
Jonathan membuka pintu kamarnya dengan sangat perlahan, seolah khawatir orang yang di dalamnya akan terganggu. Padahal itu adalah kamar yang ia gunakan sedari kecil.
Jamilah tampak memperbaiki posisi duduknya begitu kepala Jonathan menyembul di balik pintu.
"Belum tidur?" tanya Jonathan berbasa-basi. Padahal dengan jelas istrinya itu masih segar duduk di tepian ranjang.
"Belum," sahut Jamilah singkat.
"Sudah mandi?" tanya Jonathan masih berbasa basi lagi, karena dengan jelas juga melihat rambut Jamilah yang masih sangat basah.
"Sudah," ucap Jamilah sembari merapikan rambutnya yang membasahi baju tidurnya.
"Kalau begitu aku mandi dulu." Jonathan berjalan sangat pelan menuju kamar mandi, "Bajumu basah," ucap Jonathan sembari menyentuh pundak Jamilah saat ia melewati istrinya itu.
"Ah, ya ga apa-apa nanti kering sendiri." Jari Jamilah tak sengaja menyentuh tangan Jonathan saat ia spontan ikut memegang pundaknya. Keduanya diam saling menatap dengan jemari masih tertaut.
"Milah ...." Jonathan beringsut mendekat dan akan duduk di sisi istrinya.
"Pak, katanya mau mandi," ucap Jamilah cepat sebelum suaminya itu menaruh pan tat di sampingnya.
"Oh ya, aku mandi dulu ya," ucap Jonathan bersemangat.
"Iya, Pak Jo mandi dulu," sahut Jamilah cepat.
Jonathan dengan lincahnya menyambar handuk dan pakaian ganti lalu melesat masuk ke dalam kamar mandi. Sepeninggal suaminya di dalam kamar mandi, Jamilah kembali gelisah apalagi terdengar senandung ria berpacu dengan suara kucuran air.
"Pak Jo pasti mengharap lebih malam ini, tapi aku 'kan lagi halangan. Ngomongnya gimanaaa." Jamilah menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Ia dan Jonathan selama menjalin hubungan tidak pernah melewati batas. Jangankan melewati batas, sekedar mencium pipi saja tidak pernah mereka lakukan. Pantas saja Jamilah kebingungan bagaimana cara untuk mengungkapkan sesuatu yang sensitif serta intim itu.
Saat suara air dari dalam kamar mandi tak terdengar lagi, Jamilah semakin resah. Ia mulai menggigiti kuku jarinya. Pintu kamar mandi terbuka, Jonathan keluar dengan rambut yang masih basah. Wangi sabun dan shampo berpadu dengan shaving foam langsung menyebar ke seluruh ruangan begitu Jonathan keluar.
"Aku lama ya?" tanya Jonathan dengan senyum terkembang.
"Gak kok." Jamilah menggeleng gugup. Malah ia berharap suaminya itu lebih lama lagi di dalam kamar mandi.
"Sudah ngantuk?" tanya Jonathan sembari duduk di sisi Jamilah. Jamilah hanya menggeleng tak mampu menjawab. Dadanya berdebar dan kepalanya sibuk merangkai kata penjelasan keadaan tubuhnya.
Keduanya duduk dengan diam sibuk dengan pikirannya masing-masing. Jamilah yang bingung bagaimana mengatakan kalau ia sedang datang bulan, sedangkan Jonathan sedang memikirkan bagaimana memulai hubungan intim pertama kali dengan cara tidak norak tapi terkesan gagah.
"Milah ...."
"Pak ...."
Keduanya hampir bersamaan memanggil dan menoleh. Spontan keduanya tertawa menyadari jika mereka sama-sama sedang gugup. Suasana kembali sedikit cair lagi.
"Kok masih Pak sih manggilnya." Jonathan menggeser tubuhnya semakin dekat ke arah Jamilah.
"Mas Jo?" Jamilah ikut menggeser tubuhnya menjauh dari Jonathan dengan gerakan samar.
"Mmm, lebih enak gitu 'kan dengernya," ujar Jonathan sembari melirik ke arah rambut Jamilah. Ia mulai mengingat-ingat pelajaran singkat yang kakaknya sudah berikan tadi.
"Milah ...." Jonathan semakin mendekat dan tangan terulur mengelus rambut panjang Jamilah.
"Kenapa, Mas Jo?" tanya Jamilah dengan suara gugup dengan sebutan baru untuk suaminya.
Mantap, juga tips dari Kak Alex. batin Jonathan senang, ia mulai merasa percaya diri dan siap untuk melanjutkan tips kedua dari Alex.
Puji dan jadikan dia ratu.
"Kamu cantik, Milah." Jonathan mulai meluncurkan serangan kedua, memuji dan membuat istrinya melambung. Tangan Jonathan semakin aktif mengusap rambut panjang istrinya.
Jamilah menggeliatkan lehernya semakin terbuai dengan perlakuan romantis suaminya. Ia sudah agak lupa dengan kondisi tubuhnya. Tanpa ia sadari Jonathan sudah membawanya ke dalam pelukan. Wangi shampo dan sabun yang menguar dari tubuh suaminya semakin membuat Jamilah terlena.
Langkah ketiga, pegang dagunya dan tatap matanya. Kamu bisa, Jo!
"Milah ...." Jonathan memanggil dengan suara sengau. Tangannya bergetar saat menyentuh pipi Jamilah dan turun ke dagunya.
Keduanya saling bertatapan dengan sorot mata sayu. Jari Jonathan menarik dagu Jamilah sehingga bibir istrinya itu sedikit terbuka. Jonathan menelan salivanya dengan susah payah. Pemandangan menantang di hadapannya sungguh sangat menggoda. Bibir Jamilah seakan memintanya untuk disentuh dan dicium.
"Milah ...." Jonathan memanggil sekali lagi dengan suara berbisik. Dengan sangat perlahan, ia mulai mendekatkan bibirnya ke arah wajah istrinya.
"Haatsyyiiii! ... Maaf, aku ga sengaja." Jamilah mengusap wajah Jonathan yang basah terkena semburan liur dari mulutnya.
"Maaf, Pak eh, Mas ... tadi hidungku gatal." Kata maaf berulang-ulang diucapkan Jamilah sembari tangannya membersihkan wajah suaminya. Ia tidak sedang sakit, tapi dengusan nafas Jonathan menggelitik hidungnya membuatnya tak bisa menahan rasa untuk bersin.
"Ga apa-apa." Jonathan mencoba tersenyum walaupun hatinya dongkol. Ia tidak mau suasana malam romantis ini akan rusak hanya karena sebuah bersin yang tidak sengaja dilakukan oleh sang ratu.
"Aku ambil tisu basah ya, nanti bau."
"Ga usah, wangi kok." Jonathan melontarkan rayuan mautnya. Tangannya menahan tubuh Jamilah yang akan berdiri.
Ia kembali mendekatkan wajahnya untuk mencium istrinya. Kali ini ia lakukan sedikit agak cepat, karena sudah tidak sabar lagi.
Bibir Jonathan menempel ringan di bibir Jamilah, perlahan ia menyesap bibir pucat milik istrinya. Tak ada penolakan bahkan Jamilah terlihat pasrah dan menikmati, Jonathan mulai merebahkan tubuh istrinya ke atas ranjang.
"Mas Jo, mau apa?" Belum sempat punggung Jamilah menyentuh ranjang, ia sudah bangkit lagi dan duduk dengan tegak.
"Ma-mau ...." Jonathan yang sedang dalam keadaan tegangan tinggi, tergagap melihat perubahan reaksi Jamilah yang drastis.
"Maaf." Jamilah tertunduk takut.
"Kenapa?, ga ada yang salah kok. Kamu pasti gugup, ga apa-apa aku juga. Semua pasangan baru menikah pasti mengalami hal yang sama pertamanya." Jonathan berusaha sok bijak menenangkan istrinya padahal dia sendiri gugup dan takut salah bertindak.
"Aku halangan," ucap Jamilah hampir menyerupai bisikan.
"Apa?, terhalang apa?"
"Datang bulan, haid, menstruasi," ucap Jamilah seraya menatap Jonathan. Beberapa saat suaminya itu tampak bengong dan mata mengerjap-ngerjap bingung. Otaknya sibuk mencerna arti kata yang diucapkan istrinya.
"Ow ... Yang keluar darah dari ... Itu?" Jonathan menunjuk ke arah belahan paha istrinya. Jamilah mengangguk lega, akhirnya suaminya dengan mudah menangkap arti kata yang ia katakan, "Lalu?" tanya Jonathan lagi.
"Yaa ... Belum bisa berhubungan." Jamilah tertunduk malu.
"Masa ga bisa?, emang darahnya banyak sampai ga bisa malam pertama? Apa kita coba dulu?" Jonathan berusaha menawar. Jamilah mengangkat kepalanya menatap suaminya tak percaya.
"Ga bisa! Tunggu satu minggu baru boleh dekat-dekat," ujar Jamilah kesal. Ia berdiri dari duduknya, lalu naik ke atas ranjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut sampai sebatas leher.
...❤️🤍...