
"Ini menu yang banyak dipilih pengunjung di restoran ini,” jelas Jamilah sembari menunjuk lembaran buku menu di hadapan Kananya. Sementara itu Jonathan berpura-pura tidak mendengar, ia berusaha menahan kepalanya agar tidak terangkat dan menatap wajah Jamilah. Ia takut jika matanya menatap wajah kekasihnya, ia tidak akan sanggup mengalihkan pandangannya dari wajah teduh milik kekasihnya itu.
“Ini enak ga, Yang?” tanya Kanaya dengan nada manja. Entah kenapa Jonathan merasa kesal ingin menutup mulut gadis cerewet di sebelahnya itu. Padahal tadi ia sendiri yang meminta Kanaya berakting sebagai kekasihnya dan mengharuskan bersikap mesra di hadapan Jamilah. Namun sekarang begitu Jamilah ada di dekat mereka, ia merasa tidak nyaman panggilan itu keluar dari mulut wanita lain. Ia takut Jamilah merasa sakit hati mendengarnya.
“Terserah kamu,” sahut Jonathan tak acuh. Tanpa sadar nada suaranya terdengar ketus.
“Iiih, Ayang tadi bilangnya mau pilih apa saja terserah aku, sekarang kok ngambek.” Kanaya malah semakin merapatkan tubuhnya di sisi Jonathan.
“Ya sudah pilih saja!” Sembur Jonathan. Siku tangannya menghalau tubuh Kanaya yang ingin menempel pada bahunya.
“Eemm, yang ini aja deh satu. Dia lagi sensi, Mba karena di sekitar sini katanya ada mantan ceweknya tapi ga tahu yang mana. Mungkin masih cinta kali ya? Gitu aja kok repot ya, masih suka tapi gengsi. Memang dasar cowok tuh ribet ya, Mba.” Kanaya terkikik geli dengan ucapannya sendiri, tapi tidak dengan Jonathan dan Jamilah.
Wajah keduanya memerah dan gerak geriknya semakin salah tingkah dan tidak terkendali. Jonathan menendang-nendang kaki Kanaya sembari membesarkan matanya, sedangkan Jamilah terbatuk-batuk karena tersedak air ludahnya sendiri. Pensil yang ia pegang pun terjatuh dan menggelinding ke bawah meja Jonathan. Spontan Jonathan membungkuk dan mengambil pensil yang bergulir yang berhenti tepat di dekat sepatunya.
“Terima kasih,” ucap Jamilah saat Jonathan menyerahkan pensilnya. Mata keduanya bertemu dan saling bertaut tidak sengaja. Inilah yang ditakutkan oleh Jonathan dan Jamilah, mereka tidak bisa mengalihkan pandangannya jika sudah saling menatap. Seakan ada magnet yang kuat mengikat bola mata mereka. Entah berapa lama mereka saling memandang sampai suara Kananya menyadarkan keduanya.
“Asik betul yang saling pandang-pandangan,” goda Kanaya.
“Maaf.” Jamilah memutus tautan matanya dengan Jonathan. Ia merasa malu, bagaimana bisa berpandangan mata dengan seorang pria sedangkan disisinya ada ceweknya.
“Ow, ga apa-apa, Mba. Mungkin dia sedang teringat sama ceweknya, atau mungkin Mba mirip sama ceweknya yang katanya tiba-tiba pergi menghilang entah kemana. Kasihan ya,” ucap Kanaya seolah-olah berbisik padahal suaranya cukup kencang untuk di dengar hingga bangku belakang mereka.
“Oww.” Jamilah menanggapi dengan senyuman canggung.
“Buruan milihnya,” sembur Jonathan semakin kesal.
“Iya, Sayang. Sudah milih kok. Mba nya ini yang mungkin belum catat, pensilnya tadi jatuh mungkin grogi,” ujar Kanaya.
“Maaf, tadi milih yang mana?” tanya Jamilah. Dalam hati merutuki kebodohannya.
“Kamu itu jangan berlebihan!” Jonathan menarik telinga Kanaya kesal saat Jamilah sudah kembali masuk ke dalam dapur.
“Berlebihan gimana? Tadi aku ‘kan ga nyebut nama,” elak Kanaya.
“Semua bonus yang aku janjikan batal!”
“Enak aja, ga bisa! aku sudah berusaha maksimal.”
“Ga peduli, ga usah banyak protes kamu menggagalkan semuanya. Sudah lumayan diajak makan enak, gratis lagi,” sungut Jonathan. Ia merasa dipermalukan di depan Jamilah tadi.
“Gagal gimana? Kalau cuman makan beginian, Papa aku bisa panggil koki terbaik ke rumah,” ujar Kanaya sombong.
“Kamu terlalu banyak bicara yang ga perlu tadi. Memalukan!”
“Kak Jo mau langsung berhasil?” tantang Kanaya. Jonathan malas menanggapi, ia melengos malas memalingkan kepalanya menghadap ke jendela luar. Melihat Jonathan yang hanya diam tak mau melihatnya, Kanaya memutuskan mengambil inisiatif sendiri.
Ia berdiri lalu berjalan ke tengah restoran yang berada dekat kasir dan dapur.
“Maaf Bapak dan Ibu sekalian, saya mengganggu ketenangan semuanya. Di hari yang cerah dan berbahagia ini, saya ingin mempersilahkan pria tampan nan macho yang duduk di pojok sana untuk mengungkapkan perasaannya pada seorang wanita terindah dihidupnya.” Kanaya berseru dengan lantang.
...❤️🤍...
Mampir ke karya temanku ya