
Jonathan terkejut saat sopir pribadi keluarga Stella mengatakan kalau Jamilah tidak mau diantar. Sambil berjalan ke arah mobilnya ia berusaha terus mencoba menghubungi kekasihnya itu.
Namun saat melihat benda kecil yang berkilap di atas kap mobil, Jonathan menghentikan panggilan ponselnya yang memang belum tersambung. Diambilnya cincin berkilau itu dari atas mobilnya, jelas ia tahu siapa pemilik cincin itu.
"Milaahh!" Jonathan meremas cincin di tangannya. Ia merasa kesal dengan Jamilah yang melakukan sesuatu tanpa membicarakan dulu dengannya. Sekali lagi ia menekan nomer ponsel Jamilah, tapi kali ini operator selular yang menjawab.
Jonathan pulang dengan hati yang dongkol, inginnya tadi menyusul Jamilah ke tempat tinggalnya, tapi baru teringat kalau dia belum tahu di mana kekasihnya itu tinggal. Mau tidak mau ia harus bersabar sampai besok menemui Jamilah di tempat kerjanya.
Saat masuk ke dalam rumah, ia mendapati kakak iparnya sedang menonton televisi dengan toples kue dalam pelukannya. Ia teringat kalau saran konyol membawa Jamilah menemui Stella berasal dari wanita yang ia sebut kakak ipar itu.
"Hai, Jo." Seperti biasa, Hanum selalu menyapa tiap orang yang baru pulang kerja dengan senyuman lebar, tidak hanya suami tapi adik ipar dan papa mertuanya. Jonathan tidak menanggapi, malah ia memberikan tatapan marah kepada Hanum dan langsung masuk dengan membanting pintu kamarnya.
"Jonathan kenapa?" Hanum yang sedang mengandung, membuat suasana hatinya gampang berubah-ubah.
Mendapat sikap yang tidak ramah dari adik iparnya, membuat Hanum murung sejak sore sampai malam hari.
"Kenapa lagi?" tanya Alex. Sejak sore tadi, ia memperhatikan raut wajah sedih istrinya. Malam setelah mereka berdua sudah berada di atas ranjang, Alex baru berani menanyakan pada Hanum setelah ia mempersiapkan mental mendengarkan jawaban dari mulut istrinya itu.
"Aku salah apa ya?" tanya Hanum bingung. Alex semakin mengerutkan keningnya, ia mengira dirinyalah yang sudah berbuat kesalahan besar sehingga bidadari nyamuknya itu menekuk wajah sejak ia pulang kantor tadi.
"Kamu ga ada salah kok, di mataku kamu sempurna." Walaupun terdengar omong kosong, tapi kalimat inilah yang diperlukan Alex untuk mengamankan diri.
"Jonathan marah sama aku," ucap Hanum setengah merenung. Alex memutar kedua bola matanya gemas.
Sifat dan karakter yang cenderung sama antara adik dan istrinya ini, terkadang membuatnya repot. Kadangkala kalau keduanya akur, mereka kompak membuatnya kesal dengan tingkah laku konyol keduanya, tapi sebaliknya jika mereka selisih paham seperti saat ini, dialah yang harus menjadi penengah yang bijak diantara keduanya.
"Sudah ga usah dipikir, kamu seperti ga kenal Jonathan aja. Mungkin lagi bertengkar sama pacarnya, kamu yang terlalu bawa perasaan," hibur Alex sembari menarik tubuh Hanum ke dalam pelukannya.
"Mungkin juga ya, tapi kalau bertengkar sama pacarnya kenapa aku juga yang kena." Hanum menyingkirkan bibir Alex yang sudah akan menyentuh pipinya.
"Kamu sedang sensitif aja, sudah ga usah dipikir lagi." Alex kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Hanum.
"Yaa, tapi ga enak loh serumah tapi ga saling sapa." Hanum memalingkan wajahnya sehingga bibir Alex meleset dan mendarat di rambutnya.
"Besok aku suruh dia sapa kamu," ujar Alex kesal.
"Jangan dipaksa nanti dia tambah marah."
"Hanum, suamimu itu aku atau Jonathan." Alex melepas pelukannya dan beringsut ke sisi pembaringannya.
"Loh kok tanyanya gitu?" Hanum baru sadar ada nada kemarahan dari pertanyaan suaminya.
"Aku ga suka di atas ranjang ini, ada nama pria selain aku yang kamu sebut. Meskipun itu nama Jonathan atau papa sekalipun," ucap Alex tegas.
"Maaf," cicit Hanum. Ia sama sekali tidak ada maksud apapun tadi.
"Jangan sampai sifat dan wajah anakku mirip sama Jonathan." Alex melirik ke arah perut Hanum yang membuncit.
"Sudah sering kamu minta maaf, jadi sudah tahu hukumannya apa kalau ingin dimaafkan," ujar Alex datar dengan mata terpejam. Hanum mengkerucutkan bibirnya kesal, ia tahu yang dimaksud sebagai hukuman versi Alex.
Perlahan ia duduk dan mulai membuka kancing piyama suaminya satu persatu. Alex masih diam tak bergerak menanti pergerakan istrinya lebih jauh. Setelah ia merasa tidak ada lagi kain penutup di tubuhnya, dan sentuhan jari istrinya yang semakin nakal, ia sudah tak dapat lagi menahan senyum lebarnya. Dengan hanya satu gerakan saja, mereka sudah bertukar posisi.
"Di atas ranjang ini, hanya boleh ada satu nama yang kamu sebut, nama siapa?" tanya Alex menggoda.
"Alexander Putra Prasojo," ucap Hanum dengan wajah memerah.
"Mmm, no, no, no! jangan bawa nama papa ke dalam kamar," ralat Alex. Hanum memicingkan mata gemas dengan tingkat kecemburuan suaminya.
"Alexander," ucap Hanum pelan.
"Ulangi," perintah Alex semakin merapatkan tubuhnya.
"A ... Alek ... sandeerrr," sahut Hanum dengan suara yang semakin tidak jelas.
...❤️...
Pada pagi harinya, rencana Alex untuk bertanya pada Jonathan gagal, karena adiknya itu sudah keluar dari rumah sebelum semua penghuni berkumpul di meja makan.
Jonathan sudah duduk di meja kerjanya sebelum aktifitas kantor dimulai. Ia akan menyelesaikan semua tanggungan kerjanya agar tidak tertekan dan terikat lagi dengan proyek kerjasama dengan papa Stella. Selain itu siang nanti ia akan menemui Jamilah untuk menyelesaikan kesalahpahaman.
Tepat jam sepuluh pagi dimana waktu restoran tempat Jamilah bekerja buka, Jonathan sudah duduk di salah satu kursi pengunjung. Ia sendiri sebenarnya tidak tahu, jam berapa kekasihnya itu dapat giliran bekerja, yang ia tahu adalah cepat segera bertemu agar semua masalah tuntas.
Jamilah baru saja akan keluar dari dapur, kembali masuk ke dalam saat melihat Jonathan yang menatap lurus ke arah pintu karyawan.
"Ken! sini." Jamilah menarik tangan Kendra dan merangkulnya seperti seorang kekasih.
"Hei! ngapain sih kamu." Kendra berusaha melepaskan tangan Jamilah yang membelit dan mendorongnya keluar dari dapur.
"Iiihh, kamu kok ngambek sih." Jamilah mencubit pipi Kendra setelah memastikan Jonathan sudah melihatnya dari bangku pengunjung.
"Milah!" Kendra mengusap pipinya tak suka. Posisi berdiri Kendra yang memunggungi bangku pengunjung, membuat Jonathan tak dapat melihat reaksi wajah pria itu.
"Gitu aja ngambek." Jamilah melipat kedua lengannya di dada. Siapapun yang tidak mengenal mereka, pasti mengira keduanya sedang bermesraan. Untung saja suasana restoran itu sepi karena masih pagi, Managernya pun sedang tidak ada di tempat jadi Jamilah bisa leluasa menjalankan drama tunggalnya.
Jonathan mendorong mangkok berisi soto miliknya yang masih penuh, kuah soto tumpah membasahi meja dan juga lantai. Menahan rasa ingin berteriak kencang, Jonathan berjalan dengan langkah lebar kearah Jamilah dan temannya.
"Aku mau bicara," ujar Jonathan datar.
...❤️🤍...
Bawa cerita keren untukmu