
Hanum segera mengganti dasternya dengan kaos oblong dan celana tidurnya yang panjang. Rambutnya yang kering mengembang, ia gulung tinggi menyerupai ujung monas di puncak kepala.
Setelah yakin dengan penampilannya, ia segera keluar rumah karena tidak ingin ketinggalan senam pemanasan.
Sampai di teras langkah Hanum terhenti, “Aahh, aku kan ga punya sepatu olah raga,” ucapnya sedih. Ia lantas kembali berlari masuk ke dalam kamar, dan membongkar tas yang ia bawa dari tempat kos. Hanum ingat, jika ia sempat membawa sepatu sekolahnya saat SMU dulu.
“Pakai ini aja, sama-sama sepatu juga.” Hanum mengenakan sepatu hitam sekolahnya yang sudah sedikit sobek di bagian ujungnya, tanpa mengenakan kaus kaki.
Hanum segera berlari ke luar rumah, saat sudah terdengar panggilan untuk bersiap dari arah taman. Ternyata sudah banyak orang yang berkumpul di tengah taman dan sedang melakukan pemanasan.
Kebanyakan dari mereka terdiri dari ibu-ibu rumah tangga dan para wanita muda yang sepertinya masih lajang.
Hanum memilih barisan paling belakang yang agak tersembunyi. Ia sedikit tidak percaya diri dengan pakaian yang ia kenakan.
Para wanita di sekelilingnya meskipun usia sudah tidak muda lagi, namun mereka masih tampak modis dan menarik. Sedangkan ia yang masih sangat muda, untuk dilirik saja mungkin orang enggan.
“Hai? Orang baru ya?” sapa seorang wanita yang berdiri di sisinya. Hanum hanya menganggukan kepala.
“Kerja di rumah yang mana?” tanyanya lagi dengan pandangan menyelidik dan sedikit sinis.
“Hah?” Sudah dipastikan ada kesalahpahaman dari wanita itu. Untuk kesekian kalinya, ia dianggap sebagai pekerja rumah tangga.
“Rumah paling ujung,” jawabnya asal, lalu beringsut menjauh dengan alasan mau menemui teman.
Memangnya kenapa kalo aku hanya pekerja rumah tangga? Pekerja rumah tangga juga boleh kan ikut senam di sini? Kalo aku benar pekerja rumah tangga keluarganya Alex sekalipun, aku juga punya hak dong tampil seksi. Ga cuman situ yang bisa! Hanum terus menggerutu dalam hati.
Senam sudah dimulai, Hanum benar-benar serius mengikuti semua gerakan dari sang instruktur. Walaupun gerakannya tergolong sulit baginya karena ia baru kali ini mengikuti senam aerobik, namun Hanum tetap semangat karena wajah Alex yang akan memujinya terbayang di benaknya.
Selang beberapa menit setelah melewati beberapa sesi dan saat masuk waktu rehat, para wanita baik yang masih lajang maupun yang sudah berkeluarga tampak berkumpul di salah satu sisi taman.
Mereka terlihat menyoraki seseorang.
“Aahhh, ganteng bangett."
“OMG dadanya pelukable."
“Punggungnya dong lihat, sandarable jugaaa."
"Masss, aku usapin keringatnya bolehh??" seru salah seorang wanita dengan nada menggoda.
Hanum mendekati kerumunan para wanita itu, dan berusaha memanjangkan leher untuk melihat siapa yang dibicarakan mereka.
Matanya terbelalak saat melihat Alex sedang meregangkan tubuh di bawah terik matahari.
Kaos tanpa lengan dan celana pendek setengah paha yang digunakan Alex, jelas memperlihatkan sisi tubuhnya yang selama ini tertutup setelan kemeja dan jas.
Otot lengan dan pa*hanya sangat nyata saat Alex mulai melakukan beberapa gerakan. Ia seakan tidak terganggu dengan sorakan dan tatapan lapar dari para wanita di sekitarnya.
Sesekali ia menebar senyuman kecil dan langsung disambut dengan sorakan gembira dari para wanita.
Peluhnya yang bercucuran dari kening meluncur turun ke arah tubuhnya, membuat kaos putih tanpa lengannya mencetak bentuk otot dada dan perutnya.
Mulut Hanum terbuka, tiap gerakan kecil Alex bagaikan slow motion yang diiringi lagu klasik di mata Hanum.
Itu suamiku ... indahnya.
Seorang wanita bertubuh indah dan berambut hitam panjang, mendekati Alex lalu menyodorkan sebotol minuman dingin dengan gayanya yang sensual.
Hanum tidak begitu mendengar apa yang wanita itu katakan, hanya gerakan tubuh wanita itu sungguh mengesalkan. Melenggak lenggokan tubuh, menyibak rambut dan ... mengusap keringat di kening Alex.
WHAT!! Beraninya dia!
Suaminya pun hanya menarik kecil sudut bibirnya, tanpa berniat untuk menghentikan wanita itu.
Para wanita di sekitar Hanum yang ikut menonton ikut berteriak menyoraki. Ada yang mendukung, ada pula yang tidak suka karena iri.
Usapan wanita itu semakin berani, tangannya terus turun mengusap dagu dan leher Alex yang terkena air dari tetesan botol minum.
Rasa memiliki, mengarahkan kaki Hanum lebih mendekati Alex dan wanita itu. Hanum semakin dekat hingga tanpa sadar, ia sudah berada di hadapan Alex dan wanita tak tahu malu itu.
Wanita itu menatap Hanum dari atas hingga kebawah, "Kenapa, Mba?" tanyanya. Hanum terdiam, ia bingung harus mengatakan apa.
Hatinya mengatakan Alex milikku, tapi kenyataan yang ia tahu Alex tidak mengakuinya.
"Mmm, Den ... Den Alex dipanggil ibu," ucap Hanum pelan dan tertunduk.
Alex menatapnya tajam, tanpa berbicara apapun ia berjalan pulang. Di pertengahan jalan ia berhenti dan menoleh ke arah Hanum dan berteriak, "APA YANG KAMU TUNGGU DI SANA?" Semua orang terkejut termasuk Hanum.
Hanum dengan cepat berlari mendekati Alex. Langkah Alex yang lebar membuat Hanum kewalahan mengikuti.
"Jangan pernah muncul tiba-tiba di hadapanku!" ujar Alex pelan dan tajam.
"Kamu cukup diam di rumah, dan jangan perlihatkan dirimu jika aku ada di rumah!"
"Aku tidak akan menceraikanmu meski ...." Alex tidak melanjutkan kalimatnya, ia hanya melirik Hanum dengan tatapan jijik.
"Asal kamu dengar semua perintahku tadi."
"Dan ingat, semua urusanku itu bukan urusanmu!" tegas Alex.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Alex terus memberondongnya dengan perintah yang diucapkannya secara ketus.
"Tapi ... tugas saya sebagai istri kan memang ngurusi suami," sahut Hanum.
Baru kali ini Alex mengajaknya berbicara panjang, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini.
"Istri?" Alex menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya menghadap Hanum.
"Aah, ya benar. Kamu istriku ... yang memaksa menjadi istri ... seorang penipu!" Alex menyeringai sinis.
Hanum terkesiap, ia baru melihat sisi menyeramkan dari pria yang sekarang sah menjadi suaminya. Selama ini yang ia tahu, Alex adalah pria pendiam yang irit berbicara.
"Saya memang bisa dibilang memaksakan situasi, tapi saya bukan penipu! kalo kamu menganggap saya penipu, ucapkan talak sekarang juga, dan laporkan saya ke polisi supaya kamu puas!" seru Hanum dengan suara tercekat.
"Saya memang akan menceraikanmu, ga mungkin kamu yang jadi istri saya selamanya. Memangnya apa yang kamu banggakan sama saya, selain minyak yang berlebih di wajahmu dan tumpukan lemak di tubuhmu?" Alex memandang Hanum, seolah ia tak lebih dari sekantong sampah yang siap dibuang.
Hanum mengeratkan rahangnya, ia sungguh terhina kali ini. Jika perkataan itu keluar dari mulut orang tua Alex, Jonathan ataupun karyawan di kantor, tentunya ia tidak akan ambil pusing. Namun kalimat menyakitkan itu keluar dari bibir seorang Alexander putra, suaminya.
"Alex!" Hanum berteriak memanggil suaminya saat pria itu sudah berbalik dan berjalan menjauh.
"Aku pastikan semua anak yang aku lahirkan nanti, akan memanggilmu Papa!" seru Hanum, lalu ia berlari cepat mendahului Alex.
...❤❤...
Semangat Hanum 💪
Haaii sekedar informasi, karya ini mengikuti event Mengubah takdir yang dimana tokoh utamanya di awal memang harus menderita dan menemukan titik balik untuk merubah dirinya. Jadi harap maklum ya jika Hanum menderita dulu, yuuk pembaca bantu Hanum membalas perlakuan Alex dan buat suaminya itu jadi klepek-klepek
Follow IG : Ave_aveeii
Jangan lupa yaa 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰