CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Ini nyata


"Sah?" tanya pria berpeci itu pada dua orang yang duduk di kanan dan kirinya.


"SAH." Keduanya menyahut, ucapan syukur terdengar dari beberapa orang di belakang Hanum.


Hanum masih belum bisa percaya apa yang sedang terjadi. Pembacaan pesan dan kata pengantar yang disampaikan pria berpeci itu, seakan menerobos indera pendengarannya dari kiri ke kanan lalu kembali lagi, tanpa mau berhenti sejenak agar dicerna oleh otak Hanum.


Belum ada satu jam ia menginjakan kaki di rumah ini, statusnya sudah berubah menjadi istri dari Alexander. Bagaimana mungkin ia bisa percaya.


Hanum mencubit-cubit tangannya sendiri ... sakit. Ia menoleh ke arah pria bertubuh tinggi yang duduk di sampingnya. Wajah yang dingin nyaris tanpa expresi ini, sekarang adalah suaminya kata pria berpeci itu.


Sepertinya aku terlalu miring tidurnya sampai bermimpi menikah dengan Alexander. Kata orang dulu kalo mimpi menikah artinya kurang bagus, tapi tadi ini aku cubit kenapa kok sakit? Hanum meringis karena ia terlalu keras mencubit lengannya sendiri.


Ia kembali memandang Alex yang masih tenang, mendengar kata-kata nasihat dari pria berpeci itu. Tangan Hanum terulur lalu mencubit pipi Alex.


"Aaaawwww!" Alex menjerit seraya memegang pipinya yang memerah.


Eehh, nyataa. Aku benar istrinya Alex.


"Loh, kok masnya dicubit sih mba? gemes ya? sabar nanti malam bisa main cubit-cubitan sampe puas," celetuk pria berpeci itu menggoda Hanum.


Hanum hanya menunduk tersipu sekaligus takut, karena Alex memandangnya dengan wajah memerah menahan emosi. Bibirnya terbuka dan tertutup berulang kali siap menyemburkan sumpah serapah.


"Selamat sekali lagi kepada kedua mempelai, semoga sakinah mawaddah warahmah. Saya pa---"


"TUNGGU!!" suara keras dari arah pintu ruang tamu, membuat semua yang di dalam rumah menoleh ke arah yang sama.


Wajah Hanum menegang dan badannya seketika kaku tidak bisa digerakan. Keringat dingin mengalir dari balik kemeja batmannya.


Pria berperut besar, kawan dari Pak Beni yang akan menjodohkan keponakannya dengan Alex datang bersama seorang gadis cantik yang mempunyai body goal.


"Pak Eko kenapa baru datang?" Pak Beni menghampiri kawannya.


"Dia itu penipu, Pak! Anda menikahkan putra Bapak, dengan seorang wanita penipu!" Pak Eko menunjuk Hanum dengan wajah yang siap menelannya bulat-bulat.


"Maksud Pak Eko apaa??" Pak Beni dan istrinya mulai panik.


"Ini keponakan saya, Anethe yang saya ceritakan kemarin. Kenapa Pak Beni nikahkan putra Bapak dengan dia?!" protes Pak Eko.


"Ka-katanya ... JONATHAAN!" Pak Beni memanggil putra bungsunya, nafasnya menderu seperti banteng.


Mampus! Jonathan yang sejak kedatangan Pak Eko perlahan berjalan mundur ingin segera kabur dari ruangan itu, terhenti saat sudah mencapai pintu samping.


"Jelaskan sekarang juga!" Pak Beni menatap putranya dengan emosi.


"Apa yang harus aku jelaskan. Aku mendapat tugas menghubungi wanita yang ada di dalam map warna pink yang ada di atas meja kantor Kak Alex. Sudah aku lakukan, dia yang ada di dalam map itu." Jonathan menunjuk Hanum yang sudah pucat wajahnya.


"Siapa kamu?!" Wanita anggun yang ternyata istri dari Pak Beni, menghampirinya dan memicingkan matanya menyelidiki Hanum dari atas sampai ke bawah.


"Ha-Hanum," sahut Hanum gemetar.


"Bukan namamu! Kenapa kamu bisa sampai di sini?!"


"Sa-saya ...." Hanum bingung mencari penjelasan yang masuk akal. Jika ia ketahuan berbohong dan dianggap penipu seperti yang dikatakan Pak Eko tadi, ia bisa dijebloskan ke dalam penjara.


"Tidak penting siapa dia, Bu. Pernikahan ini tidak sah! harus dibatalkan dan Alexander bisa segera menikah dengan keponakan saya," ucap Pak Eko.


"Maaf menyela Bapak dan Ibu, tapi pernikahan ini sah di mata hukum dan agama. Lagian kalo mau dinikahkan lagi, saya ga bisa. Sekarang saya ada jadwal menikahkan calon pengantin di kampung sebelah. Saya permisi dulu." Pria berpeci itu langsung berjalan mengarah ke pintu depan, sebelum orang-orang di dalam rumah itu menahannya untuk kembali menikahkan calon pengantin lainnya.


"Laaah terus gimanaa, Paak?" Istri Pak Beni terlihat frustasi.


"Eh, kamu mau kemana?" Semua perhatian tiba-tiba teralihkan saat Pak Beni menunjuk Alex yang sudah melepas jas dan akan berjalan keluar rumah.


"Ada meeting," sahut Alex singkat.


"Ini belum selesai, Lex. Kamu batalkan dulu pernikahanmu, setelah itu kembali daftarkan kembali dengan keponakan Pak Eko" ucap Papa.


Alex berhenti dan berbalik menghadap semua orang yang menatapnya penuh harap. Sekilas ia melihat Hanum yang masih belum berpindah dari posisinya sejak awal.


"Papa kan hanya ingin aku menikah. Bukan ingin aku menikah dengan siapa."


"Sekarang aku sudah menikah." Alex merentangkan tangannya dan kembali berbalik dan pergi menghilang dari balik pintu.


Sejenak mereka semua terdiam. Setelah sadar mempelai pria sudah menjauh dari rumah, Pak Eko mulai kembali memanasi kedua orang tua Alexander.


"Bagaimana Pak Beni? masak seorang pengusaha besar punya menantu model seperti itu?"


"Nanti kami bicarakan dengan Alex, Pak Eko mohon bersabar dulu. Bapak mengerti kan putra saya seperti apa?"


"Saya juga bantu ngomong deh ke Alex, boleh kan, Om?" ucap Anethe centil.


"Boleh, sangat boleh," jawab Pak Beni senang.


"Saya yakin kok Alex mau dengarkan saya, benar kan Om Eko?" lanjutnya seraya tersenyum mengejek pada Hanum.


"Jelaaass, kalo dibandingkan kaleng krupuk gelas kristal jauh lebih berharga." Pak Eko dan Anethe tertawa lepas, sedangkan yang lain hanya tersenyum kikuk.


Hanum yang tidak terima diibaratkan seperti kaleng krupuk mengeratkan rahangnya.


"Lebih baik kaleng krupuk lebih banyak isinya dan bermanfaat dari pada gelas kristal, muatnya cuman dikit .ga guna lagi," cetus Hanum ketus.


"Eh, dia kurang aja sekali Tante!" Ane mengadu pada Mama Alex.


"Aduuh, maaf ya, Sayang." Mama Alex merasa tidak enak dengan gadis yang seharusnya menjadi menantunya itu.


"Datang dari mana sih perempuan itu? sungguh memalukan Pak Beni. Lebih baik Alex secepatnya menalak dia," ucap Pak Eko.


Apa? enak aja kalo ngomong. Alex aja mau kok jadi suamiku. batin Hanum


"Pak Eko sama Ane lebih baik pulang dulu, biar saya dan Mamanya Alex bicara dulu sama ...." Pak Beni tidak melanjutkan kalimatnya, ia hanya menunjuk Hanum dengan kepalanya seolah enggan menyebut namanya.


Setelah Pak Eko dan Ane pulang, perhatian Pak Beni dan istrinya beralih ke Hanum yang masih saja berdiri di posisi semula.


"Duduk," perintah Bu Devi, istri Pak Beni.


Hanum duduk di hadapan kedua orang tua Alex dengan sopan.


"Kamu juga!" seru Papa Alex pada Jonathan yang sudah akan melarikan diri lagi.


"Coba ceritakan jujur pada kami, mengapa foto dan biodatamu ada di dalam map warna pink milik Pak Eko?" cecar Bu Devi.


"Saya ... menggantinya, Bu," ucap Hanum jujur, karena ia merasa tidak ada gunanya untuk berbohong.


...❤❤...


Ingatkan lagi ya 🙏


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


Ada yang belum mampir ke karya pertama aku yang sudah tamat?


Mampir dong, Pak Beni dan istrinya ada di sana juga