CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Mama Muda


Kita lupakan Kendra dan seseorang di luar sana. Cerita tentang Kendra akan ada sendiri 🙏


...❤️...


Suara tangisan bayi terdengar dari balik pintu ruang persalinan membuat keempat orang yang menunggu di luar, mengembangkan senyum dan mengucapkan syukur secara bersamaan.


"Aduh, aku lupa kasih kabar Kendra." Jamilah menepuk keningnya.


"Kirim pesan aja, ga usah keluar." Jonathan menarik tangan Jamilah saat gadis itu akan berlari.


"Jangan, Pak saya ga enak. Permisi saya kembali ke kantor, selamat untuk kelahiran cucu pertama." Jamilah menundukan kepalanya sopan pada kedua orangtua Jonathan dan langsung cepat berlari ke arah pintu keluar.


"Sudah, biar aja dulu. Perempuan kalau terlalu dikekang ga suka, mereka akan berusaha melepaskan diri," bisik Papa sembari menarik tangan Jonathan yang seakan tak rela Jamilah pergi meninggalkannya.


Sementara itu di dalam ruang persalinan, setelah berjuang selama hampir dua jam, cucu pertama dari keluarga Prasojo telah lahir. Bayi berjenis kelamin perempuan itu menangis dengan sangat santun (mirip papanya. Nangis santun seperti apa ya 😅)


"Mas Alex jangan nangis," hibur Hanum pada suaminya yang menelungkupkan wajah di sebelah kepalanya.


"A-aku punya a-anak ... terima kasih." Alex masih enggan mengangkat wajahnya meski istrinya sudah berusaha membujuknya. Begitu mendengar tangis putri pertamanya, mendadak ia menjadi sangat terharu dan tidak bisa menahan air matanya.


"Iyaa, aku juga senang. Sudah jangan nangis terus, malu sama anaknya aja sudah diam." Alex mengangkat kepalanya dan melihat buah hatinya sedang dibersihkan oleh perawat.


"Ibu sama Bayinya mau dibersihkan dulu ya nanti kami antar ke ruang perawatan. Bapak bisa selesaikan dulu administrasinya." Seorang perawat wanita sedikit memaksa menggiring Alex keluar dari ruang bersalin.


"Gimana, gimanaaa Lex. Sehat, sehat cucu Mama??" Belum seluruh badan Alex muncul di balik pintu, Mamanya sudah menariknya keluar dan memberondongnya dengan pertanyaan.


"Syukurlah sehat, Ma." Alex memeluk Mamanya dengan erat dan menangis lagi.


Mama merasa terharu dan takjub melihat putra sulungnya menangis. Ia terkahir mendengar Alex menangis di usia empat tahun. Setelah kelahiran Jonathan, Alex menjelma sebagai seorang kakak yang tangguh.


"Mama mau lihat." Mama memanjangkan lehernya di jendela bundar pada pintu ruang bersalin.


"Ga boleh masuk, Ma. Aku saja disuruh keluar, nanti kita tunggu di kamar perawatan aja." Alex menghibur Mamanya yang tampak kecewa.


"Aku urus administrasi dulu ya. Jo, tadi aku lihat ada Jamilah di sini, mana dia?"


"Balik ke tempat kerjanya," sahut Jonathan.


Suara hak sepatu berdetak memenuhi lorong rumah sakit. Maura berlari menuju ruang persalinan. Begitu mendapat kabar dari Jonathan kalau keponakannya akan lahir, Maura yang sedang nempersiapkan wisudanya segera meluncur ke rumah sakit.


"Kak, udah lahir?" tanya Maura pada Jonathan. Ia masih berusaha mengatur nafasnya yang tersengal.


"Udah."


"Cowok atau cewek?"


"Cowok atau cewek ya, Ma?" Jonathan melempar pertanyaan pada Mamanya.


"Eh, Mama ga tahu. Tadi Alex juga belum bilang cucu Mama laki-laki atau perempuan."


"Ya udah kita tunggu saja, sebentar lagi juga dibawa keluar. Kamu gimana persiapan wisudanya?" Papa Jonathan merangkul putri kandungnya yang lahir dari rahim wanita lain.


"Lancar, Ayah sama Ibu datang ya." Maura yang istimewa dari kecil memang memanggil orangtua Jonathan dengan sebutan yang berbeda, karena untuk sebutan Papa dan Papi ia tujukan pada orangtua lainnya.


"Bapak sama Ibu pasti datang, asal kamu jangan mendadak kasih kabar." Papa Jonathan mengusap kepala putrinya bangga.


Tak berapa lama Hanum menyusul bayinya di bawa keluar dari ruang persalinan menuju ruang perawatan. Semua keluarga yang sudah menunggu, ikut mengiringi dari belakang.


"Perempuan, Pa." Bh Devi meremas gemas lengan suaminya.


"Iyaa, aku juga sudah lihat." Papa mengernyit kesakitan.


Ia semakin terpuruk saat suaminya ternyata mempunyai rencana untuk menikah lagi, sampai dengan tega meniduri sekretarisnya yang saat itu masih berusia 20tahun. Dari hasil paksa itu, sekretarisnya melahirkan seorang anak perempuan yang semakin membuat Mama Jonathan frustasi.


"Namanya siapa, Lex?" Alex mengangkat wajahnya dari bayi yang sedang asyik menyusu di dada istrinya.


"Belum ada."


"Kamu belum siapkan nama? bukannya kamu sudah pasti tahu jenis kelaminnya sebelum lahir?"


"Sudah, tapi memang belum memikirkan nama." Alex dan Hanum saling berpandangan.


"Mama dulu kalau punya anak perempuan, pingin kasih nama ... Sarayu," ucap Mama lirih.


"Bagus, Sarayu Putra Prasojo?" Alex meminta pertimbangan pada istrinya. Hanum mengangguk setuju.


"Helo, Sarayu semoga menjadi anak yang pintar dan cantik." Maura mengecup kaki mungil yang masih merah.


"Kamu sendiri kapan gendong bayi seperti ini?" goda Alex.


"Kak Jo sama Kak Willi dulu lah," kelit Maura.


"Jonathan sepertinya sebentar lagi, ya 'kan Jo?" Papa mengedipkan sebelah matanya.


"Masih kecil dia," sahut Jonathan tersipu.


"Siapa yang kamu maksud? Jamilah? memang dia mau nikah sama kamu?" cetus Hanum. Jonathan yang tadinya tersenyum lebar seketika langsung meredup. Kakak iparnya itu belum ada setengah hari merintih kesakitan, sekarang sudah mampu menyakiti perasaan orang lain.


"Selama belum duduk di depan penghulu, masih bisa direbut Kak." Maura memberi semangat.


"Anak kecil tahu apa, coba kamu yang duluan nikah. Kemarin cowok yang kamu bawa ke acara nikahan Kak Alex kok ga pernah keliatan lagi?" tanya Jonathan.


Sekarang berganti, Maura yang tadinya bersemangat tiba-tiba kelihatan enggan diungkit tentang hubungan pribadinya. Bagaimana tidak, jika pria yang dimaksudkan Jonathan tadi adalah pacar sewaan Maura untuk dibawa ke acara keluarga. Tentu saja setelah acara berakhir, hubungan pura-pura itupun ikut berakhir.


Keributan Jonathan dan Maura yang berdebat masalah pasangan dan kedua orangtua mereka yang meributkan tentang pengaturan waktu jatah mereka bermain bersama cucu, tidak menganggu kemesraan sepasang suami istri yang sudah resmi menjadi orang tua.


"Cantik," puji Alex.


"Iya, tapi masih kecil belum terlalu kelihatan," ucap Hanum sembari mengusap pipi bayinya.


"Bukan Sarayu, tapi Mamanya."


"Aku cantik?" Hanum mengangkat kepalanya dan memandang ke arah suaminya seolah tak percaya dengan pujian yang diucapkan Alex.


"Di mataku kamu cantik sekali." Alex mengusap pipi dan rambut Hanum.


"Benar?" Hanum memandang suaminya penuh haru.


"Benar, aura keibuanmu langsung keluar begitu melahirkan," tambah Alex yakin.


"Aura keibuan?" Sepertinya pujian Alex tidak terlalu mendatangkan kebahagiaan untuk istrinya, "Jadi seperti ibu-ibu gitu?" Senyum Hanum menghilang. Di benaknya ibu-ibu itu adalah wanita di atas usia 40tahun. Ia yang masih belum genap 22tahun jelas tidak mau disamakan dengan wanita dewasa.


"Sekarang 'kan memang sudah jadi Ibu?"


"Mama muda," ralat Hanum dengan wajah cemberut.


"Ibu muda juga sama, apa bedanya? "


"Beda. Pokoknya beda!"


...❤️🤍...