke dalam ballroom.
"Siap para jomblowers???" Pembawa acara berteriak penuh semangat. William mendorong Jonathan masuk ke dalam barisan.
Para wanita berebut untuk menempati barisan paling depan. Jonathan hanya menyengir saat bertemu dengan beberapa karyawannya yang masih lajang.
"Eh, ada Pak Jo. Deket-deket saya, Pak siapa tahu kita berdua dapetnya bersamaan. Bisa naik pelaminan sama-sama juga," ujar Cimoy genit.
"Boleh, naik pelaminan sama-sama. Kamu yang bagian angkat kursi saya."
"Iiihh, Bapak doyannya bercanda aja." Cimoy menepuk bahu Jonathan tanpa rasa segan.
Malas meladeni Cimoy yang sengaja menarik perhatian, Jonathan memilih menjauh berdiri paling ujung belakang barisan para lajang yang bersiap memperebutkan bouquet bunga yang akan dilempar Hanum dan Alex dari atas pelaminan.
"Siapa yang sudah pingin menyusul naik ke atas pelaminan seperti sepasang mempelai ini??!" Pembawa acara mulai membakar suasana. Di bawah panggung, para gadis berteriak-teriak dengan semangat.
Jonathan menggelengkan kepala melihat antusias saudara, kerabat dan karyawannya yang masih belum ada pasangan. Sudah pada mengerti jika itu hanyalah mitos, tapi tetap bisa memeriahkan suasana.
Setidaknya bisa menjadi doa bagi yang benar-benar ingin segera menikah untuk ibadah, tapi tidak bagi Jonathan. Saat ini untuk urusan pasangan, cinta dan pernikahan adalah hal yang tabu untuk dibicarakan.
"Oke, siap-siap yaaa. Pak Alex dan Nyonya balik badan dulu, biar adil yang dapat." Pembawa acara mengarahkan posisi Alex dan Hanum.
"Siaaappp?? satuuu ... duaaaa ... semoga yang mendapat bunga ini disegerakan mendapat jodoh dan menikaahhh ... tigaaaa ... lempaaarrr!"
...❤🤍...