CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Berbagi


"Sudah belum periksanya ini?" sergah Alex kesal.


"Sudaaah, satu bulan lagi kontrol lagi ya. Ini resep vitaminnya nanti ambil di apotik depan."


"Dok, saya hamil?" tanya Hanum masih tak percaya.


"Iya, usianya empat minggu. Janinnya sehat, tapi dilihat dari gerakannya, sepertinya agak pendiam mirip Papanya," seloroh Angga.


"Oh, ya?" Alex berseru riang. Rupanya ia sangat percaya dengan apa yang di katakan oleh Angga. Padahal janin usia empat minggu belum dapat menunjukan karakter apapun.


"Iyaa, sering-sering diajak ngobrol sama main aja biar aktif ya," ujar Angga seraya menyerahkan kertas resep vitamin pada Alex.


"Terima kasih, ya." Alex menyalami Angga dengan penuh semangat. Hatinya sedang bahagia karena Angga mengatakan anaknya akan mirip dengannya.


"Kamu mau makan apa? kita makan di luar atau kalau kamu capek kita bungkus makan di rumah bagaimana?" Alex memberondong Hanum dengan pertanyaan.


"Terserah Mas Alex aja," ucap Hanum pelan seraya mengusap perutnya yang masih rata.


Ia juga sangat senang ada kehadiran mahkluk mungil yang tumbuh di perutnya, tapi pikirannya sekarang sedang terbelah memikirkan nasib keluarga pantinya yang berada dalam kekuasaan Pak Eko.


Alex memutuskan membeli makan di sebuah restoran dan membawanya pulang, karena Hanum tidak memberikan jawaban saat ia tanya.


"Num, makan dulu." Alex menahan tangan Hanum saat ia akan masuk ke dalam kamar.


"Iya, pasti nanti aku makan. Mas Alex makan duluan aja ya," ujar Hanum dengan senyum yang dipaksakan.


Alex terus mengikuti istrinya masuk ke dalam kamar, "Masih ga enak badan?" tanyanya khawatir.


"Udah enggak." Hanum duduk di depan meja rias. Wajahnya terlihat pucat dan suram di pantulan cermin.


"Ada yang kamu sembunyikan dari aku. Aku tahu, tapi aku mengharapkan kamu menceritakan sendiri. Ada apa, Hanum? Kamu tidak percaya denganku?" Alex berjongkok menghadap ke arah Hanum dengan satu lutut menyentuh lantai.


"Kenapa dengan Pak Eko?"


"Dia yang sudah membuat Ibu Anita dan adik-adik pergi dari panti."


"Iya, aku tahu. Papa kemarin sudah cerita."


"Bukan seperti itu." Hanum menggelengkan kepalanya keras, "Pak Eko menyembunyikan mereka, aku lihat foto-fotonya. Dia akan memberitahukan dimana keluarga pantiku asal ...." Hanum meremas tangan Alex yang berada di atas pa*hanya.


"Asal apa?" Alex sudah mulai meradang.


"Aku melepas Mas Alex," cicit Hanum dengan suara tercekat.


Alex menangkup kedua pipi Hanum, "Mengapa hal sepenting ini tidak kamu ceritakan padaku? Aku suamimu, kalaupun benar kamu mengikuti permintaan baji*ngan itu untuk melepas aku. Aku yang tidak akan melepaskanmu." Alex menatapnya dengan tegas.


"Aku takut dia berbuat jahat sama adik-adik. Perasaanku mengatakan hal itu." Hanum meremas baju di dadanya.


"Aku juga sama khawatirnya denganmu. Mama sama Papa juga khawatir, bukan hanya kamu. Mereka semua juga adik-adikku, Num. Mereka juga anak-anak Mama dan Papa, bukan hanya sekedar penghuni panti. Ibu Anita sudah menjadi bagian keluarga kami jauh sebelum kamu lahir. Kenapa kamu menganggap semua ini hanya masalahmu?" Mata Alex juga sudah mulai berkaca.


"Aku takut, karena aku penyebab semua ini. Aku menyesal." Hanum semakin terisak dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kamu ga salah. Sama sekali ga salah. Tolong jangan kamu tanggung sendiri," Alex merengkuh Hanum ke dalam pelukan. "Ada aku ... dan sekarang ada dia." Alex menyentuh perut Hanum.


"Sekarang kamu makan, lalu istirahat. Aku akan cari mereka sampai dapat dan aku pastikan Pak Eko akan mendapatkan balasan yang setimpal. Kamu percaya kan sama aku?" Alex semakin mengeratkan pelukannya saat Hanum semakin terisak. Beban di hatinya seakan terangkat saat ia berbagi dengan suaminya.


...❤❤...


diusahakan up lagi malam ya