
"Eh, ... Ini Lex, kamarnya Hanum besok ada yang mau nempatin. Mama minta dia pindah ke kamarmu. Ga apa-apa kan, Lex?" tanya Mama Alex was-was.
Alex hanya melirik Hanum sekilas, lalu menjawab dengan 'Hmm' yang sangat singkat dan berlalu dari sana.
"Alex sudah setuju, buruan pindahin barangnya," ujar Mama Alex, tanpa bisa menyembunyikan nada riangnya.
"Semalam aja saya tidur di sini ya, besok saya kembali ke kost." Hanum mulai merengek.
"Kamu kenapa sih? kayak mau masuk kandang singa aja. Sekalian kamu rawat anak saya, gara-gara kamu juga dia sampai sakit, benar kan?" Mama Alex sengaja berkata agak ketus agar Hanum mau menurutinya.
Anak Ibu memang kayak singa. ucap Hanum hanya berani dalam hati.
Hanum hanya pasrah melihat semua barangnya satu demi satu sudah berpindah ke kamar Alex.
"Tunggu apa? Cepet masuk." Mama Alex sedikit mendorong Hanum masuk ke dalam kamar, saat ia terlihat ragu di depan pintu kamar Alex, "Sekalian bawakan ini untuk Alex." Mama Alex menyodorkan secangkir teh hangat.
Alex sedang berbaring dengan lengan menutup matanya, saat Hanum berhasil di dorong masuk oleh Mama Alex.
"Permisi, Pak." Sapaan Hanum tidak menimbulkan reaksi. Alex tetap bebaring di atas ranjang tidak bergerak.
"Ini tehnya, diminum dulu mumpung masih panas." Alex masih tetap diam seperti sudah sangat terlelap.
Hanum bergerak gelisah. Mau keluar kamar ada mertuanya, tetap dalam kamar dinginnya Alex melebihi pendingin ruangan dalam kamar.
Biasa di cerita-cerita novel atau film ada sofa dalam kamar, kalau pasangan ngambek bisa tidur di sana. Namun sayangnya di kamar Alex ini minim perabotan. Hanya ada lemari pakaian besar, meja dan kursi kerja, serta ranjang yang besar semua masing-masing satu buah.
Hanum duduk di tepi ranjang yang kosong. pinggulnya ia geserkan ke tengah dengan sangat perlahan, berharap ranjang tidak bergoyang saat ia bergerak.
Saat sudah sampai di posisi yang menurut dia aman, Hanum menarik nafas lega. Masih dengan gerakan perlahan ia mulai membaringkan tubuhnya di sisi paling jauh dari Alex.
Di liriknya suaminya yang masih terlihat tenang tidak bergerak. Semenit, dua menit Hanum hanya bisa mengerjap-kerjapkan mata tanpa bisa terlelap.
Ia memutuskan membuka aplikasi novel dan memeriksa pesan masuk di ponselnya, berharap kantuk segera tiba dan ia terbebas dari rasa tegang malam ini.
Senyum Hanum terbit saat membaca pesan dari Arthur. Foto pemotretan siang tadi dikirim Arthur dengan disertai tanda emote love juga kata-kata manis merayu seperti 'cantik sekali', 'memukau', dan 'istri idaman'.
Hanum masih sibuk berbalas pesan seraya tersenyum dan tertawa kecil, tanpa ia sadari Alex sedang memandangnya dengan tajam. Hanum merasakan ada hawa-hawa dingin di sisi tubuh kanannya. Perlahan ia menoleh dan mendapati suaminya menatapnya penuh ancaman.
"Maaf, aku ribut ya," ucap Hanum seraya bersiap turun dari ranjang, "Aku di luar aja kalo gitu."
"Aaahhh, ponselkuu!" Hanum menjerit terkejut. Alex dengan satu gerakan cepat menahan tangannya agar tidak berdiri dari atas ranjang, lalu menyambar ponsel yang ia genggam.
Hanum membeku saat melihat raut wajah Alex yang sedang membaca semua pesan dari Arthur.
PRAAKKK!!
Ponsel kesayangannya berakhir tragis setelah terhempas keras di lantai.
Sejenak Hanum tertegun melihat ponselnya yang sudah tidak mungkin lagi bisa diperbaiki.
"Dasar jahattt!!" Hanum menjerit kencang. Ponsel yang ia perjuangkan sejak SMP sekarang sudah tidak berbentuk lagi.
Hanum berjongkok memunguti pecahan demi pecahan ponselnya, sambil terus terisak.
Alex menghampiri Hanum dan menendang pecahan ponsel yang belum sempat ia angkat. Lengan Hanum ia cengkram lalu diangkatnya ke atas.
"Belajarlah jadi istri yang menghargai suaminya," ucap Alex ketus.
Belum habis rasa terkejut Hanum karena ponselnya dilempar lalu ditendang, sekarang ia harus mendengar perkataan Alex yang menurutnya aneh.
"Saya tidak perlu susah-susah belajar menghargai Bapak, karena tidak lama lagi saya bukan istri Bapak," balas Hanum tidak kalah ketusnya.
"Siapa kamu, bisa-bisanya berani mengacaukan kehidupanku?!" seru Alex yang sudah mulai terpancing emosinya.
"Saya memang bukan siapa-siapanya Bapak. Saya memang bodoh ganti berkas calon istri Bapak, sampai saya harus mengalami nasib buruk seperti ini." Hanum meringis kesakitan saat cengkraman tangan Alex semakin kencang.
"Kamu memang bodoh! udik! memalukan punya istri seperti kamu!" tandas Alex tajam dengan mata menyala penuh kemarahan.
"Ceraikan saja saya sekarang juga, kalau memang saya menyusahkan dan memalukan buat Bapak," ucap Hanum dengan suara bergetar.
Ia mencoba tetap tegar membalas tatapan mata Alex, meski matanya sendiri sudah tidak dapat melihat dengan jelas karena penuh air mata.
"Kamu tidak perlu mengaturku!" Alex menghempaskan tubuh Hanum di atas ranjangnya.
Saat Hanum kembali mencoba berdiri, Alex menahan kedua lengannya. Posisi Alex sekarang berada tepat di atas Hanum, masih dengan sorot mata yang marah sedangkan Hanum sudah mulai menangis ketakutan dan juga benci.
"Lepaskan tangan saya, Pak!" pinta Hanum tegas, ia terus meronta agar Alex melepas pegangan di pergelangan tangannya.
"Tidak ada yang bisa mengaturku. Termasuk kamu!" Alex meraup bibir Hanum dengan kasar.
Hanum memalingkan wajahnya, sehingga pagutan bibur Alex terlepas, "Lepaskaaannn!!" Hanum masih terus meronta.
"Aku masih suamimu, aku berhak atas kamu mulai dari ujung rambut sampai kakimu. Kamu punyaku, bukan laki-laki itu!"
"Jangaan begini , Pak saya mohon, saya minta maaf kalo saya salaah." Hilang ketegaran Hanum melihat kemarahan Alex yang tidak kunjung mereda bahkan semakin menjadi saat ia mencoba melawan.
"Kenapa hah? bukannya kamu yang bilang sendiri, jika semua anak yang kamu lahirkan akan memanggilku Papa?" Alex menyeringai mengejeknya, "Gimana jika kita mulai membuat yang pertama?" Seringaian Alex semakin melebar.
"Maafkan saya, tolong lepaskan. Saya janji, besok saya akan pergi jauh dari sini, Bapak ga akan lihat saya lagiii ... toloong, saya mohon." Hanum terus menangis ketakutan. Bukan situasi seperti ini yang ia inginkan, dan bukan Alex yang berada di atasnya ini yang ia damba.
Mendengar Hanum akan pergi meninggalkannya, membuat Alex semakin kalap. Ia kembali menggumuli Hanum, tanpa memberi celah sedikitpun untuk wanita itu menyela kegiatannya. Yang ada di pikiran Alex saat ini adalah, Hanum adalah istrinya, miliknya dan bagaimana caranya agar Hanum tidak pergi seperti yang dikatakannya barusan.
Hanum terus menitikan air mata, merutuki kebodohannya dulu. Ia semakin takut jika setelah malam ini Alex akan mendepaknya semakin jauh.
...❤❤...
Masih kuat puasanyaa? 🥰
Selama satu bulan aman ya isi babnya dikurangi adegan yang yaaahh ... begitulah 😁
Follow IG : Ave_aveeii
Jangan lupa yaa 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
Promosi antar teman lewat dulu ya, silahkan mampir.