
Jonathan tidak ingin membuang-buang waktu, ia segera keluar menuju ruang Direktur Utama yang terletak di ujung lorong. Tadi pagi baru saja selesai rapat besar, biasanya Papa akan ada di ruangannya sampai jam makan siang.
"Selamat siang, Papaku," ucap Jonathan setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk. Pak Beni hanya melirik dengan wajah tanpa ekspresi, persis seperti Alexander jika mencurigai sesuatu.
"Sibuk, Pa?" tanya Jonathan berbasa-basi.
"Kalau di kantor jelas sibuk, kalau santai tidur di rumah," sahut Pak Beni sedikit ketus.
"Widiih, jangan marah-marah Pa, keriputnya nanti nambah lagi."
"Mau apa kamu? Sudah hafal belum?"
"Nah, itu yang aku mau bicarakan sama Papa tercinta." Jonathan mulai melancarkan kata rayuannya sembari duduk di depan papanya.
"Mmm, aku butuh sekretaris, Pa," ujar Jonathan seraya menyengir.
"Sekretaris sebesar itu kamu ga kelihatan?"
"Cimoy? dia ga mau jadi sekretarisku, maunya jadi sekretaris Kak Alex. Tadi aja minta tolong belikan sarapan di bawah nolak," ujar Jonathan sewot.
"Memang dia bukan sekretarismu, kamu cuman pinjem. Lagian tugas sekretaris itu bukan belikan makanan. Untuk apa kamu sekretaris, kerja belum ada satu hari mau macem-macem!"
"Gini loh, Pa." Jonathan mulai membetulkan posisi duduknya menghadap papanya serius.
"Papa kan tahu aku dari jaman masih sekolah, paling ga bisa menghafal. Tapi kalau praktek nilaiku tinggi, dan aku cepat menguasai pelajaran teori kalau penjelasan guru aku rekam dan diputer-puter ulang terus. Benar kan, Pa?"
"Hmmm." Pak Beni masih mendengarkan penjelasan putra bungsunya yang agak nyeleneh.
"Jadi .. aku butuh orang yang bisa membacakan aku semua berkas yang Papa berikan tadi. Papa tenang aja, kalau urusan menawarkan, menjual, niiih jagonya." Jonathan menepuk dadanya bangga.
"Jadi, kamu cari sekretaris buat gantiin kamu belajar, yang mau bacakan berkas, penawaran, company profile seperti dongengin buat kamu, gitu?"
"Hehehe, kurang lebih seperti itu."
"Boleh."
"Jadi bisa, Pa??" Jonathan membelalak senang, tak mengira kalau permintaannya langsung diterima.
"Bisaa, tapi kamu bayar sendiri gajinya. Tidak bisa masuk dalam pengeluaran perusahaan."
"Ya kamu gaji orang itu sendiri pakai uang kamu."
"Ow, ya udahlah. Ga masalah, paling untuk kerja awal standart UMR kan?" ucap Jonathan penuh percaya diri.
"Ya, benar. Tapi, apa Papa sudah bilang belum kalau selama kamu kerja kamu dapat gaji juga."
"Benar, Pa?? Jadi aku dapet dobel dong, transfer bulanan dari Mama sama gaji bulanan." Mata Jonathan semakin berbinar.
"Kalau sudah kerja itu berarti sudah dewasa, harusnya anak kasih sebagian gaji untuk keluarga, bukannya malah minta dari orang tua."
"Hehehe, iya nanti kalau sudah gajian aku kasih mama juga."
"Maksud Papa, sejak kamu mulai kerja, Mama sudah tidak lagi transfer kamu uang."
"Heh? lalu aku uang dari gaji doang, Pa?" Jonathan mulai panik. Bagaimana tidak, jika uang yang biasanya ia dapat dari mamanya tiap bulan, sangat mendukung untuk gaya hidupnya yang sangat boros.
"Cukup, gajimu sebagai wakil CEO di masa training bisa untuk traktir cewek tiap malam minggu dia Mac Gober." Jonathan meringis mendengar jabatannya yang training sebagai wakil CEO
"Memang gajiku berapa, Pa?" Jonathan mulai khawatir. Pak Beni mulai menuliskan perincian di atas kertas lalu menggeser ke hadapan Jonathan.
"Pa, kok cuman segini?" Suara Jonathan sudah mulai seperti menahan tangis.
"Mau berapa? kamu juga belum bisa apa-apa. Malu dong sama adikmu Maura, dia dari masih kuliah sudah banyak menghasilkan rancangan design perumahan untuk perusahaan ini." Jonathan semakin merengut dibandingkan dengan Maura, adik perempuannya dari lain ibu.
"Terus aku gaji sekretaris pake duit dari gaji ini juga?"
"Ya terserah."
Ucapan Papa seakan ucapan perpisahan Jonathan, pada hidup foya-foyanya.
Dadah para gadis, dadah tongkrongan elit, dadah klub malam, dadah pakaian branded, dadah restoran mewah. Semuanya seperti melambaikan tangan di kepala Jonathan.
...❤🤍...
Lanjut nanti sore yaa.
Yang belum tahu siapa itu Maura baca di "CINTA JANGAN DATANG TERLAMBAT" Ya