CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Rumah Sakit


Setelah panggilan yang kesekian kalinya, akhirnya wajah Jonathan muncul di layar ponsel Papa.


"Jo, bagaimana kea ... kamu ada di mana?!" hardik Papa saat mendengar suara beberapa wanita yang tertawa.


"Lagi makan, tunggu sebentar Pa aku kembali ke kamar Kak Alex." Jonathan langsug berlari cepat ke kamar rawat kakaknya setelah tadi berhasil makan malam di ruang istirahat perawat, dengan dalih ingin pinjam sendok dan piring. Lalu menggunakan modus sengaja keterusan mengobrol.


"Anakmu satu ini loh, Ma, susah betul diatur." Papa menggerutu kesal.


"Kak Alex baik-baik saja, belum sadar," ujar Jonthan dengan nafas terngah-engah.


"Itu namanya bukan baik-baik saja. Dasar bocah ndablek!"


"Jangan ngomong kasar sama anak! kemarikan!" Mama merebut ponsel dari tangan suaminya.


"Coba arahkan kamera ke kakakmu, Jo. Mama sama kakak iparmu mau lihat keadaannya." Mama membawa ponsel Papa mendekat ke arah menantunya.


Hanum mengeratkan pegangan tangannya pada lengan Mertuanya, saat melihat luka jahitan sepanjang 15cm menyilang di dada suaminya.


"Duh, Gustiii, itu kenapa, Jo??" Mama menutup mulutnya.


"Kena sabetan senjata tajam, Ma, tapi sudah dijahit. Keadaannya juga stabil kata dokter."


"Kakakmu itu belum sadar, Jo?"


"Belum, mungkin masih dalam pengaruh obat bius."


"Jo, tolong langsung kabari ya kalau ada apa-apa," pinta Hanum penuh harap.


"Ga akan ada apa-apa, Kak, jangan khawatir. Oh, ya besok datang ke sini 'kan? besok aku ada perlu." Jonathan memelankan suaranya setengah berbisik.


"Ya, besok aku kesana gantian jaga," ucap Hanum diiringi suara Papa dari arah belakang, "Alaaah, paling juga kencan."


...❤...


"Jo." Hanum menepuk bahu adik iparnya yang tertidur di sofa ruang rawat inap, "Kamu pulang aja, biar aku yang di sini."


"Makan dulu sebelum pulang," ucap Mama mengerti dengan tatapan anak bungsunya.


Sementara Jonathan melahap bubur ayam porsi jumbo, Hanum mendekat ke ranjang pasien. Jari tunjuknya perlahan mengusap luka jahitan di dada Alex.


Matanya berembun melihat suaminya yang terkadang ketus dan tak acuh, sekarang terbaring tak berdaya dengan luka yang tegolong cukup parah.


Hanum melirik ke arah Jonathan dan Mama mertuanya yang sedang asyik berbincang di sudut ruangan. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah suaminya, lalu ia mengecup kening dan pipi Alex.


"Cepet bangun dong, aku kangen." Hanum mulai terisak. Jujur ia sangat merindukan pria mengesalkan ini, walau sempat ia ingin berlari menjauh karena merasa tak pantas berada di sisi seorang Alexander Saputra.


Namun kecupan ringan di perut dan lu*matan Alex di bibirnya saat suaminya itu akan berangkat menjalankan misinya semalam, membuat Hanum pasrah sepenuhnya pada takdir.


"Coba kalo aku ikut, mungkin ga sampe terjadi kayak gini. Kenapa kamu selalu bikin aku kesal."


"Tapi semakin aku kesal dan marah, aku semakin sayang. Jauh lebih sayang dari pada dulu waktu sekolah." Hanum mengecup lengan Alex yang juga dijahit terkena sabetan benda tajam.


Hanum kembali melirik ke arah adik ipar dan Mama mertuanya, mereka masih saja mengobrol serius sambil menikmati bubur ayam. Perlahan Hanum berdiri dari duduknya, lalu ia mengecup bibir Alex dengan cepat dan kembali duduk seolah tidak terjadi apa-apa.


"Woi, Kak mau sarapan bubur ayam ga?" tanya Jonathan yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.


"Nanti aja, Jo. Aku masih kenyang," ucap Hanum lega karena tindakan nakalnya tidak ada yang tahu.


"Aku bukan nanya Kak Hanum, tapi Kak Alex tuh, mau sarapan ga??" Jonathan menjawil pundak Alex.


"Hah?"


...❤❤...


Teman-teman menurut kalian visual Alex, Jonathan dan Hanum lebih cocok asia atau bule ya?


Mampir sini juga yuk