CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Hamil


Hanum terkikik geli saat Alex sudah menghilang di balik pintu kamar. Sebenarnya tadi ia hanya iseng menggoda, namun karena melihat reaksi suaminya yang lucu ia semakin ketagihan.


Tiba-tiba Hanum terdiam dan menghentikan tawanya. Ia bergidik ngeri saat membayangkan hukuman apa yang akan diberikan Alex atas tindakannya tadi.


Apakah ia akan disuruh membersihkan seluruh dinding kaca kantor Alex yang berjumlah 10 lantai, ataukah ia harus membersihkan semua WC yang ada di kantor.


"Sudah belum?! aku sudah terlambat." Alex mengetuk pintu tak sabar.


"Sebentar, jangan masuk dulu." Secepat kilat Hanum mengambil satu kaos dan celana jeans untuk dipakainya hari ini. Ia pikir lebih baik menggunakan pakaian yang simple jika sewaktu-waktu semua dugaannya tadi terjadi.


Sepanjang perjalanan ke kantor Alex, keduanya hanya diam. Suasana di dalam mobil sangat senyap, hanya suara hembusan angin dari pendingin ruangan yang terdengar.


Alex melirik wanita yang duduk di sisinya. Tidak banyak yang berubah dari Hanum. Jika dilihat dari fisik, Ane masih jauh lebih unggul. Namun mengapa pandangan matanya seolah tidak mau beralih dari wajah wanita ini.


Hanum bagaikan berlian yang tertutup lumpur. Begitu berlian itu di basuh dan lumpur yang menutupinya itu menghilang, sudah tidak ada lagi yang mampu menghalangi keindahan dari batu berharga itu.


Hanum mempunyai kecantikan dan daya tarik yang alami khas Indonesia. Saat awal ia datang, kecantikannya tertutup oleh penampilannya yang terkesan asal-asalan. Besar di panti asuhan yang semua serba terbatas, membuat Hanum harus puas dengan pakaian dan perawatan wanita ala kadarnya.


Namun saat ini, Hanum bagaikan berlian yang indah. Ada sesuatu dalam dirinya, yang membuat orang harus menoleh dua kali jika berpapasan dengannya.


Seperti hari ini, setiap pemberhentian di lampu merah, Alex selalu mengarahkan sudut matanya untuk melirik wanita yang duduk di sisinya itu.


Hanum tampak tenang, sesekali tersenyum seraya mengutak atik ponsel barunya.


"Dari mana ponsel barumu itu?" tanya Alex.


"Dibelikan," jawab Hanum singkat tanpa menoleh pada Alex.


"Heh, pria itu cuman mampu belikan yang harga segitu. Aku juga bisa belikan ponsel yang jauh lebih mahal dan canggih dari yang kamu pegang sekarang. Bahkan yang masih indent juga boleh." Alex mulai menyombongkan dirinya.


"Waah, betul? tapi saya sih ga perlu yang canggih, ini aja masih bingung cara pakainya. Bu Caroline belikan ponsel ini dari bonus penjualan produk creamnya. Selain itu kami harus saling komunikasi karena perkerjaan," jelas Hanum.


"Siapa yang belikan??"


"Bu Caroline ... bukan Mas Arthur," ucap Hanum sambil tersenyum menggoda. Ia semakin senang dengan munculnya rona merah di wajah Alex jika pria itu malu.


"Aku ga lagi bicarakan dia. Aku sudah tau kalo ponsel itu dari teman wanitamu," ralat Alex.


"Oww,"


"Kamu sudah simpan nomerku?" tanya Alex lagi.


Hanum menggeleng, "Untuk apa?"


Alex ingin menjawab, mulutnya sudah terbuka tapi ia menutupnya kembali.


"Masukan nomermu di sini," ucap Alex seraya menyerahkan ponselnya pada Hanum.


Hanum mengetikkan nomernya dan memberikan nama Hanum pada kontaknya, lalu mengembalikan ponsel itu pada Alex.


Alex melihat nama yang tertera di sana, lalu ia rubah menjadi Hanum istriku. Alex menekan kontak Hanum, tak lama ponsel Hanum berdering, "Simpan nomerku," ucapnya. Namun ia sedikit kecewa saat melirik nama yang diberikan Hanum di kontak ponselnya. Nama yang tertera di sana singkat hanya Alex.


"Bisa ga kamu jalan cepat sedikit?" keluh Alex saat mereka berjalan di area parkir kantor.


"Sa-sayang duluan aja, saya nyusul di belakang," ucap Hanum canggung. Ia merasa aneh memanggil pria wajah datar ini dengan sebutan sayang.


Mungkin jika dulu sebelum ia di bentak dan mendapat hinaan dari Alex, ia akan merasa senang bisa memanggil Alex dengan sebutan sayang. Namun tidak untuk saat ini, hatinya masih kecewa. Kenyataan tidak sesuai dengan impiannya.


Alex tersipu kembali saat Hanum memanggilnya dengan sebutan sayang. Ia hampir tersandung tadi saat menaiki tangga, karena salah tingkah. Entah mengapa ia sangat senang kata itu keluar dari bibir Hanum.


"Kamu lambat sekali." Alex menggeret Hanum agar berdiri tepat di sisinya saat menunggu lift turun.


Berpasang-pasang mata menatap mereka sekarang. Berbagai sorot mata pentuh tanya, curiga hingga kagum menatap ke arah Hanum.


...❤...


"Tugas saya apa?" tanya Hanum saat mereka sudah berada di dalam ruangan Alex.


"Eh, nanti saya kasih tau. Kamu duduk dulu di sana." Alex menunjuk sofa panjang di ruangannya.


Sudah tiga jam berlalu dan sudah berkali-kali pula Hanum bertanya pada Alex, apa yang harus dikerjakannya. Namun Alex selalu mengatakan hal yang sama, tunggu sebentar dan duduk di sana.


"Saya harus pergi sekarang, sudah ditunggu," ucap Hanum dengan wajah cemberut.


"Siapa yang tunggu kamu?"


"Bu Caroline sama Mas Arthur. Mereka mau persiapan acara grand launching jadi saya harus datang."


"Harus?" Mata Alex memicing.


"Iya, harus. Kan saya model produknya Bu Caroline," ucap Hanum bangga.


"Kalau aku minta kamu ga usah pergi?" tantang Alex.


"Saya tetap pergi," jawab Hanum mantap.


"Aku antar," ucap Alex dengan wajah suram karena kalah meyakinkan.


"Ga perlu. Saya bisa naik taxi online."


"Aku antar." Alex bersikukuh. Ia langsung berdiri dan mendahului Hanum meninggalkan segala berkas pekerjaannya di atas meja begitu saja.


"Produk itu belum resmi masuk ke pasaran, seharusnya kamu bisa digantikan," ujar Alex saat mereka sudah di dalam mobil.


"Saya ga mau diganti. Saya tetap mau pekerjaan ini," sahit Hanum panik seakan sesuatu miliknya yang berharga akan diambil.


"Untuk apa kamu bekerja, kamu bisa minta aku berapapun yang kamu butuh."


"Minta sama situ? kenapa harus minta sama sa-sayang? ... eh, ga enak dengernya ya kalo panggil sayang. Padahal sebentar lagi juga sudah pisah. Saya panggilnya sama seperti Mas Arthur saja boleh?"


"Ga usah sama-samakan aku dengan orang itu," sahut Alex kesal, "Dari pagi kamu bicara tentang pisah, cerai, kamu ga takut kalau kamu hamil di saat kita beneran cerai?" Alex melirik perut Hanum.


"Mmm, takut sih tapi saya yakin bisa membesarkannya meski ayahnya tidak menginginkannya," sahut Hanum seraya mengusap perutnya yang rata.


"Siapa yang bilang aku tidak menginginkan dia?" sahut Alex cepat.


"Dia siapa?" tanya Hanum bingung.


"Anak kita," sahut Alex yakin.


"Anak kita??" Hanum mengernyit memandang Alex aneh.


"Iyaa, kamu hamil kan?" tanya Alex dengan suara yang meninggi.


"Siapa yang hamil??" Hanum ikut bertanya dengan suara yang tak kalah meningginya.


...❤❤...


Follow IG : Ave_aveeii


Jangan lupa yaa 🙏


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


Promosi punya teman, mampir di sana ya