CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Masih berusaha


"Penasaraaan, Mbook." Hanum mengikuti langkah Mbok Jum hingga ke depan kompor.


"Ibu tanyain Mba Hanum tadi, kenapa kok sarapan di dapur," ucap Mbok Jum, seraya mengangkat tempe dari atas wajan.


"Alex nanyain juga ga, Mbok?" tanya Hanum antusias.


"Seperti biasa, Den Alex itu selalu diem."


"Oww," Suara Hanum terdengar kecewa.


"Ini bawa ke depan, sekalian tadi kan disuruh Ibu sarapan bareng." Mbok Jum menyerahkan piring berisi tempe goreng.


"Takuuut," rengek Hanum.


"Sama mertua dan suami sendiri kok takut, ayo." Mbok Jum mendorong tubuh Hanum hingga ke pintu dapur.


"Permisi," Hanum melebarkan senyum kakunya. Tangannya yang memegang piring sedikit bergetar. Semua mata memandangnya sekarang, hanya Akex yang seakan tidak peduli dia ada di sana.


"Saya kira kamu sudah kembali ke tempat kos mu," ucap Papa Alex setelah melirik Hanum sekilas.


"Ini tempenya." Hanum memilih tidak menjawab perkataan Papa Alex. Ia menaruh sepiring tempe dan akan kembali lagi ke dalam dapur.


"Mau ke mana kamu?" suara dingin yang ditunggu-tunggunya terdengar.


"Mau ke dapur," sahut Hanum ceria. Senyumnya terkembang sangat lebar memperlihatkan giginya yang tak rata.


"Teh saya habis, buatkan," perintah Alex tanpa mau memandangnya.


Secepat kilat Hanum kembali ke dapur menuangkan segelas teh hangat tawar, lalu kembali lagi ke ruang makan.


Saat meletakan segelas teh hangat untuk Alex, jantung Hanum bergetar. Posisi tubuhnya yang cukup dekat, membuat ia bisa mencium aroma parfum dari tubuh suaminya.


"Ngapain kamu masih di situ?!" sergah Alex saat menyadari Hanum masih berdiri di belakang kursinya, "Bikin ga naf*su makan aja," gerutunya pelan.


"Maaf." Hanum kembali lagi ke dalam dapur dengan kepala tertunduk. Hatinya sakit karena dianggap tak lebih dari seorang pelayan.


Dari dalam dapur, ia masih mendengar suara perdebatan di ruang makan.


"Lex, habis sarapan ini kamu langsung ucapkan talak. Biar dia kembali ke tempatnya," ujar Papa Alex.


"Tega betul Papa nih," protes Jonathan.


"Diam kamu! Semua ini juga gara-gara kamu, suruh nelpon gitu aja ga becus."


Terdengar suara decit kursi yang di dorong kasar.


"Mau kemana kamu, Lex?!" seru Papa Alex.


"Kantor."


"Selesaikan dulu masalahnya!" terdengar suara Papa Alex yang semakin keras.


"Masalah apa?" Alex masih menanggapi dengan datar.


"Kamu ceraikan dulu wanita itu." Jantung Hanum serasa diremas mendengar perintah Papa Alex.


"Lalu?" tanya Alex datar.


"Ya, lalu kamu menikah sama keponakannya teman Papa yang kemarin datang."


"Mereka sama wanitanya, lalu apa bedanya?" tantang Alex tetap dalam mode tenang.


"Beda Lex!, kamu ga bisa lihat apa??" Papa bersikukuh.


"Bagi aku sama aja. Aku berangkat dulu." Tak peduli dengan wajah geram Papanya, Alex terus berjalan keluar rumah.


"Gimana ini, Ma?! Mau taruh di mana mukaku punya menantu macam dia!" seru Papa Alex yang sudah merasa frustasi.


"Ya mungkin Kak Alex seleranya yang model gitu kali." Jonathan terkekeh geli.


"Diam kamu! sekali lagi bicara, kamu yang Papa kawinkan sama dia!"


"Oww tidak, tidak!" Jonathan langsung melesat kembali ke kamarnya.


"Nanti aku bicara pelan-pelan sama Alex," ucap Mama Alex lelah. Ia sendiri juga tidak tahu harus berbuat apa, karakter anak pertamanya itu sungguh keras dan tidak dapat terbaca isi hatinya.


Di dalam dapur Hanum duduk meringkuk di pojok. Ia tidak tahu harus berbuat apa, sebelah hatinya masih ingin bertahan karena menjadi pendamping Alex adalah keinginannya sejak lama. Sebelah hatinya mengatakan ia harus pergi, karena ini bukanlah tempatnya.


"Jangan sedih." Mbok Jum menepuk bahu Hanum.


"Dianggap ato tidak dianggap, Mba Hanum harus tetap melayani selayaknya istri. Tadi tuh sudah bagus Den Alex minta teh hangat, terus Mba Hanum buatin. Habis loh, tuh lihat." Mbok Jum menunjuk gelas bekas Alex minum.


"Memangnya biasa ga habis, Mbok?"


"Habis sih." Mbok Jum terkekeh berhasil menggoda nona mudanya itu.


"Isssh, Mbok ini, sudah sempet seneng loh aku tadi." Hanum mengambil gelas bekas Alex, lalu mencium-cium pinggiran gelas seakan ingin merasakan bibir Alex.


"Ngapain kamu?!" Hanum tersentak saat Mama Alex sudah berdiri di balik tubuhnya dan memandangnya dengan tatapan aneh.


"Mbok, saya mau keluar dulu sama Bapak, titip rumah ya," ucap Mama Alex pada Mbok Jum, tapi matanya masih menelisik Hanum dari atas sampai ke bawah.


Sepeninggal anggota keluarga, hanya ada Mbok Jum dan Hanum di dalam rumah.


"Aku harus gimana ya, Mbok. Apa aku harus kembali pulang ke tempat kos?"


"Mba Hanum sudah bersuami. Satu langkah keluar dari rumah, harus seijin suami."


"Tapi Alex ga peduli tuh sama aku," ujar Hanum sendu.


"Coba bawain makan siang, Mba. Biasanya suami kalo dibawakan makan siang di kantor sama istri itu seneng loh," saran Mbok Jum.


"Masak sih, Mbok?"


"Coba aja, tunjukin kalo Mba Hanum istri yang baik."


...❤...


Sesuai yang di sarankan oleh Mbok Jum, di sinilah Hanum berada siang ini. Lobby kantor yang dulu ia datangi sebagai karyawan rendahan sekarang ia berdiri di sini sebagai istri dari pemilik perusahaan.


Namun sayangnya tidak ada satu orangpun karyawan yang mengetahui statusnya.


Diam-diam Hanum menyelinap lewat tangga darurat, karena jika meminta ijin lewat receptionist sudah pasti ia tidak diijinkan untuk naik.


Dari celah pintu ruang kerja Alex yang terbuka sedikit, ia melihat suaminya duduk di kursi kebesarannya sedang mengamati lembaran kertas di tangannya.


Hanum terpesona, Alex begitu memukau saat sedang serius. Jarinya mengusap-usap bibir dan dagunya dengan dahi berkerut dalam, tanda pria itu sedang berkonsentrasi penuh.


Hanum mengedarkan pandangannya mencari sosok sekretaris bahenol yang hobi berdandan itu, tapi wangi parfum yang biasanya tercium hingga radius puluhan meterpun tidak ada.


Hanum tersenyum, berarti tidak ada yang menghalangi ia masuk ke ruangan Alex. Mengapa semuanya terlihat mudah? apa ini tandanya semesta mendukung hubungannya dengan Alex?


Tanpa mengetuk pintu, Hanum menarik nafas panjang dan langsung melangkah masuk ke dalam ruangan.


"Mas, aku bawakan makan siang," ucapnya, sambil menaruh paper bag berisi kotak makanan.


Alex mengangkat kepala, raut wajahnya sangat terkejut, "Mau apa kamu di sini?!" serunya tajam.


Dengungan suara orang berbisik terdengar dari pojok kanan ruangan Alex. Hanum menoleh, rupanya sedang ada rapat beberapa petinggi perusahaan di meja bundar besar, yang biasa digunakan untuk pertemuan tertutup.


Di sana juga ada beberapa sekretaris dari para manager dan juga cimoy.


Tubuh Hanum menegang, ia masuk di saat yang tidak tepat. Mengapa ia bisa sebodoh itu, tidak mungkin Cimoy meninggalkan tempatnya jika ada Alex di dalam ruangan.


"Mau apa kamu di sini?!!" suara Alex kembali terdengar, tidak keras namun dalam dan dingin. Wajahnya sudah memerah menahan emosi, siap melemparkan Hanum dari lantai paling tinggi gedung ini.


...❤❤...


Ingatkan lagi ya 🙏


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


Novel pertama sudah ganti baju nih, mampir yuk