CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Terbang lalu kandas


Jonathan menggiring Jamilah masuk ke dalam ruang acara pernikahan dengan percaya diri. Hatinya yang tadi suram, berbunga dalam waktu sekejap.


Mereka berdua masuk tepat saat acara berdansa secara berpasangan dimulai. Lantunan melodi yang lembut dan cahaya penerangan yang diredupkan, membuat suasana semakin romantis.


Jonathan memutar tubuh Jamilah menghadap ke arahnya, merengkuh pinggangnya dan menarik Jamilah lebih merapat ke arah tubuhnya.


Keduanya mulai berdansa membaur di tengah-tengah pasangan lainnya. Jamilah sempat menangkap kerlingan menggoda dari Bu Devi dan Bu Hanum yang ikut berdansa bersama mereka.


"Joo, dansa sama aku dong." Seorang wanita menarik tangan Jonathan.


"Maaf, Stella aku hanya ingin berdansa dengan Jamilah." Jonathan kembali menggamit pinggang Jamilah yang sempat terlepas.


"Diih, kampungan banget namanya." Gadis bergaun yang melekat ketat di tubuhnya itu tertawa mengejek, "Ayolah, Jo." Stella dengan paksa melepaskan tangan Jamilah yang berada di pundak Jonathan. Ia lalu mendorong tubuh Jamilah menjauh, dan menggantikan dirinya memeluk Jonathan.


"Stella!" Jonathan menghardik lalu berusaha melepaskan lingkaran tangan wanita itu dari lehernya.


"Jo, kamu ga mau kan Papa aku menarik semua investasi yang sudah ditanam untuk pembangunan hotelmu?" Jonathan mengikuti arah pandang Stella.


Kedua orang tua Stella yang merupakan partner bisnis perusahaan keluarga Prasojo, sedang menatapnya sembari tersenyum lebar. Stella tersenyum puas saat Jonathan membiarkan tangannya tetap berada di lehernya.


Beberapa waktu lalu, Jonathan menandatangani perjanjian kerjasama dengan Pak Gunawan, orang tua Stella. Perjanjian yang ia tanda tangani merupakan pendanaan kucuran dana untuk investasi pembangunan hotel yang sebelumnya ditolak oleh Papanya sendiri.


Pak Beni, papa Jonathan menolak ide Jonathan untuk membangun hotel di pinggiran kota. Namun, Jonathan tetap nekat meneruskan pembangunan itu tanpa sepengetahuan papa dan kakaknya. Jonathan kala itu sedang dalam masa galau ditinggal oleh Jamilah, lalu ia melampiaskan waktu dan perhatiannya dengan pekerjaan.


Jamilah mundur dan membalikkan badan lalu berjalan menjauh. Baru sebentar ia bahagia sudah harus merasa kecewa lagi.


"Mil ... Milaah!" Jonathan berseru memanggilnya.


"Aku mau ke belakang dulu," sahut Jamilah.


"Biar aja ah, dia cuman mau pipis barangkali." Stella mengarahkan kepala Jonathan kembali menghadapnya.


Jonathan berharap lagu yang mengiringi dansa ini segera berakhir. Ia khawatir Jamilah akan salah paham melihat Stella memeluknya dengan sangat erat.


"Mau kemanaa??" Harapannya musnah saat musik berakhir, Stella tetap menahan tangannya.


"Aku mau cari Jamilah."


"Tunggu dulu, kamu dicari Papa." Stella menarik tangan Jonathan secara paksa.


"Halo, Jo." Pak Gunawan mengulurkan tangannya.


"Selamat malam, Om, Tante." Jonathan menyambut tangan kedua orang tua Stella dengan sopan.


"Bagaiman progress pembangunan Hotel Alam Indah, Jo?"


"Lancar, Om," sahut Jonathan singkat. Hatinya tak tenang, matanya terus mencari keberadaan Jamilah di antara tamu undangan.


"Luar biasa. Jiwa bisnismu semakin berkembang, Om tahu kamu bisa. Kepekaanmu terhadap pangsa bisnis sudah semakin terasah." Pak Gunawan menepuk-nepuk bahu Jonathan.


"Terima kasih, Om." Jonathan hanya menyengir mendengar pujian ayah Stella, karena sejatinya ia mengambil keputusan itu hanya untuk melampiaskan rasa sedihnya karena seorang gadis.


"Jo, om ingin Stella belajar banyak tentang bisnis, jadi dia bisa gantikan Om sewaktu-waktu. Kamu tahu kan Om sudah usia lanjut."


Stella adalah anak satu-satunya. Mama Stella baru dapat mengandung di usia yang sudah cukup lanjut, sehingga jarak usia mereka cukup jauh.


"Bagus itu, Om." Jonathan menimpali sekenanya.


"Jonathan yang bantu bimbing ya."


"Heh? kenapa saya?"


"Biasa kalau sama orang tua sendiri suka membantah. Lagian dia cuman mau sama kamu, Jo."


"Jadi Om titip Stella sama kamu ya, Jo."


"Ta-tapi, Om."


"Om percaya kamu bisa diandalkan, untuk urusan pembangunan hotel kamu jangan khawatir semua akan beres tepat pada waktunya jika Om yang ikut turun tangan."


"Gini, Om maksudnya saya belum mampu membimbing orang lain karena saya juga masih belajar," ujar Jonathan sembari melepaskan tangan Stella dari lengannya.


"Kamu terlalu merendah, Om aja yakin sama kamu. Ehm, Jo pembangunan hotel itu memakan biaya yang tidak sedikit. Kalau tiba-tiba Om tidak bisa meneruskan investasi, Om khawatir kamu terlilit hutang yang sangat besar. Bagaimana tanggapan Papa kamu?"


Mulut Jonathan yang tadinya terbuka ingin membantah seketika mengatup. Tenggorokannya terasa berat untuk sekedar menelan air liur.


"Om sama Tante kesana dulu ya, belum sempat menyapa orang tuamu tadi kami datangnya terlambat." Pak Gunawan menunjuk ke arah Pak Beni dan Bu Devi yang sedang berbincang dengan koleganya.


"Makan yuk." Stella menarik tangannya.


"Nanti dulu, ah! kamu tuh ngapain pake minta aku ajarin kamu bisnis segala. Sejak kapan kamu tertarik tentang bisnis, saham, investasi dan segala keruwetannya?" Jonathan berkacak pinggang di depan Stella.


"Memang ga tertarik, aku cuman tahu harga sepatu dan tas yang terbaru bukan harga saham." sahut Stella tak acuh.


"Lalu kenapa Papa kamu ngotot pake nitip kamu ke aku segala?"


"Karena aku yang minta. Aku maunya deket sama kamu terus, Jo." Stella merangkul leher Jonathan.


"Apa sih!" Jonathan menepis kedua tangan Stella yang melingkar di lehernya.


"Iiih, Jo ini kasar banget." Stella merengut manja. "Kamu ga usah repot-repot ajarin aku bisnis. Cukup ajarin cara bercintaah," bisik Stella dengan gaya sensual.


"Gila!" Jonathan mengibaskan tangannya lalu pergi menjauh. Pergaulannya memang luas dan cenderung nakal, tapi sekalipun ia tidak pernah menyentuh wanita lewat dari batas yang wajar menurutnya.


"Mau kemana, Jo. Kok aku ditinggal sih." Stella mengikuti langkah Jonathan.


"Mau cari pacarku. Gara-gara kamu tadi dia pergi, bisa gawat kalau dia salah paham." Jonathan memanjangkan lehernya, mencari sosok gadis yang bertubuh mungil itu.


"Pacar? ow, buruan baru?"


"Pacar! kekasih! calon istri! ngerti ga sih kamu."


"Ga bisa!" Stella membalikan tubuh Jonathan menghadap ke arahnya dengan paksa.


"Apanya yang ga bisa??" Jonathan sudah mulai gerah dengan tingkah laku Stella.


"Mulai sekarang tidak ada lagi perempuan yang boleh dekat sama kamu selain aku."


"Urusannya apa sama kamu??"


"Karena aku calon istri Jonathan satu-satunya." Stella melipat kedua lengannya di depan dada.


"Ngimpi! emang aku mau gitu jadi suamimu?" Jonathan tergelak geli.


Hubungan mereka sejak bangku sekolah membuat keduanya sudah sangat akrab. Stella sejak sekolah, sangat dekat dengan Jonathan terlebih kedua orang tua mereka adalah partner bisnis.


Tingkah laku Stella yang manja karena ia putri satu-satunya di keluarga konglomerat Gunawan membuat ia terbiasa selalu mendapatkan semua apa yang ia inginkan.


"Harus mau. Kamu pasti ingat 'kan Papa aku bilang apa sama kamu tentang investasi hotel."


"Kamu gak berniat membeli aku 'kan, Stella?"


...❤🤍...