
Namun berulang kali ia berusaha melepaskan cengkraman tangan Alex, pria itu semakin mengeratkan genggamannya.
“Taxi Online saya sudah sampai,” ucap Hanum saat melihat sebuah mobil city car merah mendekat ke arah mereka.
“Kamu mau kemana?” tanya Alex curiga.
Apa-apaan orang ini, mengapa ingin tahu sekali sekarang. Batin Hanum, “Pemotretan,” ucapnya singkat. Namun tetap saja pria itu tidak mau melepaskan genggamannya.
“Saya harus segera berangkat, sudah terlambat gara-gara mengantar makan siang Pak Alex," sungut Hanum.
"Kamu lebih mementingkan urusan pribadimu dari pada keluargamu?"
"Keluargaa??" Hanum spontan terbahak sangat keras, sampai pengemudi angkot dan sepeda motor yang melintas di depan mereka menoleh.
Ia merasa sangat geli saat Alex mengucapkan kata keluarga. Sejak kapan dirinya dianggap keluarga oleh suaminya ini?
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Alex tak suka, terlebih ia sekarang menjadi tontonan supir taxi online yang menunggu Hanum.
"Ga. Ga ada apa-apa," ucap Hanum seraya berusaha menahan tawanya, "Saya berangkat dulu." Hanum berjalan ke arah taxi online pesanannya.
"Tunggu!" seru Alex, saat ia membuka pintu mobil bagian belakang. Belum sempat Hanum masuk ke dalam mobil, Alex kembali menutupnya.
"Heeii!" seru Hanum tak terima.
Alex tidak menghiraukannya, ia berjalan ke arah supir dan berbicara sebentar lalu memberi kode pada satpam kantor dengan tangannya. Satpam kantor itu berlari mendekat, lalu memberikan uang dari dalam dompetnya. Tak berapa lama, taxi online pesanan Hanum pergi meninggalkan dirinya yang melongo.
"Kenapa dia pergi?"
"Aku yang membatalkan pesananmu. Jangan khawatir sudah kubayar beserta ganti ruginya," ujar Alex santai.
"Lalu aku?"
"Aku yang antar." Alex masuk kembali ke area kantornya masih tetap menahan tangan Hanum dalam genggamannya, agar yakin wanita itu tidak menghilang dari hadapannya.
Hanum memandangi tangannya yang masih berada di dalam genggaman tangan Alex. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya, tapi sedetik kemudian senyum itu redup mengingat hinaan dan tatapan Alex padanya beberapa waktu lalu.
"Masuk," perintah Alex. Ia membukakan pintu mobilnya untuk Hanum.
"Bapak belum makan siang, kan?"
"Gampang, di luar banyak pilihan," ucap Alex ringan.
"Saya sudah masak untuk Bapak dan mengantar semuanya sendiri kesini sesuai permintaan Bapak, dan Bapak bilang mau makan di luar?" Hanum membesarkan matanya.
"Bhuuhh, jangan pernah melotot ke arahku," ucap Alex seraya meniup mata Hanum. Ia sangat kesal dengan panggilan Bapak yang terdengar seperti mengejek dirinya.
Sementara Hanum masih menggosok-gosok matanya, Alex sudah menggiringnya untuk masuk dan duduk di dalam mobil.
"Sia-sia saya masak buat Bapak sampe telat datang ke pemotretan pertama." Hanum menggerutu kesal.
"Kasih tau aku alamat tujuanmu."
"Saya ga tau di mana, cuman di kasih ini." Hanum menyodorkan ponsel jadulnya yang sedikit retak di bagian ujungnya.
Kening Alex terlipat saat melihat nama pengirim peta lokasi di aplikasi pesan berwarna hijau.
Sambil menyetir, Alex menggulirkan pesan percakapan Hanum dengan pria bernama Arthur ke hari-hari sebelum ini.
Antara Hanum dan Arthur terlihat sangat akrab, bahkan pria itu sudah memanggil istrinya hanya nama saja dan Hanum sendiri memanggilnya dengan sebutan Mas.
Hati Alex meradang, bagaimana bisa dia yang berstatus suami dipanggil Bapak, sedangkan orang lain dipanggil Mas.
Alex menggulirkan kembali pesan-pesan sebelumnya, ternyata hampir tiap hari mereka bertukar pesan, walau isinya terkadang tidak penting hanya menanyakan kabar dan mengirim emoticon sticker.
Dada Alex semakin memanas, sampai detik ini jangankan bertukar pesan, nomer ponsel Hanum pun ia tidak tahu.
Tanpa sadar Alex meremas ponsel Hanum, sehingga menimbulkan bunyi retak pada layar yang sudah sedikit terbelah.
"Aakh, ponselkuuu. Bapak apakan ponsel saya?!" Hanum merampas ponselnya dari tangan Alex.
"Tidak perlu!" seru Hanum ketus. Alex menoleh cepat, ia melihat istri anehnya itu sedang mengusap-usap ponselnya yang sudah mati total dengan mata berembun.
"Nanti aku belikan yang baru," ucap Alex.
"Saya bilang tidak perlu. Saya bisa beli sendiri, lebih terasa berharga jika mendapatkan barang dengan hasil keringat sendiri. Bapak tau ga sih, ponsel ini saya beli dari hasil menabung saya selama tiga tahun. Saya menahan lapar ga jajan di sekolah saat saya masih SMP, dan akhirnya saya baru bisa beli ponsel ini saat saya masuk SMU!" sembur Hanum kesal.
"Maaf," timpal Alex. Ada nada penyesalan dalam suaranya.
"Sekarang kita ga bisa lihat petanya lagi, saya juga ga bisa menghubungi Mas Arthur," ujar Hanum sedih.
Mendengar nama Arthur disebut dengan embel-embel Mas, membuat hati Alex kembali meradang.
"Saya sudah tau tempatnya, tadi sempat buka petanya sebelum ponselmu mati," ujarnya dengan wajah merengut.
...❤...
Sementara itu di rumah, Mama Alex termenung menatap taman belakangnya yang asri.
"Apa yang Mama pikirkan?" Pak Beni, suaminya tiba-tiba muncul dan duduk di sampingnya.
"Alex ... ada yang berubah. Papa rasakan juga ga?" Pak Beni menganggukan kepala, membenarkan pendapat istrinya.
"Apa itu berarti ia sudah mulai menyukai Hanum?" Mama Alex sedikit bergumam.
"Sampai sekarang dia juga tidak mau menceraikan wanita itu dengan alasan yang kurang masuk akal. Ane yang secantik itu hampir tiap hari datang ke kantor, juga ia abaikan. Bahkan Alex meninggalkan Ane di pinggir jalan setelah makan siang. Aku sampe malu sama Pak Eko." Papa Alex menggelengkan kepala dengan raut wajah sedih.
"Sebenarnya aku tidak masalah dengan siapapun Alex menikah, asal dia bahagia. Aku awalnya hanya kesal dan berpikiran macam-macam dengan tindakan nekat perempuan itu, tapi sudah dua bulan ini Hanum berubah tambah cantik," papar Mama Alex.
"Mbok Jum cerita, Hanum berusaha mati-matian untuk jadi langsing seperti ini. Tiap subuh lari pagi, kalo sore senam sendiri di kamar. Dia juga buat jamu sendiri diajari sama Mbok Jum loh, dan itu semua untuk Alex. Aduh aku kok merasa bersalah ya, Pa," tambah Mama Alex.
"Iihh, Papa tu bisanya cuman ngangguk-ngangguk aja!" sergah Mama Alex kesal melihat suaminya hanya manggut-manggut seolah tidak peduli.
"Papa mau bilang apa? semua keputusan ada di tangan Alex, kamu tahu sendiri anak sulungmu itu seperti apa. Aku sekarang hanya mikir, mau ngomong apa sama Pak Eko. Dia semakin mendesak aku untuk menikahkan keponakannya dengan Alex." Papa Alex menghela nafas panjang.
"Kenapa kamu kok senyum kayak gitu?" tanya Papa Alex curiga. Ia sudah sangat hafal betul dengan gelagat istrinya jika merencanakan sesuatu.
"Gaaa," sahut Mama Alex penuh arti. Papa Alex semakin mengerutkan keningnya curiga.
"Jangan macam-macam, Ma." Papa Alex memberikan peringatan. Ia sangat khawatir karena istrinya itu wanita yang sangat pintar dan cerdik.
...❤❤...
Yang ikutin cerita cinta jangan datang terlambat, tau ya bagaimana "pintarnya" Bu Devi, Mama Alex berusaha mempertahankan keluarganya.
Maaf yaa, kalau sedikit lambat up tiap harinya kadang malah bolong, karena nulis hanya bisa malam dan kalo siang di sela-sela waktu aja. Jangan bosan menunggu🙏😊
Follow IG : Ave_aveeii
Jangan lupa yaa 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
Promosi punya teman dulu ya