CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Bergerak


Malam harinya di hadapan Mama dan Papa, Hanum kembali menceritakan secara detail dari awal mula Pak Eko menghubunginya sampai saat ia diminta datang ke kantornya.


Begitu Hanum selesai menceritakan semua, Mama Alex langsung memukul dengan keras pundak suaminya.


"Seperti itu calon istri yang mau kamu nikahkan dengan Alex!" seru Mama geram.


"Ya kan, Papa juga ga tahu, Ma," ujar Papa sedih seraya mengusap-usap pundaknya yang terasa panas.


"Hanum, Papa minta maaf kalau keputusan Papa menyerahkan pengelolaan panti pada Pak Eko, membuat Ibu Anita dan adik-adik pantimu jadi menderita." Papa Alex terlihat sedih sekali.


"Papa ga nyangka, dia kawan lama dan setahu Papa dia sangat baik dan loyal tapi tega berbuat seperti itu pada orang yang lemah hanya demi kepuasannya," lanjut Papa Alex seraya menggelengkan kepala. Mama yang tadinya marah jadi ikut sedih dan merangkul bahu Papa.


"Ini juga salah Hanum, Pa. Kalau saja Hanum ga berbuat nekat mengganti berkas calon istri Mas Alex, pasti semua akan. baik-baik saja."


"Kata siapa?" sahut Alex cepat.


"Justru sekarang Papa bersyukur kamu berbuat seperti itu. Coba bayangkan kalau Ane yang jadi menantu Papa dan Pak Eko jadi bagian dari keluarga kami, apa jadinya?"


"Mama juga bersyukur, keluarga kita dijauhkan dari orang jahat dan licik macam mereka." tambah Mama.


"Feeling aku ga salah kan, Pa? Ternyata orang yang dianggap asing, justru paling dekat dengan keluarga kita. Hanum ini anak kecil yang dulu nangis minta semua buku bacaanku, Ma." Alex menggengam erat tangan istrinya.


"Cara Tuhan menyatukan kalian memang unik, namanya jodoh mau kemana saja pasti ketemu," ujar Mama dengan haru.


"Satu lagi, ada kabar bahagia. Hanum hamil," ucap Alex dengan wajah memerah.


"Syukurlah, Mama punya cucu." Mama Alex langsung berdiri lalu menghampiri Hanum dan memeluknya erat.


...❤...


"Kalian bisa diam ga!" seru Alex kesal. Jonathan dan William, saudara jauh yang masih tergolong adiknya itu langsung terdiam tak berani bergerak.


"Ini persoalan serius, kalau kalian berdua hanya bisa bercanda lebih baik tidak usah repot-repot datang kesini." Alex yang sedang tegang membuat laporan untuk polisi, merasa terganggu dengan kedua pria di hadapannya yang terus besenda gurau.


"Maaf," cicit William tertunduk. Sedangkan Jonathan adik kandungnya hanya menyengir seolah tak ada rasa takut.


"Sudah tahu tugas kalian?" Alex menyodorkan beberapa foto anak panti yang ia ambil dari ponsel Hanum.


"Gampang. Amati situasi pemberhentian lampu merah di sekitar jalan coklat. Kalau kelihatan salah satu anak ini, kita langsung tangkap dan interogasi," sahut Jonathan semangat.


"Bukan di tangkap! kalian cukup ikuti kemana mereka pulang. Tidak perlu memperlihatkan wajah kalian sama mereka," ucap Alex tegas.


"Jo, Wil, ini sangat penting menyangkut keselamatan adik-adik kita di panti. Aku harap kalian berdua serius." Alex kembali memperingatkan kedua adiknya saat mereka akan keluar dari ruangannya.


...❤...


Di beberapa lampu merah pusat kota, Jonathan dan William sudah menaruh orang kepercayaan mereka. Jonathan dengan komunitas klub motor gedenya, sedangkan William yang seorang pengusaha muda mempunyai beberapa klub malam dan restoran menyebar para bodyguardnya.


Kedua pria muda itu hanya duduk santai di kedai bakso pinggir jalan, sembari memantau laporan dari ponsel mereka.


...❤❤...


Eeh, ada Kakak William. Ada yang kenal ga?