CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Mama tahu


"Peredam ruangan?" tanya Alex bingung, tapi setelah Jonathan tersenyum nakal seraya menggerak-gerakan kedua alis matanya, wajah Alex langsung merah padam.


"Hai, Akak ipar," sapa Jonathan heboh saat melihat Hanum masuk ke dalam ruang makan.


"Hai," sahut Hanum sambil tersenyum malu.


"Sehat, Num?" tanya Mama Alex. Raut wajah Mama Alex pun tidak jauh berbeda dengan putra bungsunya, menggoda dan usil.


"Sehat, Ma," sahut Hanum tersenyum.


"Syukurlah kalo kamu sehat," ujar Mama dengan senyum yang semakin lebar, "Nanti minta dibuatkan jamu ya sama Mbok Jum," lanjut Mama.


"Saya sudah bisa buat jamu sendiri kok Ma. Masih rutin sampe sekarang minum jamunya."


"Wooww pantes," sahut Jonathan.


"Kamu bisanya minum jamu apa?" tanya Mama tak menghiraukan sorakan putra bungsunya.


"Saya biasanya minum jamu kunyit asam, beras kencur sama daun sirih. Semuanya buat sendiri diajarkan sama Mbok Jum," ucap Hanum bangga.


"Waah, boleh dong nanti Mama coba."


"Masih ada tuh Ma, hari ini saya buatnya jamu beras kencur. Saya ambilkan dulu ya." Hanum langsung berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah dapur dengan semangat."


"Pantes sekarang Akak ipar jadi kelihatan lebih shimmering splendid (bersinar/berkilau indah) gitu. Hati-hati loh Kak, harus dipegang erat-erat kalo ga, bisa meletus seperti balon hijau," ujar Jonathan yang langsung disambut dengan lirikan tajam dari Kakaknya.


Ada perasaan tidak suka jika wanitanya dipuji pria lain, meski itu adik kandungnya sendiri.


"Ini, Ma." Hanum membawa segelas jamu beras kencur dan menaruhnya langsung di depan mama mertuanya, "Ini Mas Alex sama Jonathan kalo mau coba masih ada," tawar Hanum memperlihatkan teko kecil yang masih terisi setengahnya.


"Gaa," ujar Alex dan Jonathan kompak seraya menggeleng.


"Semua coba, biar sehat," titah Mama tegas seolah tak terbantahkan. Keduanya langsung mengangguk lesu.


Hanum menuangkan Jonatan dan suaminya masing-masing segelas jamu beras kencur.


Jonathan langsung minum dengan sekali tegak dan langsung mengernyitkan kening merasakan getir dan sedikit pahit di pangkal lidah.


"Diminum Kak, Akak ipar sudah susah-susah buatin loh." Jonathan mulai membakar suasana saat melihat kakaknya hanya memandangi gelas yang masih terisi penuh.


"Ga pahit kok." Hanum memberi semangat, "Bisa minum ini kalo di mulut rasanya ga enak habis minum jamu."


"Apa itu?" tanya Jonathan penasaran.


"Sinom, jamu juga tapi rasanya manis biasanya dipake untuk penawar rasa pahit sehabis minum jamu." Hanum menyodorkan segelas berisi cairan kuning ke depan Alex.


"Heh, kok aku ga dikasih tadi?" protes Jonathan.


"Nanti bisa bagi dua aja minumnya," tawar Hanum.


Mendengar itu Alex langsung meminum jamu beras kencur dan sinomnya dengan cepat, "Maaf, sudah habis," ucap Alex sambil memperlihatkan gelasnya yang sudah kosong. Sekarang ganti Jonathan yang memasang wajah masam.


"Kita berangkat sekarang? kamu sudah siap?" Alex menoleh pada Hanum yang sedang membereskan meja makan.


"Sudah, bentar aku ganti baju dulu ya."


"Kalian mau kemana?" tanya Mama Alex.


"Kami mau ke kampung XY, anter Hanum ke panti mau nemuin Ibu Anita," ucap Alex.


"Loh, kamu kok kenal sama Bu Anita, Num?"


"Mmm ... saya dari kecil tinggal di panti, Ma," cicit Hanum takut. Ia melirik pada Alex yang seperti biasa terlihat sangat tenang.


"Kamu kenapa ga pernah cerita sih, Hanum??" Nada suara Mama sedikit meninggi dengan raut wajah terlihat kecewa.


"Maaf." Hanum tertunduk dalam. Ia merasa malu sudah membohongi orang tua Alex untuk yang kedua kalinya.


Ia takut jika Mama Alex tahu kenyataan jika putra sulung yang diandalkannya, menikah dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya.


Apalagi kelakuan noraknya beberapa bulan yang lalu. Bisa-bisa Mama Alex beranggapan jika Ibu Anita, tidak becus mendidik anak-anak asuh di pantinya.


...❤❤...


Follow IG : Ave_aveeii


Jangan lupa yaa 🙏


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰