
Delapan bulan berlalu sejak mereka bermalam di rumah kedua orangtua Jonathan di pedesaan, Jamilah akhirnya mengandung tidak lama setelah itu. Dua pasang itu akhirnya bertukar tempat tinggal, karena kandungan Jamilah yang semakin besar dan rumah baru Alex juga sudah siap untuk dihuni.
Hanum pun semakin menikmati perannya sebagai Ibu dan model abadi di perusahaan milik suaminya sendiri. Alex sedikit menyesal membiarkan istrinya itu ikut berkecimpung di dalam bisnisnya. Kepopuleran Hanum tak bisa dibendung sejak ia tampil di media cetak dan layar televisi.
Wajahnya terpampang jelas di billboard yang berjajar di pusat kota. Alex tidak dapat melarang keinginan istrinya, karena kebohongannya tentang Melani Soerojo model yang pernah menjalin kerjasama dengannya terkuak. Wanita cantik itu memang pernah menjadi model apartement mewahnya, tapi tak pernah ada niatan untuk kembali berkarir menjadi model karena sudah menikah dan menetap di luar negeri.
Hanum yang sudah terlanjur memutus kontrak dengan produk perawatan kecantikan, marah dan kecewa dengan kelakuan suaminya. Ia melampiaskan dengan bekerja secara totalitas dan profesional, menjadi model serta ambassador semua produk property perusahaan Alex yang memiliki nilai jual tinggi.
Alex sebenarnya tidak keberatan istrinya itu berkarir, karena masih dalam pengawasannya. Dari pada harus kembali bekerjasama dengan Arthur sang fotografer yang masih berusaha mengincar istrinya.
Namun keputusannya sedikit meleset, pesona Hanum menarik perhatian para milyuner dan sultan dari negara tetangga. Meskipun mereka mendatangkan keuntungan untuk perusahaannya, jantung dan kepala Alex seakan terbakar melihat para pria yang biasa mandi dengan uang itu berusaha memikat istrinya.
Saat keduanya menikmati malam yang panas, Alex dengan sangat sengaja menggunting ujung pengaman yang biasa ia gunakan.
Dua bulan setelah malam panas itu ....
"Aaaaaaaa!!! Tidak mungkin!" suara jeritan Hanum mengejutkan Alex yang masih tertidur.
"Kenapa? Hanuum ... Sayaang?" Alex mengetuk pintu kamar mandi dengan panik. Pintu masih tertutup rapat, yang terdengar hanyalah isakan tangis istrinya.
Setelah mengetuk pintu kamar mandi berulang kali, akhirnya Hanum keluar dengan mata bengkak dan wajah yang memerah. Tangannya menggenggam sebuah alat tes kehamilan. Alex menarik nafas dan bersiap dengan badai yang akan terjadi pagi ini.
"Aku hamil," ucap Hanum dengan suara bergetar menahan tangis dan amarah.
"Kok bisa?" tanya Alex memasang wajah bingung.
"Jangan tanya aku! Tanya sama benda yang ada di dalam celanamu itu!" Hanum menunjuk pangkal paha suaminya. Alex spontan merapatkan kedua pahanya.
"Maksudnya gimana sih, Sayang. Alat itu salah mungkin, coba kamu tes lagi atau kita pergi ke dokter ya," bujuk Alex.
"Aku sudah pakai tes kehamilan 10 kali dan hasilnya tetap samaaaa ...." Hanum menunjuk wastafel yang ada di dalam kamar mandi. Ia mulai meraung keras.
"Kok bisa ya." Alex masuk ke dalam kamar mandi dan berpura-pura mengecek semua alat tes yang tersebar di atas wastafel.
"Aku belum mau hamil, Mas, huhuhuuu ... Sarayu masih kecil, karirku lagi naaiiik. Tahun depan aku di undang ke Dubaaaiii." Hanum duduk menangis di tepi ranjang.
Alex menghampiri istrinya. Ada rasa iba dan bersalah melihat Hanum yang tampak terpukul seolah tidak menginginkan kehadiran calon anak keduanya. Namun ia sadar bahwa ini juga salah satu bentuk keegoisannya dan ia harus bertanggungjawab dengan kondisi mental Hanum.
"Kamu tidak menginginkan dia?" tanya Alex lembut sembari berjongkok di bawah kaki istrinya.
"Bukan gitu, aku hanya belum siap ... kenapa sekarang huhuhuuu." Hanum meremas jubah mandinya di bagian perut.
"Karena dia ingin hadir sekarang, karena Tuhan ingin dia ada sekarang," ujar Alex pelan sembari mengusap perut Hanum. Dalam hatinya ia meminta maaf atas kebohongan yang ia ucapkan.
"Lalu aku harus bagaimanaaaa?"
"Mau bagaimana? sambut dia dengan bahagia dan ikhlas. Aku bahagia, Sarayu juga pasti senang, Papa dan Mama sudah jelas semakin bahagia mau dapat cucu ketiga."
"Karir aku?" cicit Hanum di sisa isak tangisnya.
"Karir? Kamu bekerja di perusahaan milikmu sendiri, Sayang. Selamanya kamu tetap ambassador perusahaan kita. kamu model abadi. Tapi kamu harus melakukan regenerasi dan mungkin sekaranglah waktunya. Kamu bisa mencari dan mendidik ambassador dan model baru untuk menggantikanmu," jelas Alex perlahan. Ia berharap Hanum dapat menerima penjelasannya.
"Mr. Downey mau undang aku ke Dubai tahun depan, saat itu pasti kandunganku sudah besar," ujar Hanum sedih.
Alex menyunggingkan senyum penuh arti, karena itu juga alasannya membuat istrinya mengandung lagi. Pria kaya itu seakan tidak peduli dengan status Hanum, tapi tetap berusaha mendekatinya dengan cara yang sangat halus.
"Pingin ke Dubai atau mau ketemu sama si brewok itu?" goda Alex.
"Ya ke Dubainya dong! Mumpung gratis 'kan lumayan."
"Oww, aku pikir mau ketemu sama si brewok." Alex tersenyum menggoda. Ia tahu yang ada di kepala istrinya itu hanyalah fasilitas yang dijanjikan si sultan Dubai itu, tanpa tahu ada jerat di baliknya.
"Aku pingin banget kesana."
Hanum terdiam memandang suaminya dengan mengerjapkan mata tak percaya.
"Kita mau berlibur di Dubai? ... Ah, tapi ujung-ujungnya cuman rencana tunggu pekerjaan agak senggang sedikit. Kalau gitu Sarayu sudah kuliah mungkin baru berlibur," cibir Hanum kecewa.
"Siapkan kopermu sekarang, kita rayakan baby moon di sana," ujar Alex dengan senyum yang lebar.
"Sekarang? Bener?" Hanum tak dapat menahan gejolak bahagianya. Ia berdiri dan memeluk suaminya dengan erat.
"I love you, Sayang. Apapun yang bisa membuatmu bahagia, aku pasti akan usahakan." Alex mengecup mesra kening dan hidung Hanum yang tak tinggi.
"Aaawww." Kebahagian Hanum semakin tak terkendali mendapat kata rayuan yang hampir tak pernah ia dengar selama pernikahan mereka.
Alex sebagai suami sangat dingin dan kaku jika dibandingkan Jonathan yang selalu romantis pada istrinya di tiap kesempatan. Begitu suaminya mengatakan sesuatu yang manis, hati Hanum bagaikan terbang ke awan.
Sementara itu, Jamilah yang sudah menginjak usia kehamilan tua, semakin ketus dan cepat marah meski Jonathan berusaha bersikap manis.
"Kaki sebelah sini yang pegal?" tanya Jonathan berusaha menahan mulutnya agar tidak menguap di depan istrinya.
"Iya, jangan keras-keras sakit," sahut Jamilah merajuk.
"Ga keras ini, Sayang. Aku cuman usap-usap aja."
"Tapi sakit." Jamilah memegang perutnya yang terasa kencang.
"Yang sakit perutnya?" tanya Jonathan mulai khawatir, "Kita ke kamar ya, kamu rebahan dulu." Jonathan membantu istrinya untuk berdiri dari duduknya. Begitu Jamilah melangkah, cairan bening mengucur deras dari sela pahanya. Keduanya hanya melihat ke arah lantai dan saling pandang tanpa berani bergerak.
"Jooo, itu air ketuban. Jamilah mau melahirkan!" seru Mama yang baru keluar dari kamar.
"Air uban?" Jonathan memandang Mamanya bingung, tapi jantungnya berdetak semakin kencang.
Papa yang melihat wajah putranya pucat dengan cepat menyalakan mobil, dan berteriak agar semuanya segera masuk ke dalam.
"Saaakiitt," rintih Jamilah. Tangannya mencengkram erat lengan suaminya. Jonathan tak berani mengeluarkan suara apapun, wajahnya yang putih semakin pias karena tegang.
Sampai di rumah sakit, Jamilah langsung ditindak untuk menjalani proses melahirkan karena pembukaan sudah sempurna dan air ketuban sudah hampir habis.
Tangisan melengking langsung terdengar begitu bayi mereka menghirup udara untuk pertama kalinya. Jonathan begitu emosional, ia menangis seperti anak kecil mengalahkan tangis bayinya.
"Perempuan atau laki-laki?" tanya Mama begitu Jonathan keluar dari ruang persalinan dengan perawat yang mendorong ranjang Jamilah.
"Laki-laki, sehat dan lengkap," ujar Jonathan dengan suara serak sembari mengusap ingus di lengan bajunya.
"Syukurlah." Mama mencium kening Jamilah yang masih terbaring di atas ranjang.
"Terima kasih, aku punya anak," ucap Jonathan terbata saat mereka sudah di dalam ruang perawatan.
"Anakku juga, anak kita."
"Semoga dia tidak seperti aku yang penakut dan sering menyusahkan keluarga." Jemarinya mengusap pipi merah bayinya yang bulat dengan pandangan sedih.
"Kok gitu."
"Aku berharap dia bisa seperti Omnya. Om Alex adalah kakak sekaligus idola Papa, Sayang," ujar Jonathan pada bayinya dengan rasa bangga. Jamilah mengusap lengan Jonathan. Ia memberikan waktu untuk suaminya berbincang dengan bayi yang baru saja ia lahirkan.
...❤️🤍...
Akhirnya bisa di tamatkan. Terima kasih bagi yang sudah mengikuti sampai akhir. Maaf jika akhir cerita tidak sesuai dengan harapan. Jangan lupa mampir di karya ku yang lain ya. Klik gambar profile aja nanti muncul daftar novel yang lain 🙏
Aku bawa rekomendasi lagi nih. Cerita punya temanku. Ceritanya seru banget, dijamin deh 😁