
Jonathan tidak mau menunda lebih lama lagi, ia menepati janjinya segera membawa Jamilah ke atas pelaminan. Siang itu keduanya sedang berada di sebuah butik untuk mencoba gaun pengantin.
"Badan calonnya mungil, Mas jadi saya buat gaun yang simple biar ga kelihatan berat dan tenggelam," ujar empunya salon.
"Atur aja, saya percaya apapun yang dipilihkan Bu Sri pasti bagus dan cocok," sahut Jonathan ceria. Sejak aksinya melamar Jamilah di depan orang banyak, hatinya terus berbunga-bunga. Wajahnya yang ceria sengaja ia tidak tutup-tutupi.
"Calonnya sudah punya KTP belum, Mas?" goda salah satu pegawai salon.
"Sudahlah, emang butuh KTP untuk apa? Bisa apa bayar gaun pakai KTP?"
"Syukurlah, kirain umurnya masih di bawah 17tahun," seloroh pegawai salon itu diikuti tawa berderai dari pegawai yang lainnya.
"Ssstt, kalian ini usil betul," sela Bu Sri, "Maaf ya, Mba, Mas anak-anak di sini memang suka bercanda."
"Ga apa-apa, Bu biar lebih santai. Usia saya 21tahun, Mba," timpal Jamilah seraya tersenyum. Ia mengambil alih pembicaraan karena wajah calon suaminya itu sudah mengkerut kesal.
"Kamu makan yang banyak, biar badannya lebih berisi. Jangan sampai orang mengira kamu ga bahagia bersama aku." Jonathan menggerutu di dalam mobil saat perjalanan pulang.
"Iyaaa," sahut Jamilah malas. Inilah salah satu sifat Jonathan yang kurang ia sukai. Cepat marah dan ngambek. Usia tidak menjamin kedewasaan seseorang. Jarak usianya dengan Jonathan cukup jauh, tapi pada kenyataannya selalu ia yang berusaha memahami dan mengalah.
"Besok sudah ga kerja 'kan?" Jamilah menanggapi dengan anggukan kepala.
"Kita cari apartement yuk."
"Mau pindah lagi? Kenapa ga tinggal di apartement yang aku tinggali sekarang? Di sana cukup luas, kamar juga ada dua. Ada dapur, ruang tamu dan makan, WC dan balkon. Cukuplah kalau hanya untuk tinggal berdua. Lagian, kalau Pak Jo kerja saya hanya sendirian di apartement seharian. Kalau terlalu besar capek bersihkannya, kalau kecil seperti yang sekarang 'kan enak rapihinnya," papar Jamilah panjang lebar. Jonathan hanya melongo dengan kepala terangguk-angguk, ia sedikit takjub baru ini Jamilah berbicara sebanyak itu dengannya.
"Ya udah kalau kamu maunya seperti itu. Asal kamu nyaman aja di sana, aku ikut aja sama keinginan nyonya rumah. Kalau begitu, kita tentukan mau bulan madu kemana? Jepang, Korea, Bali atau Raja Ampat?" Jonathan mulai bersemangat membuka pembicaraan, tapi keningnya kembali berkerut ketika Jamilah menghela nafas kesal mendengar penawarannya.
"Apa harus keluar kota bahkan keluar negeri? Bulan madu itu apa sih? Emang mau ngapain di sana?"
"Eh, ya jalan-jalan berdu---"
"Tiap hari juga kita jalan-jalan berdua. Ini juga lagi jalan berdua ga harus keluar negeri juga, sayang uangnya. Pak Jo juga di perusahaan baru merintis nanti kena tegur Pak Beni kalau terlalu lama cuti. Lagipula masih ada proyek di tanah hilir dari Papanya Mba Stella, itu amanah Pak Jo jangan sampai lalai," sela Jamilah panjang lebar. Kedua kalinya Jonathan dibuat melongo dan tak sanggup membantah apa perkataan calon istrinya.
Jonathan melepas kancing teratas kemejanya. Lehernya terasa tercekik mendengar rentetan petuah Jamilah. Mengapa ia merasa wanita di sampingnya itu merupakan gabungan dari Mama dan kakak iparnya, bijak tapi cerewet. Apakah ia harus bersyukur atau merinding.
"Kenapa kancingnya dibuka? Nanti masuk angin loh. Kalau panas AC nya dibesarkan, atau jendela dibuka, jangan kancing baju yang dibuka nanti sakit, ga juga enak dilihat orang dikira berbuat yang ga benar di dalam mobil."
"Iya, tadi agak sesak aja," ucap Jonathan pelan. Ia kembali membetulkan kancing bajunya.
"Sudah sampai, aku turun ya." Jamilah tersenyum manis sebelum membuka sabuk pengamannya, "Eh, mau kemana?" Jamilah menahan tangan Jonathan saat pria itu juga ikut membuka sabuk pengamannya.
"Mau turun antar kamu naik," sahut Jonathan polos.
"Daaahh," sahut Jonathan lirih meski pintu mobil sudah tertutup dan Jamilah sudah menghilang dari balik pintu kaca apartement.
Jonathan masih duduk diam dan termenung di dalam mobil. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, mengapa ia merasa melihat sisi yang berbeda dari calon istrinya. Kata orang menjelang pernikahan biasanya ada banyak ujian yang dialami oleh kedua calon pengantin. Apakah ini termasuk ujian untuknya?
Jonathan memutar kemudianya pulang kerumah, keinginan awalnya ingin mampir dulu menikmati kopi bersama kawan-kawannya seperti biasa tiba-tiba meredup.
Sampai di rumah, ia tiba tepat waktu akan makan malam. Anggota keluarganya sudah duduk di depan meja makan. Mamanya dan Hanum keluar masuk dari dapur dan ruang makan.
"Tumben sudah pulang? Sakit?" tanya Mama melihat wajah lesunya.
"Pingin pulang aja." Jonathan menarik kursi di depan Alex.
"Sudah cuci tangan belum? Dari luar masuk dalam rumah cuci tangan dulu, apalagi ini mau makan," cetus Hanum saat lewat di belakangnya.
Pan tat Jonathan yang hampir menyentuh kursi, kembali terangkat. Ia melangkahkan kaki ke arah wastafel dan membasuh tangannya di sana. Dari kejauhan ia melihat Mamanya melayani Papanya dan kakak iparnya melayani kakaknya. Lalu ia kembali bergabung bersama anggota keluarganya.
"Pa, jangan makan sambal terlalu banyak katanya tadi sembelit," protes Mama saat Papanya akan mengambil sambal untuk kesekian kalinya. Papanya mendesah kecewa tapi tersenyum tipis.
"Uhhuuuk ... Uhuuk." Hanum terbatuk kecil. Alex dengan sigap menuangkan segelas air dan memberikannya pada istrinya.
"Pelan-pelan sedikit makannya, dikejar siapa sih?" gerutu Alex tapi dengan sayang ia mengusap punggung Hanum untuk membantu meredakan batuknya.
"Nanti Sarayu keburu bangun," sahut Hanum setelah mengatur nafasnya.
Jonathan memperhatikan interaksi keempat anggota keluarganya. Sebenarnya pemandangan semacam itu sehari-hari sering terjadi, tapi malam ini terlihat begitu indah di matanya.
...❤️🤍...
Mampir ke karya temanku juga yuk
blurb :
Rumah tangga Novi dan Surya sudah berjalan hampir tujuh tahun pernikahan. Dalam perjalanan rumah tangga mereka semua nampak baik-baik saja, tak pernah ada pertengkaran ataupun orang ke tiga dalam hubungan mereka.
Namun, dalam perjalanan rumah tangga mereka yang ke delapan tahun hadir sosok wanita yang di anggap sebagai benalu dalam rumah tangganya.
Keharmonisan rumah tangga mereka seakan di uji, oleh wanita tersebut.
Akankah mereka mampu melewati rumah tangganya dengan baik tanpa halangan?