
Di kepala Hanum sudah terlintas niat untuk menghampiri Jamilah di tempat kerjanya. Jiwa ingin tahu Hanum pada apa yang terjadi pada hubungan adik iparnya dengan Jamilah meronta-ronta.
"Pak Komar saya mau makan di restoran Sedap Malam ya," ujar Hanum pada sopir kantor suaminya.
"Baik, Bu."
Harapan Hanum hanya satu, ia datang sesuai di jam kerja Jamilah. Sampai di restoran tempat Jamilah bekerja, Hanum langsung mencari tempat strategis yang bisa melihat dan terlihat dari sudut pandang manapun.
"Bu Hanum?" Setelah Hanum menghabiskan satu porsi sop buntut dan sepuluh tusuk sate ayam, ternyata Jamilah duluan yang melihat istri dari mantan Bosnya itu.
"Jamilah, aku dari tadi cari kamu. Duduk sini dong." Hanum menarik kursi di sampingnya.
"Saya lagi kerja, Bu," tolak Jamilah sopan.
"Sebentar aja," paksa Hanum.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Jamilah sambil duduk di samping Hanum.
"Bukan saya yang butuh bantuanmu, tapi Jonathan." Jamilah yang tadi menaruh perhatian penuh pada Hanum, memundurkan badannya.
"Saya sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sama Pak Jo," ucap Jamilah pelan.
"Kalian putus? kenapa?"
"Bukan jodoh mungkin," ucap Jamilah dengan senyuman pahit.
"Mmm, sayang sekali ya. Padahal kita sudah cocok loh," ujar Hanum yang membuat Jamilah sedikit tersenyum geli, "Kamu tahu ga, kalau Stella sudah ga ada?"
"Tahu, saya beberapa kali pergi ke makamnya."
"Jonathan sepertinya terpukul sekali. Sejak Stella meninggal dunia, aku sudah ga pernah lihat dia tersenyum lagi. Berangkat kerja selalu pagi sekali tanpa sarapan, dan pulang selalu malam setelah semua orang tidur. Di kantor katanya ayang aku, juga tidak pernah keluar dari ruangannya. Kami semua hampir tak pernah ketemu meski satu rumah," papar Hanum.
"Pak Jo sayang sekali sama Stella," timpal Jamilah lirih. Penjelasan Hanum semakin mengiris perasaan Jamilah. Ia merasa semakin tidak pantas dan tidak akan bisa menggantikan Stella di mata Jonathan. Dalam benaknya, mungkin Jonathan akhirnya sadar kalau ia mencintai Stella lebih dari dirinya.
"Menurut ayang aku, Stella itu memang dekat sudah lama sama Jonathan dari SMU. Pantes kehilangan sekali ya." Tanpa menyadari perubahan wajah Jamilah, Hanum terus mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia dengar sama sekali.
"Saya permisi mau lanjut kerja, Bu." Jamilah berdiri hendak segera pergi dari sana.
"Eh, tunggu aku belum selesai." Hanum menahan tangan Jamilah agar kembali duduk.
"Kamu ga mau datang menghibur Jonathan?"
Jamilah memandang heran wajah istri dari mantan atasannya yang terlihat polos itu. Awalnya ia ingin marah karena Hanum seakan mengoloknya, tapi akhirnya ia sadar kalau Hanum sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi antara ia dan Jonathan.
"Saya sudah bukan siapa-siapa lagi bagi Pak Jo, Bu," ujar Jamilah.
"Walau hanya sekedar teman?" Jamilah menggeleng pelan. Walaupun di hatinya Jonathan masih menempati nomer satu, ia sangat tahu diri dengan posisinya.
Hanum sendiri juga merasa kesepian jika Jonathan tidak bersuara di dalam rumah, karena hanya dengan adik iparnya itu segala humor recehnya ada yang menimpali. Terkadang jika ingin bercanda dan mengucapkan kata-kata konyol, Alex dan Papanya sama sekali tidak memberikan reaksi apapun. Di depan kedua pria pelit senyum itu, candaanya jadi terkesan garing dan tak bermakna. Hanya Mama saja yang tersenyum tipis, walau selalu terlambat mengerti maksud Hanum.
"Ga apa-apa, Bu. Mungkin Pak Jo hanya masih sedih saja."
"Ya udah saya pulang dulu ya, Milah. Meski kamu sudah tidak ada hubungan lagi dengan Jonathan, kita masih bisa berteman 'kan?" Hanum mengulurkan tangannya. Jamilah tersenyum lalu menyambut uluran tangan Hanum. Dengan lembut Hanum memeluk Jamilah, ia seperti menemukan adik-adik pantinya di sosok Jamilah.
"Ibu kenapa?" Jamilah menahan tubuh Hanum yang hampir merosot ke bawah.
"Aku kayaknya ngompol, Milah." Hanum melihat ke arah lantai yang sudah basah.
"I-ibu sepertinya mau melahirkan." Jamilah panik saat Hanum tidak bisa menahan beban tubuhnya, "Keeenn, tolong." Jamilah memanggil Kendra yang kebetulan lewat di belakangnya.
"Pak Komar di luar," ucap Hanum lirih. Ia sebenarnya tidak merasakan sakit, tapi jantungnya berdetak cepat karena panik.
"Ibu bisa jalan sampai parkiran?" Hanum mengangguk menanggapi. Jamilah bersama satu rekannya memapah Hanum keluar restoran, sedangkan Kendra memanggil sopir Hanum agar segera merapat tepat di depan pintu restoran.
"Temani aku." Hanum memegang tangan Jamilah saat gadis itu akan keluar dari dalam mobil.
"Ga apa-apa, aku temani kamu antar Bu Hanum ke rumah sakit juga. Nanti aku yang tanggung jawab ke Pak Reno." Kendra ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di sisi Pak Komar.
Sepanjang perjalanan Hanum berusaha tersenyum agar ketiga orang lainnya di dalam mobil tidak ikut panik. Dari ketiga orang itu yang paling terlihat ketakutan adalah Pak Komar, bagaimana tidak sebelum berangkat dan selama Hanum di dalam restoran, Alex kerap kali menekankan agar terus mengawasi istrinya dan berhati-hati jangan sampai terjadi apa-apa.
"Bu, sabar yaa rumah sakitnya sudah dekat kok," ujar Pak Komar sembari melirik melalui kaca spion.
"Saya ga apa-apa, Pak. Santai saja." Meski bibirnya mengucapkan hal yang tenang, raut wajah pucat Hanum tidak bisa ditutupi. Pendingin udara di dalam mobil, tidak bisa menghentikan laju keringat yang menetes di pelipisnya.
"Buuu ...." Tangan Jamilah menggenggam tangan Hanum semakin erat saat melihat ada darah mengalir di sela-sela kaki Hanum.
Begitu sampai di rumah sakit, Hanum segera di bawa ke ruang persalinan.
"Suaminya yang mana?" tanya perawat yang bertugas.
"Iniii saya masih nelepon." Pak Komar dengan suara dan tangan bergetar mencoba menekan nomer ponsel atasannya, "Paaak, Ibu ... di Rumah Sakit Waras... mau keluar bayinyaaaa." Begitu tersambung Pak Komar langsung memberikan laporan.
Tanpa menjawab, Alex langsung meluncur ke rumah sakit meninggalkan koleganya bersama dengan staffnya begitu saja.
Derap langkah Alex memenuhi koridor rumah sakit, matanya mencari-cari papan nama yang menunjukan arah ke ruang bersalin. Ponselnya terus menempel di daun telinganya.
"Pak, Ibu di dalam." Begitu terlihat di ujung lorong, Pak Komar langsung menghampiri atasannya. Kening Alex sedikit mengkerut saat melihat Jamilah ada di sana bersama dengan seorang pria muda.
"Ken, aku takut Bu Hanum kenapa-kenapa." Jamilah memeluk erat lengan Kendra. Ia merasa sedikit bersalah karena Hanum datang khusus untuk menemui dirinya.
...❤️🤍...