
Meskipun Hanum memasang wajah ketus kearahnya, Alex tetap menatap penuh cinta ke arah istrinya. Lambat laun wajah istrinya itu memerah jengah dipandangi seperti itu oleh suaminya.
"Apaan sih ngeliatnya gitu amat. Pake senyum-senyum segala, malu tauk." Hanum mencubit lengan Alex gemas. Di belakangnya adik-adik panti terus menggodanya.
"Ciieee .. Cieee, Mba Hanuuum ...."
Mama, Papa dan Bu Anita tersenyum senang melihat orangtua dari Sarayu yang saling menggoda dan merajuk.
"Bantuin bawa bingkisan ini, Mas. Dasar si Jo, Jamilah diculik jadi ga bisa bantuin aku tadi." Hanum menggerutu kesal sembari menunjuk sepasang suami istri baru yang sedang duduk berdua di bangku ayunan.
"Biarkan saja, biar Mas Alex yang bantuin angkat." Alex mengambil alih dua kantong plastik besar berisi kue dan makanan kecil. Hanum menahan geli mendengar suaminya menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Mas Alex. Namun sekejap pula ia tersadar akan bahaya di balik rayuan dan ucapan manis dari suaminya.
"Yang Mas Alex bilang tadi di mobil hanya bercanda 'kan?" tanya Hanum ketika mereka sudah tinggal berduaan saja.
"Yang mana?"
"Mau kasih adek untuk Sarayu." Wajah Hanum mulai mengkerut.
"Serius."
"Iiissshh!" Hanum berdiri dari duduknya, menghentakkan kaki lalu akan beranjak keluar dari ruangan.
"Eh, eh mau kemana?" Alex menahan langkah istrinya. Ia menarik tangan Hanum dan mendudukan istrinya kembali di atas ranjang.
"Malas ah, sudah tahu aku ga setuju masih aja dibahas."
"Kamu yang buka pembicaraan, aku hanya menjawab." Alex menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Hanum, "Mau dengar penjelasanku?" Alex memegang dagu Hanum dan memalingkan dan menghadapkan kearahnya.
"Aku memang ingin punya anak lagi, kamu memangnya ga kepingin Sarayu punya adik?"
"Iyaa, tapi bukan se---"
"Ssttt." Alex menutup bibir Hanum dengan telapak tangannya, "Apa aku bilang harus sekarang?"
"Tadi di mobil, Mas Alex sendiri yang bilang supaya aku punya kesibukan lebih baik tambah anak aja."
Alex tertawa kecil melihat istrinya kembali emosi.
"Iya, itu benar. Bagi aku lebih baik kamu di rumah sama anak-anak, dari pada sibuk mempercantik diri demi orang lain."
"Tuuh kaan." Hanum menghentakan kakinya dan akan berdiri lagi.
"Salah kalau aku ingin kamu seperti itu?" Alex menahan tangan Hanum agar tetap duduk di atas ranjang. Hanum tak menjawab, ia melengos dan membuang wajahnya ke arah lain.
"Kamu benar ingin terjun lagi di dunia itu?" tanya Alex lagi setelah mereka berdua terdiam saling menunggu respon masing-masing.
"Salah kalau aku ingin kembali jadi model?" Hanum balik bertanya.
"Gak salah. Kamu boleh kembali jadi model produk kecantikan itu, tapi berikan aku alasan kenapa kamu ingin sekali kembali menjadi model di sana?"
"Namaku sudah melekat di produk itu, aku juga belum sepenuhnya keluar. Aku hanya ijin selama mengandung Sarayu. Aku juga bosan di rumah, kangen sama suasana pemotretan dan wawancara seperti dulu."
"Karena itu?"
Hanum mengangguk dengan semangat. Ia merasa surat ijin kerja sebentar lagi akan keluar.
"Baiklah kalau kamu memang kepingin sekali. Aku jadi teringat dengan Melani." Mata Alex menerawang jauh.
"Melani siapa?" Hanum mengerutkan keningnya curiga. Selama menikah, ia tidak pernah mendengar nama itu di sekitarnya.
"Melani Soerojo, model properti perusahaan kita. Dia sering muncul di televisi dan media cetak. Pintar, cerdas, kemampuan bicaranya bagus untuk kelas apartment mewah. Dulu saat aku menggunakan dia menjadi model sekaligus marketing, keuntungan perusahaan wuuusss, melonjak tajam." Alex tersenyum lebar dengan mata masih menerawang jauh seolah mengingat sesuatu yang indah.
"Kok aku ga tahu? Emang kapan dia kerjasama dengan perusahaanmu?" Nada bicara Hanum sudah mulai sedikit ketus.
"Dia minta kembali jadi model?"
"Ga secara langsung sih, hanya beberapa hari lalu saat kete---"
"Kamu ketemuan sama dia??" Hanum membesarkan matanya. Alex sedikit terkejut, tapi tetap berusaha tenang demi tujuan awalnya.
"Iya, dia mampir ke kantor."
"Kok ga cerita sama aku? yang mana sih orangnya, kalau sering tampil di televisi berarti terkenal dong." Hanum meraih ponselnya dan mencari nama model wanita itu di halaman pencarian. Begitu menemukan yang dicari, bibir Hanum semakin mengkerut.
"Aku ga setuju kalau dia jadi model atau kerja di tempatmu!"
"Kenapa? dia pintar dan cantik loh, omzet jelas naik kalau dia jadi marketingnya."
"Aku juga cantik, kalau pintar aku bisa belajar semua produk jualanmu. Jamilah aja bisa, aku juga pasti bisa!" seru Hanum bersemangat.
"Loh, kamu bilang mau teruskan jadi model perawatan wajah itu."
"Kalau aku jadi model perawatan wajah itu, kamu ambil dia jadi model kamu?" tantang Hanum.
"Ya kalau dia mau, bagus 'kan? Dia juga seperti kamu, jenuh ingin kerja jadi model properti lagi katanya."
"Gak boleh!"
"Terus?"
"Aku yang akan jadi model properti di tempatmu. Gratis juga ga apa-apa."
"Emang bisa?"
"Bisa. Aku nanti belajar, Milah pasti mau bantuin aku."
"Lalu, pekerjaanmu yang jadi model perawatan kecantikan itu? Ga usalah, aku ga mau kamu kecapekan. Biar aja si Melani masuk lagi jadi modelku, kamu tetap jadi model kecantikan itu."
"Aku pilih jadi model di kantormu aja. Nanti aku tolak yang model perawatan kecantikan."
"Benar?"
"Iya, asal kamu ga boleh ketemuan lagi sama si Mel-Mel itu, dan dia tidak boleh kembali jadi modelmu."
"Ow, baiklah. Bagus kalau gitu aku senang, kita akan sering bersama." Alex mengembangkan senyum kemenangan.
"Asal Mas Alex janji, pokoknya model papan rata itu tidak boleh lagi datang ke kantor," ujar Hanum sebelum keluar dari kamar karena mendengar Sarayu menangis.
Sepeninggal Hanum keluar dari kamar, Alex merebahkan tubuhnya ke atas ranjang dengan senyum lebar tak kunjung lepas dari bibirnya.
...❤️🤍...
Mampir ke karya keren teman aku yuk, sambil tunggu up lagi
Blurb:
Delon tidak menyangka di usianya yang ke 40 tahun dirinya menyandang status sebagai duda dan mempunyai dua anak kembar yang masing-masing berusia 20 tahun.
Hingga suatu ketika putra sulungnya yang bernama Edward meminta sekretaris pribadinya yang seumuran dengan Edward memintanya untuk merawat ayahnya yang bernama Delon yang sedang sakit.
Setiap hari bertemu hingga akhirnya mereka jatuh cinta dan ingin menikah. Bagaimana tanggapan ke dua anak kembarnya dan keluarga gadis tersebut? Apakah hubungan mereka berakhir bahagia atau kandas di tengah jalan mengingat perbedaan umur mereka yang terpaut 20 tahun.
Ikuti novelku yang ke 33