CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Restu adik itu penting


"Adik? jangan bohong sejak kapan kamu punya adik?" Stella masih tidak terima dan berusaha menggapai Maura yang bersembunyi di balik badan Jonathan.


"Dia adikku, La!" Jonathan menghalau tangan Stella yang akan menarik rambut Maura. Ia juga sempat memberikan lirikan peringatan pada adiknya yang terus menjulurkan lidahnya pada Stella.


"Kita mau sampai jam berapa di sini??" seru William dari dalam mobil.


"Kamu masuk!" Jonathan membalik badan Stella lalu mendorongnya masuk ke dalam mobil, "Kamu terakhir!" seru Jonathan seraya menarik tangan Maura saat adiknya itu akan menyusul Stella masuk ke dalam mobil.


"Weeekkk!" Stella membalas menjulurkan lidahnya kearah Maura.


Jontahan memutuskan untuk duduk di antara Stella dan Maura dari pada di tengah perjalanan dua wanita itu saling mencakar.


Sepanjang perjalanan Jonathan sibuk melerai dua pertikaian gadis yang duduk di kanan dan kirinya. Maura sering mencari masalah selalu mengganggu Stella dengan menyandarkan kepala ke bahu Jonathan atau bicara dengan nada manja. Sifat Jonathan yang playboy membuat Stella tidak percaya jika Maura adalah adik dari Jonathan. Meski pria itu sudah berulang kali berusaha meyakinkannya.


Sementara kedua pria yang duduk di bangku depan, asyik bercerita dan sesekali menertawakan raut wajah Jonathan yang sudah semakin kusut di bangku belakang.


Sampai di tanah hilir, Raditya yang sudah dikenal warga sekitar, tidak menemui kendala besar saat menjelaskan pada warga perihal pembangunan proyek Jonathan. Dan Maura yang pintar berkomunikasi dengan caranya yang atraktif, dalam waktu singkat dapat dengan mudah menarik perhatian warga untuk ikut andil dalam perencanaan pembangunan argo wisata mereka.


Sementara itu Stella masih betah duduk di pojok balai enggan terkena panas matahari.


"Ga gabung sama mereka?" Raditya menghampiri Stella lalu menunjuk William, Jonathan serta Maura yang sedang berbincang dengan kepala desa.


"Males deket cewek centil," ucap Stella ketus sembari mengipas-ngipas wajahnya.


"Siapa? Maura?" tanya Raditya. Stella menanggapi hanya dengan cebikan bibirnya.


"Kalau suka sama kakaknya, harus dekati adiknya juga," ujar Raditya.


"Emang dia benar adiknya Jonathan?" tanya Stella mulai ragu.


"Iya," sahut Raditya meyakinkan.


"Bukannya dia itu adiknya si William? sejak kapan Jonathan punya adik, aku kenal sejak SMU dia itu anak bungsu," ucap Stella masih berpegang pada pendiriannya.


"Saya kenal sejak mereka masih bocah dan masih minum dari botol susu. Saya yakinkan kalau Maura itu adik William dan Jonathan. Lebih jelasnya kamu silahkan cari tahu sendiri," jelas Raditya sembari berjalan menjauh.


Stella tertegun mengamati tiga orang yang sedang berbicara serius dengan tetua desa. Wajah Maura memang terlihat lebih mirip Jonathan ketimbang William yang mempunyai paras blasteran.


Sedetik kemudian, Stella baru sadar jika ia baru saja membuat kesalahan yang besar. Segera ia mendekat ke arah ketiga saudara itu.


"Hai," sapa Stella dengan senyuman manis, "Aku bisa bantu apa nih."


William, Jonathan dan Maura saling berpandangan tapi tidak ada satu pun yang berniat menyahuti pertanyaan Stella.


"Kamu bantu saya aja yuk," ajak Raditya karena kasihan melihat Stella yang diabaikan oleh tiga bersaudara itu.


"Sombong!" gerutu Stella sembari menghentak-hentakkan kaki mengikuti langkah Raditya.


"Mereka anaknya baik-baik kok, kamu mungkin yang terlalu memaksakan diri," ujar Raditya. Stella masih mengomel sembari memandangi ketiga saudara itu dari jauh, "Kamu suka sama Jonathan?" tanya Raditya sembari menyodorkan botol air mineral.


"Ga tau." Stella menggeleng. Sejujurnya ia tidak mengerti akan perasaannya, yang ia tahu adalah ia tidak mau terima adanya penolakan.


Raditya tertawa pelan mendengar jawaban Stella, "Sama perasaan sendiri kok ga tau."


"Emang ga tau kok!" sembur Stella kesal.


"Lah kok jadi marah sama saya?"


"Ngapain juga Om ngatain aku memaksakan diri sama Jonathan, emang Om siapa??" seru Stella sembari menghadap ke arah Raditya dengan kedua tangan di pinggang.


"Maaf kalau kamu tersinggung. Saya bukan siapa-siapa kok, tidak penting untuk dikenal," ujar Raditya dengan kedua tangan terangkat keatas. Dalam hatinya ia menertawai reaksi gadis belia di hadapannya.


"Mau minum ga?" tanya Raditya lagi. Botol mineral yang sejak tadi di acungkan belum disentuh sama sekali oleh Stella.


"Ga haus!" cetus Stella angkuh.


"Terserah," sahut Raditya tak acuh, lalu ia membuka segel air botol mineral itu dan menegaknya langsung.


"Kita balik sekarang?" tanya Raditya pada Jonathan dan Maura yang berjalan mendekat.


"Kak Willi masih di toilet, Om. Kita tunggu sebentar ya," sahut Maura.


"Hai, Maura capek ya?" Stella tersenyum sembari berjalan mendekati Maura.


"Jelas capek karena kerja, kamu aja yang pemalas. Ngikut tapi ga ada gunanya," sembur Maura. Stella berusaha menahan emosinya.


Sepanjang hidupnya tidak ada yang berani mencecarnya terkecuali Jonathan. Kalau bukan adiknya Jonathan, akan dipastikan rambut Maura sudah rontok di tangan Stella.


"Sory, tadi bukannya ga mau bantu, cuman aku pusing kalau kena panas matahari," ujar Stella.


Maura tidak mengacuhkan jawaban Stella, sama sekali tidak tersisa rasa peduli pada gadis itu. Bagaimanapun caranya ia tidak akan merestui hubungan Jonathan dengan gadis yang sok sosialita seperti Stella.


"Jo, anterin beli minum dong. Aku haussss," rengek Stella. Sejak datang tadi, belum ada setitik air yang masuk mulutnya.


"Mau beli di mana? warung dari sini jauh. Tadi kan kita beli air mineral, sudah habis?"


"Ini sepertinya botol terakhir," sahut Raditya sembari mengacungkan botol air mineral yang sudah sisa separuh.


"Iiih, udah tahu terakhir kenapa diminum?!"


"Kalau mau ambil aja." Raditya kembali menyodorkan botol air mineral miliknya.


"Jijik! ... Jooo, nanti mampir beli minum yaaa," rengek Stella.


"Nanti ya nanti! kalau tahu cuman bikin pusing lebih baik kamu ga usah ikut tadi." Jonathan mulai tidak bisa menahan emosinya menghadapi tingkah laku Stella. Di tengah cuaca yang terik dan negosiasi dengan tetua desa yang alot, membuat Jonathan semakin tertekan.


Stella berusaha menahan air mata yang akan menetes demi sebuah gengsinya. Apalagi Maura meledeknya dengan gerakan bibir 'kapok' yang tanpa suara.


"Kalau haus minum aja, tadi bibir saya juga ga nempel di botolnya kok." Raditya masih berusaha menawarkan air minum pada Stella.


"Ogah," sahut Stella sembari berbalik menyembunyikan matanya yang mulai berkaca.


Sepanjang perjalanan kembali ke kota, Stella tidak berani mengeluarkan sepatah katapun. Jonathan dan Maura sudah tidur sejak mereka masuk ke dalam mobil. William yang tadinya terjaga menemani Raditya yang bergantian memegang kemudi mobil, akhirnya tak kuasa menahan kelopak matanya yang terasa berat.


"Kalau ngantuk tidur aja, La," ujar Raditya. Dari kaca spion, matanya sedari tadi mengawasi Stella yang berusaha menahan kepalanya agar tidak jatuh ke pundak Jonathan. Bukan ia tidak mau bersandar pada Jonathan, bahkan ia ingin sekali, tapi diakuinya mentalnya sudah menipis karena Jonathan sering menghardiknya.


"Kita mampir makan dulu aja ya, sudah hampir malam juga," putus Raditya sembari mengarahkan kemudi mobil masuk ke dalam area parkir restoran.


"Sudah sampai?" tanya Jonathan sembari menguap lebar.


"Kita makan dulu ya," ucap Raditya yang sudah bersiap-siap turun.


Kantuk Jonathan seketika hilang saat menyadari di mana sekarang ia berada, "Om cari tempat lain aja!" seru Jonathan panik.


...❤️🤍...


Minta maaf ... minta maaf kemarin bolos up 🙏


Bawa cerita bagus, teman-teman pasti suka