CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Memaksa


"Pak Jo?" Jamilah dengan cepat membereskan kotak makannya saat menyadari kekasihnya itu sudah berdiri di dekatnya. Tangan Kendra yang mengulurkan tissu, sama sekali tidak dianggapnya.


"Sudah selesai?" tanya Jonathan datar.


"Sudah," ucap Jamilah agak tersendat. Ia merasa seperti maling yang tertangkap di bawah tatapan tajam Jonathan.


"Ikut aku," ujar Jonathan sembari mengambil tissu dari tangan Kendra dan memberikannya pada Jamilah. Ia sama sekali tidak menghiraukan keberadaan pria yang duduk di depan Jamilah.


"Kemana?"


"Rumah Stella." Wajah Jamilah yang tadinya senang dihampiri oleh kekasihnya, langsung meredup mendengar kemana tujuan Jonathan akan membawanya.


"Jam kerjaku belum selesai," ucap Jamilah malas.


"Ijin."


"Ga bisa seenaknya ijin gitu, Pak. Saya hanya karyawan di sini. Lagi pula saya ga ada urusan apapun di rumah Mba Stella," ujar Jamilah. Jamilah sama sekali tidak menyembunyikan rasa tidak sukanya mendengar nama Stella disebut.


"Aku ijinkan," ucap Jonathan sembari berjalan masuk ke dalam restoran.


"Pak! ... Pak Jo!" Jamilah berlari mengejar Jonathan yang sudah melangkah dengan cepat ke arah restoran.


Sekali lagi Kendra menyaksikan secara langsung perdebatan sepasang kekasih yang sama. Dalam hatinya ia bergumam andaikan wanita yang ia cintai diam-diam selama ini, manis dan penurut seperti Jamilah dan tidak galak seperti singa mungkin ia tidak segan mengutarakan isi hatinya.


"Permisi, saya mau ketemu pemimpin atau manager restoran ini." Jonathan langsung menghampiri salah satu pelayan yang sedang menunggu tamu memilih menu.


"Pak Joo." Belum sempat pelayan itu menjawab, Jamilah sudah menarik lengan Jonathan agar tidak membuat keributan di tempat kerjanya.


"Aku mau ketemu atasanmu, bawa aku menemuinya," ujar Jonathan santai. Ia menurut saat Jamilah menariknya ke sudut ruangan.


"Ngapain, Pak?"


"Mau minta ijin supaya kamu bisa pulang cepat hari ini," ujar Jonathan. Matanya mencari-cari sosok yang kiranya berwenang di restoran itu.


"Saya ga mau ikut."


"Kamu harus ikut," tukas Jonathan sembari berjalan ke arah Reno yang baru keluar dari ruangan karyawan. Jamilah menghentakkan kakinya kesal. Baru ini ia merasa jengkel dengan Jonathan.


"Selamat siang, benar Bapak pimpinan di sini?"


"Saya yang bertanggungjawab di sini, ada yang bisa saya bantu?" Reno mengerutkan keningnya. Ia tentu tahu siapa Jonathan, tapi yang menarik perhatiannya adalah salah satu bawahannya tampak cemberut di belakang Jonathan.


"Saya mau minta ijin untuk Jamilah agar bisa pulang lebih cepat siang ini."


"Oww, ada masalah apa ya, Pak kalau boleh tahu?"


"Urusan keluarga," sahut Jonathan singkat. Jamilah memutar kedua bola matanya keatas mendengar alasan yang diberikan Jonathan. Keluarga yang mana, batinnya.


"Tentu boleh."


"Sebaiknya kamu segera bersiap, kita ga punya banyak waktu. Aku tunggu di mobil," ujar Jonathan begitu Reno memberikan ijin. Tanpa menunggu Jamilah masuk ke dalam mengambil tas dan membuka celemeknya, Jonathan sudah keluar dari restoran menuju ke mobilnya.


"Mau urus pernikahan yaaa," goda Pak Reno.


"Gara-gara Pak Reno! ngapain sih pakai diijinin segala," sembur Jamilah sembari melepas celemeknya dan menghempaskannya ke atas meja.


"Loh, biasa karyawan kalau minta ijin 'kan maunya dibolehkan," ujar Pak Reno dengan wajah melongo.


Jamilah masuk ke dalam mobil dengan wajah terlipat. Ia sengaja menghempas pintu mobilnya sedikit lebih keras agar Jonathan tahu kalau ia tidak suka pacarnya menemui wanita lain.


"Kamu kenapa sih, La?"


"Makan dulu, dong. Gimana bisa cepat sembuh kalau ga mau makan?"


"Iyaaa, ini aku otewe ke sana. Tunggu aja oke."


Ingin rasanya Jamilah merampas ponsel Jonathan dan melemparkannya keluar jendela, tapi ia khawatir juga jika sebagai gantinya ia nanti yang dilempar Jonathan keluar dari mobil yang sedang berjalan.


Jonathan masih diam setelah menutup ponselnya. Ia tidak mengajak Jamilah berbicara sepatah katapun selama di perjalanan. Seperti ada awan mendung tebal yang menggelayuti wajah pemuda itu.


Sampai di rumah Stella, ia pun tidak mengajak Jamilah turun dari mobil. Jonathan seakan lupa ada orang lain di dalam mobil bersamanya. Jamilah berusaha menahan perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya.


Sekali lagi ia berusaha memahami kondisi sulit Jonathan. Jamilah mengikuti langkah panjang Jonathan yang melewati halaman rumah Stella yang besar. Dari jauh ia melihat pintu utama dibuka dan Jonathan langsung masuk dengan tergesa.


"Mba cari siapa ya?" tanya pengurus rumah yang membuka pintu saat Jamilah ingin masuk menyusul Jonathan.


"Sa-saya tadi datang sama Pak Jonathan," ujar Jamilah menunjuk ke arah Jonathan yang sudah tak terlihat di ujung tangga.


"Ow, duduk di sini aja Mba tunggunya." Pengurus rumah tangga itu menunjuk sofa besar di dalam ruang tamu.


Jamilah berjalan pelan ke arah sofa yang ditunjuk, matanya terus mengarah ke arah pintu kamar yang Jonathan masuki. Dalam hatinya terus bertanya, sedang apa kekasihnya berada di dalam sana?, adakah orang lain selain mereka berdua?


Tangan Jamilah saling meremas gemas, hatinya gelisah antara cemburu dan marah karena merasa diabaikan. Untuk apa ia dibawa kemari jika dianggap tidak ada.


"Milah! ayo naik." Suara panggilan Jonathan dari lantai dua sedikit membuatnya terkejut, "Kamu ngapain di bawah?" tanya Jonathan begitu ia sampai di anak tangga yang paling atas.


"Bapak juga ngapain di dalam kamar berduaan aja," cetus Jamilah sembari melirik ke dalam kamar dan memastikan kalau ternyata hanya ada Jonathan dan Stella di dalam kamar.


"Kamu cemburu?" Jonathan sedikit menggoda dan menahan senyumannya.


"Saya ngapain ikut kesini?" Godaan Jonathan tidak berimbas apapun pada Jamilah yang sedang panas hatinya.


"Masuk." Jonathan menggiring Jamilah masuk ke dalam kamar Stella yang luas.


"Hai, Milah," sapa Stella dengan raut wajah tanpa ekspresi.


Stella jauh lebih baik kondisinya dibanding saat di rumah sakit. Tidak ada lagi alat bantu pernapasan, yang masih ada hanyalah jarum infus yang tertancap di lengan Stella.


"Hai, Mba Stella bagaimana kabarnya, sudah baikan ya," sapa Jamilah ramah.


"Lumayan," sahut Stella singkat.


"Syukurlah." Entah mengapa, Jamilah merasa sikap Stella sekarang berbeda jauh dari saat terakhir mereka bertemu.


"Jooo, aku mau itu." Stella menunjuk buah jeruk di atas nakas.


Jonathan spontan mengambil dan mengupas jeruk dan memberikan sepotong demi sepotong untuk Stella. Setelah beberapa saat baru ia sadar, ada Jamilah bersamanya.


"La, dibantu Milah ya, aku mau ke toilet dulu." Jonathan berniat melarikan diri dari kamar untuk menutup kecanggungannya.


"Biar aku aja." Stella mengambil jeruk dari tangan Jamilah.


Jamilah tercengang melihat perubahan sikap Stella saat Jonathan tidak ada di dalam kamar. Gadis itu tampak sehat dan baik-baik saja, tapi saat Jonathan ada bersamanya Stella seperti gadis yang lemah dan tak berdaya.


...❤️🤍...