
Stella masih berdiri di depan pintu salon meskipun mobil Jonathan sudah tak terlihat lagi. Ia tidak mempedulikan bajunya yang sudah mulai basah terkena tetesan air dari rambutnya.
"Mba rambutnya dikeringkan dulu yuk." Tepukan ringan di bahunya menyadarkan Stella dari lamunan.
Stella berusaha agar air matanya tidak terjatuh selama proses pengeringan rambutnya. Karyawan salon yang menangani rambutnya pun, tidak berani banyak bertanya. Mereka semua yang ada di dalam salon baik karyawan maupun pengunjung tahu dan mendengar perkataan Jonathan padanya, itu sungguh memalukan dan juga menyakitkan.
"Sudah Mba," ujar petugas salon lembut. Ia sangat mengerti kondisi perasaan pelanggannya malam ini.
"Terima kasih," ucap Stella pelan. Ia terus menunduk dari kasir hingga keluar dari salon.
Stella berdiri mematung di depan salon, menunggu taxi online pesanannya dengan tas belanja di tangan kanan dan kirinya. Sebuah mobil sedan keluaran lama mendekat kearahnya.
"Pesan taxi online, Neng?" tanya pengemudi taxi online dari jendela yang terbuka.
"Iya, Pak, tapi mobil sama nomer polisinya kok beda, Pak?" Stella membandingkan aplikasi dengan mobil di depannya.
"Mobil saya yang biasa dipakai untuk ambil penumpang mogok. Ayo masuk, Neng." Pengemudi itu membukakan pintu depan mobilnya.
"Saya di belakang aja, Pak." Stella berjalan ke arah belakang mobil hendak membuka pintu penumpang belakang.
"Maaf, Neng di bangku belakang kotor tadi ada penumpang mabuk terus muntah, belum sempat saya bersihkan," ujar pengemudi bertubuh tambun itu.
Walaupun kurang nyaman, Stella tetap mengikuti permintaan pengemudi taxi online karena ia sangat ingin segera sampai di rumah lalu mencurahkan kekesalan dan tangisnya di atas bantal.
Saat di dalam mobil, Stella selalu membuang pandangannya keluar jendela. Mata lapar pengemudi online yang menatapnya dari kepala hingga ujung kaki sangat membuatnya tak nyaman.
"Habis nyalon, Neng?" Stella hanya memberi tanggapan dengan anggukan tipis, "Pantes kelihatan cantik banget, wangi lagi." Stella menoleh cepat dengan sorot mata memperingatkan bahwa perkataan pengemudi itu sudah melewati batas.
"Jangan melotot gitu, Neng jadi tambah cantik saya 'kan jadi suka," goda pengemudi itu lagi.
"Maaf, Pak tolong jangan kurang ajar. Saya ga nyaman dengan perkataan Bapak. Saya bisa laporkan ke perusahaan tempat Bapak bekerja," ancam Stella. Pengemudi itu bukannya takut malah tertawa terpingkal-pingkal.
"Main lapor-lapor aja sih, Neng ini. Jangan terlalu serius, Neng kita asyik-asyik aja dulu." Pengemudi itu semakin bertingkah berani dengan memegang lutut Stella.
"Ahhh, kurang ajar!" Stella menepis tangan berkuku hitam itu dan memukul kepala pengemudi taxi online itu dengan tas tangannya.
"Perempuan sialan!"
Plaakk! Telapak tangan pengemudi taxi online itu menampar wajah Stella dengan keras.
"Toloooonnggg!" Stella memukul-mukul jendela mobil dan berusaha membuka pintu mobil yang sejak awal Stella masuk, sudah dikunci oleh pengemudi.
Suasana jalan yang sepi karena sudah hampir larut malam, menguntungkan pengemudi, tapi tak urung membuatnya panik dengan teriakan Stella.
Pengemudi itu mengambil sebuah pisau lipat dari dalam laci mobil, lalu menempelkan mata pisau ke perut Stella.
"Kamu teriak lagi, aku tusuk," ancam si pengemudi.
"Tolong, Pak ... ampun saya cuman mau pulang." Tubuh Stella bergetar ketakutan.
"Saya juga mau kamu diam," tekan pengemudi. Stella berusaha tak bergerak agar tidak memancing kemarahan si pengemudi.
Air mata sudah membasahi wajahnya. Bibir yang terluka akibat tamparan tangan pengemudi, sudah mulai mengeluarkan darah. Hanya untuk menyusut air mata dan darah di bibirnya saja, Stella tak berani bergerak.
"Naah, kita di sana aja ya." Pengemudi itu menyetir dengan satu tangan sementara tangan satunya masih memegang pisau yang diarahkan ke perut Stella.
"Ya mau apa lagi kalau ga senang-senang." Pengemudi itu tertawa dengan mata menyapu ke seluruh tubuh Stella.
"Jangan, Pak ... toloong saya mau pulaaang. Bapak minta uang berapa aja saya kasiiiihh, saya mohoooonn." Stella menangkupkan kedua telapak tangannya memohon belas kasihan pada si pengemudi.
"Haaiiisshh, itu soal gampang. Sayang sekali mulus begini cuman bisa dipandangi. Kita senang-senang dulu, Neng." Pengemudi itu mulai membuka resleting celananya dan menarik rambut Stella hingga gadis itu menunduk ke arah kedua paha pengemudi.
"Jangaaaannn! saya ga mauuuu ...." Stella mulai memberontak dan berusaha melepaskan tarikan dirambutnya. Wajahnya menyiratkan kengerian saat melihat benda menakutkan di antara kedua kaki pengemudi.
"Ayoooo! cepatt!" Pengemudi itu mulai berlaku kasar. Ia menarik rambut Stella semakin kuat dengan tangan sebelahnya mencengkram leher Stella.
"Shaakkhiitt ... tholooong." Mata Stella terbelalak dengan nafas tersengal akibat cekikan tangan besar pengemudi.
Pengemudi itu tidak peduli jeritan kesakitan Stella, ia semakin beringas mencabik baju bagian atas gadis itu dan mulai merajahnya dengan brutal.
"Thooloongg ... hhhhh ... shaakhiiit ... hhhh ...." Nafas Stella tetap tersengal meski tangan pengemudi sudah tidak berada di lehernya.
"Heh, kenapa kamu?" Pengemudi itu yang sedang asyik menikmati tubuh bagian atas Stella terkejut saat melihat wajah gadis itu yang pucat seperti kertas.
"O ... obhaatt." Stella berusaha menggapai tas tangannya yang sudah terjatuh di dasar mobil.
"Aahhh, cantik-cantik penyakitan!" Pengemudi itu dengan tega menendang tubuh Stella keluar dari dalam mobil dalam keadaan setengah telanjang.
Pengemudi itu melemparkan belanjaan Stella, setelah sebelumnya mengambil ponsel serta dompet dari dalam tasnya lalu pergi begitu saja meninggalkan gadis malang itu terkapar hampir tidak sadarkan diri di pinggir jalan yang sepi.
...❤️...
Hilangnya Stella membuat keluarga serta teman-temannya kaget dan juga panik, termasuk Jonathan.
"Stella terakhir bersama kamu, Jo!" seru Papa Stella.
"I-iya, Om ta-tapi saya ... dia pulang dari salon sendirian." Jonathan meraup kasar wajahnya. Ia juga panik dan bingung apalagi sekarang dalam tekanan Papa dan Mama Stella.
"Kamu meninggalkan anak saya sendirian??"
"Sa-saya minta maaf, Om."
"Sampai terjadi sesuatu pada Stella, saya akan kejar kamu kemanapun, Jo!" Papa Stella mengacungkan jari telunjuk tepat di wajah Jonathan.
...❤️🤍...
Aku bawa cerita bagus lagi niih
Blurb
Ismawati namanya usianya sudah menginjak 34 tahun namun belum juga menikah. Karena sebuah janji yang membuat Isma masih setia menunggu cinta pertamanya meski tak pernah ada kabar. Disaat dirinya mencoba mencintai pria lain, cinta pertamanya datang kembali.
Januari pernah kembali untuk menemui Isma cinta pertamanya. Namun kenyataanya wanita itu akan menikah dengan pria lain. Merasa hancur akhirnya dia pergi tanpa mencari kebenarannya dulu.
Kebenaran terungkap, Januari ingin meraih kembali cinta pertamanya. Namun dirinya ragu akankah Isma mau menerima keadaan fisiknya yang tak lagi sempurna?
Akankah cerita cinta mereka akan kembali bersatu di saat Isma mencoba mencintai pria lain?