
"Sekarang kamu mengerti 'kan alasan Mama menahan kalian di sini? Bukan untuk selamanya, Mama juga ingin melihat kalian mandiri. Sarayu dan adik-adiknya berlarian di rumah kalian sendiri. Lalu saat kalian datang kemari membawa anak-anak, mereka turun dari mobil berlari masuk ke dalam rumah sambil berteriak omaaa ... opaaa." Mata mama Alex berkaca menerawang ke langit-langit rumah.
"Mamaaaa ...." Hanum sontak memeluk mama mertuanya. Ia yang dari kecil tidak pernah merasakan kasih sayang orangtua, menemukan cinta yang utuh dalam keluarga suaminya. Pelukan Mama Alex mengingatkannya pada Ibu Anita, pengasuh sekaligus orangtua Hanum dan adik-adik pantinya.
Sementara itu, ketika dua wanita beda usia itu saling menumpahkan rasa haru, Alex menyengir sembari melamun membayangkan cerita mamanya tadi jadi kenyataan.
'Adik-adik Sarayu, hhmmm enaknya nambah dua, tiga atau lebih ya. Kira-kira yang kedua ini cowok atau cewek keluarnya.'
"Mas ... Mas Alex!" panggil Hanum kesal.
"Apa?"
"Ngelamun apa sih, senyum-senyum terus ga biasanya."
"Bayangin kalau punya rumah sendiri nanti biar ramai anaknya harus banyak," ucap Alex jujur.
"Iissh!" Hanum tersipu malu suaminya mengatakan hal itu di depan mertuanya.
"Ada apa?"
"Aku kangen Bu Anita, kita sudah lama ga ke panti."
"Iya, mama juga sudah lama ga nengok panti. Waktu Jonathan menikah kemarin, Bu Anita ga bisa hadir karena sakit. Kita belum sempat jenguk loh," timpal mama.
"Ayo dijadwalkan saja kapan. Sarayu juga sudah cukup besar untuk dibawa pergi ke luar kota."
"Sarayu tujuh bulan juga belum dibuat syukuran, gimana kalau kita adakan di sana aja," usul Hanum.
"Mama setuju, sekalian syukuran nikahannya Milah dan Jonathan."
"Oke, gimana kalau besok lusa?" usul Alex.
"Setuju," sahut Mama dan Hanum berbarengan.
Hari Sabtu pagi dalam minggu itu, mereka berenam dan seorang bayi kecil berangkat dengan mengendarai satu mobil.
Jonathan yang memegang kemudi dan Jamilah istrinya duduk di samping. Keduanya saling melempar senyum dan tatapan mesra, tampak tak terganggu dengan keriuhan bangku tengah dan belakang.
Kedua orangtua Alex duduk di bangku tengah bersama cucu pertama mereka. Mama dan Papa menikmati peran mereka sebagai oma dan opa yang berbahagia. Keduanya bersenandung dan menyanyikan lagu untuk cucu perempuannya.
Sementara itu Hanum dan Alex yang duduk di bangku belakang tampak menikmati waktu berduaan yang sangat jarang terjadi di hari-hari biasanya.
"Kalau tahu enaknya punya istri, dari dulu sudah menikah aku," bisik Jonathan sembari tangan kirinya mere mas tangan Jamilah.
"Kalau dulu sudah menikah berarti bukan sama aku, karena kita 'kan belum ada dua tahun kenalnya. Kira-kira sama siapa hayooo." Jamilah menahan senyum melihat suaminya tergagap tak bisa menjawab celetukan usilnya.
" ... No comment itu sih derita elo. Masa bodo gak mau tau. No comment itu sih derita elo. Aduh, aduh kasian deh lo ...." Di bangku tengah Papa Alex asik bersenandung dan bernyanyi menghibur cucu perempuannya yang tertawa melihat reaksi wajah opanya.
"Pa!, lagu apaan sih itu, inget umur!. Untuk cucu kok nyanyinya lagu kayak begituan. Lagu anak-anak 'kan banyak," protes mama kesal.
"Kalau Papa mau nyanyi di kamar mandi aja sendiri, jangan di depan cucu! Jo, putar lagu anak-anak cari di yutub," perintah mama Alex sembari melirik sinis pada suaminya.
Sementara itu sepasang orangtua pemilik bayi yang diributkan tampak tak acuh. Mereka saling berangkulan mesra memandangi pemandangan pedesaan lewat jendela mobil. Sesekali Alex mengecup kepala Hanum dan membisikan kata cinta dan mesra.
"Mas Alex, sayang ga sama aku?" tanya Hanum pelan. Alex memicingkan matanya, ia tentu harus waspada dengan pertanyaan yang berbahaya ini.
"Sayang. Ada apa?" Alex menjawab singkat dan langsung balik bertanya.
"Sarayu sudah mulai besar nih." Hanum mulai menegakkan duduknya.
"Hmmm." Alex menganggukan kepala tak sabar.
"Sudah makan nasi tim, jadi ga full nyusu lagi."
"Hmm, lalu?"
"Mmm, aku boleh kembali jadi duta cream 'aku cantik'?" Hanum menatap suaminya penuh harap sekaligus takut. Alex mulai memperbaiki duduknya, ia menegakan tubuhnya dan menelisik wajah serta tubuh istrinya dari ujung matanya.
"Bukannya kamu sudah tidak lagi bekerjasama dengan mereka? Bukannya mereka sudah punya model baru?"
"Aku kemarin hanya cuti. Lagipula meski ada model baru, aku tetap jadi brand ambassador resminya."
"Apa kurang uang yang aku berikan untuk kamu tiap bulannya?" Alex menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Bukan gitu, ini semata-mata bukan karena uang. Aku hanya ingin punya kesibukan."
"Kamu 'kan sudah punya usaha jamu sendiri, apa masih kurang sibuk?"
"Usaha jamu itu sudah jalan tanpa ada aku."
Usaha jamu kunyit asam yang diperkasai oleh Hanum, sejak ia hamil sudah diambil alih pengerjaannya oleh Ibu PKK di lingkungan mereka. Alex tak mengijinkan istrinya turun tangan sendiri di dapur dengan perut buncit. Jadinya Hanum menurunkan ilmunya pada perkumpulan ibu-ibu PKK dan tetap dipasarkan dengan memakai nama miliknya.
"Aku kok ga rela ya wajahmu nanti dipajang di pinggir jalan, di spanduk warung makan, di belakang truck, di majalah terus dibuat bungkus gorengan."
"Mas Alex ini pikirannya terlalu jauh!" Hanum mulai merajuk. Ia merasa suaminya mulai membuat alasan tak masuk akal untuk mempersulitnya.
"Wajar pikiran suami seperti itu. Aahh, aku tahu bagaimana buat kamu punya kesibukan." Alex tersenyum lebar seperti baru mendapatkan ide bagus.
"Apa?"
"Kita buat adiknya Sarayu."
"Aarggghh!" Hanum menepis tangan Alex yang ingin merangkulnya kembali.
Sepanjang sisa perjalanan menuju desa asal keluarga Alex dan Hanum, bangku deretan paling belakang, berubah menjadi sunyi dan dingin mencekam.
...❤️🤍...