CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Terapi ala Alex


"Ya jelas Papa langsung tanya sama Pak Eko, setelah Mama kamu telpon Papa bilang dengan heboh kalau semua penghuni panti hilang mendadak. Papa waktu ditelpon sama Mama tuh lagi rapat, sudah susah signal ngomongnya cepet banget jadi kedengerannya kayak robot lagi ngomel."


"Papa aja yang sok sibuk." Mama mendecih kesal.


"Udah ... udah. Terus gimana, pa. Apa kata Pak Eko?" Alex menengahi keributan orang tuanya yang mulai tidak jelas arahnya.


"Dia juga kaget waktu Papa bilang seperti itu, lalu dia hubungi penanggung jawab di sana. Bilangnya, Ibu pemimpin panti ditemui pagi diceritakan kalau panti akan di rehab eh ... besoknya sudah kosong pantinya."


"Kok aneh. Kenapa cepat sekali mereka perginya? Masak ga ada yang tau anak-anak itu pergi dari sana." Mama menggeleng curiga.


"Papa sama Pak Eko masih selidiki, Ma. Jangan khawatir." Pak Beni menepuk-nepuk punggung tangan istrinya.


"Pa, Ma. Saya duluan masuk kamar ya, agak pusing dikit." Hanum berdiri dari duduknya membawa piring kotor ke dapur, dan langsung cepat masuk ke dalam kamar.


Ia takut jika terlalu lama mendengar kabar tentang keluarga pantinya, air matanya jatuh tak tertahankan. Bukan karena bingung mereka ada di mana, tapi karena ia tahu siapa dalangnya dan ia tidak bisa melakukan sesuatu karena takut keamanan adik-adik pantinya terancam.


Saat di kantor Pak Eko, ia tahu jika pria tambun itu bukan orang biasa. Banyak pria bertubuh besar dan menyeramkan yang berjaga di sana. Pak Eko seorang penjahat berkedok pengusaha.


Hanum bergelung di balik selimut. Malam ini ia merasa agak tidak enak badan, mungkin karena cuaca yang kurang baik dan sedikit kehujanan tadi sore.


"Kamu sakit?" Terasa pergerakan kasur saat Alex naik ke atas ranjang.


"Agak ga enak badan." Hanum semakin mengeratkan selimut hingga sebatas leher. Terdengar bunyi pendingin udara yang dimatikan.


"Kenapa dimatikan? Nanti Mas Alex kepanasan." Hanum menoleh ke balik tubuhnya.


"Kamu kedinginan," ucap Alex seraya memegang dahi Hanum, "Demam juga. Sudah dibilang, jangan terlalu capek."


"Nyalakan aja AC-nya. Aku bisa pake selimut," ujar Hanum seraya mengambil remote AC.


"Ga usah. Aku bisa buka baju kalo panas." Alex mengambil remote dari tangan Hanum dan membuka kaosnya.


Hanum langsung berbalik membelakangi Alex, saat matanya menangkap da*da telanjang milik suaminya.


"Dulu waktu kami masih kecil, kalau aku atau Jonathan demam tinggi, Mama atau Papa selalu kompres dengan cara skin to skin biar panasnya cepat turun," ujar Alex seraya merapatkan tubuhnya ke arah Hanum.


Hanum menahan nafasnya saat telapak tangan Alex yang terasa dingin menyentuh kulit pinggangnya yang panas.


"Ma-mau apaa?!" Hanum menahan tangan Alex yang akan membuka kausnya.


"Ga usaahh!" Hanum mencoba bertahan saat kaosnya sudah hampir terlepas.


"Diam jangan berisik, kamu ga mau kan Papa sama Mama datang lihat kita ga pakai baju?" ancam Alex. Hanum akhirnya menyerah saat suaminya melucuti pakaian bagian atasnya.


Alex membalikan tubuh Hanum menghadapnya. Panas di tubuh Hanum berangsur-angsur turun saat menyentuh kulit tubuh suaminya yang dingin. Alex semakin merengkuh tubuh Hanum ke dalam pelukannya, saat terdengar dengkuran halus dari bibir istrinya.


...❤...


"Aku sudah sehat." Hanum mencebik saat Alex tetap memaksanya ke dokter pagi ini. Ia merasa sudah jauh lebih baik setelah menjalani terapi khusus ala Alex semalam.


"Masih pucet, ke dokter biar dapet vitamin. Setelah ini, kita ke agency mu itu untuk minta be----"


"Maas, stop!" Hanum mencengkram lengan Alex yang sedang menyetir, saat ia melihat sosok yang sangat dikenalnya di pinggir jalan sedang memegang tumpukan koran dan kaleng.


...❤❤...


Follow


IG : Ave_aveeii


Halaman FB : Cerita Aveeii


Jangan lupa yaa 🙏


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰