
"Setidaknya kita harus bawa orang yang mengerti hukum dan bisa komunikasi yang baik dengan warga," ujar William.
"Hmmm." Jonathan hanya bergumam tak jelas masih dengan kepala tertelungkup di atas meja kerja William.
William dan Maura saling bertukar pandang lalu menghela nafas panjang melihat kelakuan saudaranya itu.
"Masih simpan kontaknya Om Raditya?" tanya Maura.
"Ah, iya." William langsung mencari nama di daftar kontak ponselnya, "Semoga Om Raditya bisa membantu," ucap William saat menunggu panggilan ponselnya diterima oleh Raditya.
"Selamat siang, Om. Ini William, anak Pak Raymond," ucap William saat terdengar jawaban dari seberang sana.
"Siang juga, William. Ngapain pakai dikenalkan nama Bapakmu segala, Will?" sahut Raditya tergelak kencang.
"Barangkali Om lupa sama saya."
"Mana mungkin lupa. Ada apa Will? ada yang bisa Om bantu?"
"Saya jadi ga enak nih, Om nelpon pasti ada maunya." William terkekeh pelan.
"Ga apa-apa, selama Om bisa bantu apa yang ga bisa untuk keluarga sendiri."
William tersenyum senang mendengar jawaban Kapolres Raditya kota mereka. Raditya merupakan kenalan baik dari suami sepupu Raymond Sanjaya, Papa William. Meskipun bukan keluarga, hubungan Raditya dengan keluarga besar William sangat dekat sekali.
William menceritakan permasalahan yang dialami oleh Jonathan dan meminta saran pada Raditya, bagaimana caranya meminta perijinan pembangunan dan komunikasi dengan penduduk yang tinggal di sekitar proyek.
"Di daerah hilir ya, Will. Aku ada kenalan perangkat desa di sana. Kita bisa atur jadwal kesana sama-sama," tutur Raditya.
"Om mau menemani kami kesana?" William tersenyum lebar lalu mulai memberi kode pada Maura dan Jonathan yang duduk di hadapannya. Keduanya langsung menegakkan tubuhnya dan menaruh perhatian penuh pada William yang berbicara dengan seseorang di seberang sana.
"Iya. Ga boleh?"
"Boleh-boleh, Om. Waahh aku senang banget loh, terima kasih ya Om." William berseru senang.
"Sama-sama, justru kalo Om biarin kalian jalan sendiri terus ada apa-apa, Om yang ga enak sama orang tuamu. Nanti Om kasih kabar aja ya, Will kapan waktu longgar Om di kantor."
"Terima kasih, Om." William mengakhiri pembicaraannya dengan hati lega.
"Siapa?" tanya Jonathan.
"Pak Kapolres Raditya Gumelar, kenal 'kan? Temannya Om Langit, kemarin acaranya Kak Alex datang juga," jelas William.
"Syukurlah, setidaknya aku ga dipenjara." Jonathan menghela nafas lega.
...❤️...
Selang tiga hari setelah mereka bertiga bertemu di kantor William siang itu, Raditya memberi kabar jika ia siap berangkat ke daerah hilir.
Pagi ini mereka janjian bertemu di kantor Jonathan sebelum berangkat untuk lebih mematangkan rencana lagi.
"Halo, Om. Terima kasih sudah mau bantu." Jonathan menyalami Raditya dengan semangat saat kapolres gagah itu masuk ke dalam ruangannya.
"Siapa yang bilang mau bantu??" Jonathan terhenyak mendengar celetukan Kapolres muda yang tahun ini sudah menginjak usia 40tahun tapi belum menikah itu, "Bercandaaaa ... hahahaha ... jangan dibawa serius gitu lah." Raditya menepuk-nepuk punggung Jonathan yang sempat lemas.
"Duh, kasihan Om wajahnya sudah pucat itu," timpal William tergelak.
"Gimana-gimana, ceritakan dulu detail rencana kalian." Om Raditya mengikuti langkah Jonathan ke arah sofa tamu.
Satu jam mereka berbincang dan merancang rencana lanjutan lalu sepakat untuk segera berangkat agar tidak terlalu malam pulangnya.
"Kita pakai satu mobil aja ya," ujar William.
"Setuju," timpal Jonathan sembari melempar kunci mobilnya ke arah William.
"Eh, apa maksudnya ini?" protes William.
"Satu mobil aja 'kan tadi bilangnya?"
"Iyaa, tapi kenapa kunci mobil kamu kasih ke aku??"
"Alasan!" sembur William kesal.
"Haai Joo ... eh, maaf ada tamu ya?" Stella yang masuk tanpa mengetuk pintu ruang kerja Jonathan terkejut saat mendapati tidak hanya pria idamannya yang ada di dalam ruangan.
"Hai Stella, pasti cari Jonathan," sapa William.
"Iyaa ... hai, Jo." Stella melambaikan tangannya ke arah Jonathan yang bersembunyi di balik tubuh William.
"Hai." Jonathan menanggapi singkat.
"Kalian mau kemana?" tanya Stella. Matanya dengan jeli melihat gerak orang-orang yang mengarah ke pintu keluar dengan membawa tas dan perlengkapan lainnya.
"Mau ke hilir lihat pembangunan hotelmu," tutur William. Jonathan yang masih berdiri di belakang tubuh William, sempat menendang kaki pemuda itu tapi tetap tidak diacuhkan oleh William.
"Waah, ikut dong." Stella berseru senang.
"Boleh, lebih ramai lebih asyik. Namanya siapa?" Raditya mengulurkan tangannya.
"Stella," jawab Stella sembari menyelipkan rambut di belakang telinga dengan tersipu malu. Jonathan dan William yang melihat tingkah Stella, memutar bola matanya ke arah atas dengan jengah.
"La, ini urusan pekerjaan kamu sebaiknya nggak usah ikut," ucap Jonathan sedikit ketus.
"Nggak apa-apa, Stella boleh ikut kok ya kan, Jo? ini 'kan proyek milik dia juga, jadi berhak tahu dong," ucap William sembari mengedipkan sebelah matanya, untuk memberi kode pada Jonathan agar bersikap baik pada Stella.
"Iyaa, 'kan untuk masa depan kita berdua juga," timpal Stella yang tadinya wajah sudah cemberut karena ditolak oleh Jonathan, langsung cerah setelah William membelanya.
"Ayo buruan kita berangkat sekarang nanti kita kesiangan," ucap Jonathan pasrah.
Stella langsung menggamit tangan Jonathan saat mereka berjalan menuju ke area parkiran.
Maura yang baru kali itu bertemu Stella berusaha menahan rasa gelinya saat melihat Jonathan yang biasanya berlagak seperti don juan dan selalu mendominasi jika bersama wanita, sekarang bagaikan kerbau dicucuk hidungnya.
Saat sampai di parkiran mobil, William langsung masuk dan duduk di bangku sopir. Sedangkan Jonathan, menarik tangan Maura dan membisikan sesuatu di telinga adiknya itu.
Maura mengangguk mengerti lalu mengikuti langkah Jonathan untuk duduk di bangku tengah, setelah sebelumnya ia mempersilakan Raditya untuk duduk di depan bersama dengan William.
"La, kamu masuk dulu," ujar Jonathan sembari membuka pintu tengah mobil.
"Eeh, kamu mau ngapain?" Stella menahan langkah Maura saat gadis itu akan masuk dan duduk di bangku tengah sebelah Stella.
"Mau duduklah," protes Maura kesal karena merasa dihalangi. Belum lagi ia sejak tadi menahan rasa kesal melihat tingkah Stella yang mengesalkan.
"Ini tempatnya Jonathan kamu di belakang aja," ucap Stella ketus.
"Nggak mau! enak aja." Maura tetap berusaha menerobos masuk ke dalam mobil.
"La, apa-apaan sih kamu?! biar aja dia duduk sini," bela Jonathan.
Stella yang tidak tahu bahwa Maura itu masih adiknya Jonathan, semakin emosi mendengar Jonathan membela gadis lain.
"Tapi aku maunya kamu duduk di sebelah aku, Jo. Aku nggak mau dia duduk sebelah kamu." Stella bersikukuh. Sementara dua pria yang sudah duduk di bangku depan, hanya melongo melihat perdebatan di bangku belakang.
"Ya udah, dia duduk dekat jendela, aku di tengah kamu di sebelahku," putus Stella.
"Ih, Bang Jo duduknya sama aku aja ya," Maura berkata manja sembari memeluk lengan Jonathan. Maura merasa gemas melihat tingkah laku Stella dan ingin semakin memanas-manasi wanita itu.
"Nggak bisa! Jonathan duduknya sebelahku. Kamu itu dasar cewek kegatelan!" Stella turun dari mobil lalu mendorong tubuh Maura dengan kasar.
"Stop! kamu tuh apa-apaan sih, La! dia adikku," ujar Jonathan kesal.
...❤️🤍...
Masih ingat dengan Kapolres Raditya? kawan lama Langit Angkasa, suami dari Gita Gempita ini muncul di bab 78 di novel Ternyata itu Cinta.
Mmm, sepertinya Raditya akan dapat sedikit porsi di novel ini