
Sebelumnya saya minta maaf ya, karena berhari-hari belum sempat lanjut 🙏
...❤️...
Stella memasukan buah jeruk ke mulutnya satu persatu dengan gaya malas. Ia sebenarnya tidak begitu ingin menikmati buah siang ini, tapi melihat Jamilah yang ikut nasuk ke dalam kamar membuat hatinya meradang.
"Kamu ga kerja?" tanya Stella seraya melirik sekilas, lalu terpaku lagi pada jeruk di tangannya.
"Tadi lagi kerja, terus di jemput Pak Jo," ujar Jamilah.
"Kamu beruntung, Jonathan sangat peduli padamu." Stella tersenyum pahit.
"Mba Stella jauh lebih beruntung, orang tua masih lengkap dan sangat sayang, sahabat yang selalu menemani, tidak perlu memikirkan esok harus makan apa." Jamilah tertawa miris. Entah mengapa Stella tidak nyaman dengan kata sahabat yang keluar dari bibir kekasih Jonathan itu. Seperti menegaskan posisinya sebagai siapa dia di sisi Jonathan.
"Aku beruntung? kalau ada kesempatan menukar hidupku dengan hidupmu, aku mungkin langsung menerimanya."
"Jangan ngomong begitu, Mba. Tuhan sudah memberikan tiap orang dengan porsinya masing-masing. Saya meski harus bekerja keras tiap hari, selalu berusaha bersyukur."
"Aku ga yakin jika kamu berada di posisiku bakal berkata yang sama. Seberapa kamu tahan hidup dalam tubuh yang lemah bergantung pada obat-obatan, seberapa kamu tahan menghadapi banyak pria yang mendekatimu tapi hanya menginginkan harta orang tuamu? seberapa kamu tahan melihat pria yang kamu cintai begitu dalam, berada di sisi wanita lain?" Stella berkata dengan sangat emosional. Kalimat terakhirnya ia beri penekanan dengan mata berlinang.
"Mba Stella suka sama Pak Jo?"
"Aku yakin kamu tidak buta untuk melihat besarnya cintaku untuk Jonathan," ucap Stella. Matanya menatap tajam ke arah Jamilah.
"Katakanlah langsung, aku tidak berhak menghalangi Mba Stella," sahut Jamilah pelan.
"Andaikan kamu tidak hadir di tengah-tengah kami, pasti Jonathan sudah menetapkan pilihannya padaku. Mengapa kamu harus ada di antara kami, Milah? Tidakkah kau bisa memberikanku kebahagiaan? Kamu sehat, cantik, muda pasti banyak pria yang mengejarmu."
Jamilah berulangkali melirik ke arah pintu kamar, berharap Jonathan segera masuk dan menghentikan omong kosong Stella.
"Aku lebih dulu mengenalnya, aku lebih dulu menyayanginya. Tahukah kamu makanan favorite Jonathan?" Jamilah terdiam lalu menggeleng. Stella terkekeh sinis, "Jonathan tidak suka makanan yang berkuah, ia lebih suka jika nasinya kering, kamu tahu apa yang dilakukan Jonathan di saat ia jenuh dan ada masalah? saat ia menghadapi tekanan orang tua yang membandingkan dia dengan kakaknya, ia datang kepadaku dan tidur diatas pangkuanku. Aku membelai kepalanya hingga ia tertidur, sedekat itukah kau dengannya, Milah?"
Dada Jamilah semakin sesak oleh rasa cemburu dan sedih. Ternyata banyak yang ia belum tahu tentang kekasihnya, lalu apa artinya ia di sisi Jonathan jika ada wanita lain yang ia butuhkan. Bukan tidak mungkin jika nanti ia hidup bersama dengan Jonathan, dan pria itu merasa penat dengan kehidupan ia akan mencari bahu yang lain untuk bersandar.
"Apa yang Mba Stella inginkan dari saya?" Berat rasanya kalimat itu terlontar dari bibir Jamilah, tapi lebih berat lagi beban pikirannya memikirkan semua kemungkinan yang sempat melintas di kepalanya.
"Aku menginginkan Jonathan," ujar Stella lirih. Jamilah menghirup udara sebanyak-banyaknya, antara sesak dan lucu yang ia rasakan. Permintaan Stella terdengar lucu baginya, awalnya hanya meminjam sekarang meminta hak sepenuhnya.
"Biarkan Jonathan yang memilih," ucap Jamilah berani. Lama Stella menatapnya lalu tersenyum tipis.
"Baiklah, tapi pegang janjimu."
Seperti diatur, Jonathan masuk ke dalam kamar setelah semua pembicaraan menegangkan selesai.
"Maaf lama, Papamu ajak bahas tentang proyek di tanah hilir," ucap Jonathan sumringah. Ia nampak senang melihat dua wanita yang menjadi sumber kepusingannya beberaoa hari ini nampak akur dalam satu ruangan.
"Jo, Jamilah sepertinya lelah tadi dia bilang ingin pulang, bukan begitu Milah?" Jamilah sempat terkejut dengan pernyataan Stella yang tanpa bertanya lebih dulu.
"I-iya." Jamilah mengangguk ragu.
"Ya udah, kita pulang."
"Ehhhmm." Belum sempat Jonathan bangkit dari kursi, Stella meringis seraya memegang dadanya.
"Kenapa, La?" Jonathan berdiri dari duduknya tapi tidak untuk pulang bersama Jamilah, namun menghampiri sahabatnya yang terlihat menahan sakit di dadanya.
"Ga apa-apa, sedikit nyeri aja."
"Aku panggilkan Mamamu ya."
"Jangan, aku ga mau mereka khawatir, Jo." Jonathan yang hendak keluar kamar ditahan oleh Stella. Ia menggenggam erat pergelangan tangan sahabatnya.
"Kalau kamu kesakitan seperti ini, ga ada yang lihat bisa bahaya, La." Siapapun yang mendengar, tahu jika Jonathan terlihat khawatir.
"Kamu di sini dulu, please," Stella menatap dengan mata memohon.
"Tapi ...." Jonathan menggantung kalimatnya ia menatap galau ke arah Jamilah. Jantung Jamilah berdegub menunggu reaksi Jonathan.
"Jo ...." Stella merintih semakin lirih. Genggaman di tangan pergelangan Jonathan semakin kencang. Jonathan yang merasa Stella butuh kekuatan, menautkan jemarinya di tangan Stella. Jamilah memandang sendu pada kedua telapak tangan yang saling menggenggam erat.
"Milah ...." Jonathan menatap Jamilah meminta pertimbangan.
"Aku tahu. Aku bisa pulang sendiri." Jamilah memaksakan sebuah senyuman di wajahnya. Ia tahu, ia telah kalah. Stella memandangnya seolah berkata, 'apa ku bilang'. Namun tentunya hanya ia dan Stella yang tahu arti tatapan itu.
"Bukan seperti itu, Milah maksud aku ...." Jonathan tampak bingung menjelaskan maksudnya.
"Pak Rebo ada di bawah, Jo," potong Stella, "Sopirku bisa mengantarmu, Milah. Maafkan aku," ucap Stella lirih.
"Oke. Terima kasih. Aku pulang dulu. Semoga cepat pulih." Susah payah Jamilah mengeluarkan kata demi kata dari bibirnya. Ia berusaha agar tidak tampak raut kecewa dan sedih di wajahnya.
"A-aku antar Jamilah dulu ke bawah." Perlahan Jonathan melepaskan tautan jemarinya.
"Jooo." Namun rupanya Stella tidak mau memberikan celah sedikitpun untuk Jonathan mendekati Jamilah. Ia semakin merapatkan jemarinya ke dalam telapak tangan Jonathan.
"Jangan khawatir, aku bisa sendiri." Jamilah memberikan senyuman terbaiknya untuk sang kekasih. Sebutan yang mungkin terakhir ia tujukan pada Jonathan.
"A-aku telepon Pak Rebo biar mengantarmu pulang," ucap Jonathan tergagap. Ia sedang berada di persimpangan. Tak disangkanya membawa Jamilah menemui Stella juga bukan perkara mudah, malah sepertinya akan menimbulkan masalah baru.
Jamilah segera berjalan keluar dari kamar sebelum air matanya jatuh berderai. Sampai di halaman, ia menolak dengan sopan tawaran sopir keluarga Stella untuk mengantarnya.
Namun ia berjalan mendekati mobil Jonathan yang teparkir di sana, lalu melepas cincin yang tersemat di jarinya dan menaruh cincin bermata satu itu di atas kap mobil tepat menghadap sisi kursi sopir. Apapun yang terjadi setelah ini biarlah terjadi.
...❤️🤍...