
"Betul di sini tempatnya?" tanya Hanum. Alex malas menjawab pertanyaan Hanum yang tidak perlu jawaban. Ia memilih menepikan mobilnya di depan sebuah rumah yang sangat besar, tanpa banyak bicara.
"Waahh, dari luar kelihatan seperti rumah biasa, ternyata dalamnya studio lengkap." Hanum berdecak kagum.
"Hai, Hanum akhirnya kamu sampai juga. Aku dari tadi nungguin kamu sampe khawatir, karena ponselmu ga bisa dihubungi." Arthur dengan ramahnya menyapa Hanum yang baru masuk, tanpa mempedulikan ada seorang pria berwajah masam, berdiri di belakang wanita yang disapanya.
"Cepat selesaikan urusanmu, lalu segera pulang," ucap Alex dengan suara yang sengaja ia keraskan.
"Ow, ada yang antar rupanya. Kenalkan saya Arthur, fotografer sekaligus pemilik studio ini," ucap Arthur bangga seraya mengulurkan tangan.
Alex sengaja tidak langsung menyambut uluran tangan Arthur. Ia biarkan beberapa detik tangan itu tergantung hingga raut wajah Arthur berubah, barulah Alex balas mengenggam tangannya dan menyebut namanya dengan nada datar dan dingin, "Alexander Putra Prasojo."
Hanum sedikit terkejut dan sempat membesarkan matanya, saat Alex menyebutkan nama secara lengkap seolah ia sedang menegaskan sesuatu.
"Anda? ...." Arthur menggantungkan kalimat tanyanya, berharap dilanjutkan oleh Hanum atau Alex untuk menjawab rasa penasarannya.
"Kami berteman, ga sengaja ketemu waktu saya nunggu taxi online," sahut Hanum cepat.
Alex mengeratkan rahangnya, ia tadi sudah siap menjawab namun kalah cepat dengan Hanum.
"Oww, syukurlah. Terima kasih sudah mengantar Hanum, Pak," ucap Arthur ramah, "Ayo Hanum, dirias dulu," ajak Arthur.
"Mmm, Bapak bisa pu---"
"Saya tunggu kamu sampai selesai. Jangan lama-lama," potong Alex cepat.
"Silahkan duduk Pak Alex, senyamannya saja ya. Nanti pegawai saya bawakan minum untuk Bapak." Alex tidak menanggapi kalimat ramah Arthur, melihat ke arah pria itu pun ia malas.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, ia melihat Hanum sedang duduk di depan kaca. Istrinya itu ditangani langsung oleh dua orang perias. Seorang membenahi rambut coklatnya yang panjang, seorang lagi menyapukan kuas make up ke wajah istrinya.
Diam-diam Alex mengamati interaksi antara Arthur dan Hanum. Ternyata keduanya tidak hanya akrab saat saling bertukar pesan singkat, tapi juga saat bertemu seperti ini.
Hanum sangat sering tertawa saat pria itu berbicara, sesekali tangannya memukul pundak Arthur. Sepertinya pria itu sering melontarkan candaan.
Seorang pria yang humoris dan ramah, sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang kaku dan ketus.
Mulut Alex spontan terbuka saat melihat Hanum keluar dari ruang ganti pakaian. Dengan wajah yang sudah dirias secara sempurna serta dipadu gaun berwana merah dengan pundak yang terbuka, dalam sekejap Hanum menjelma bak seorang model.
Arthur dan beberapa orang karyawannya, mulai menyiapkan property serta produk yang akan digunakan Hanum.
Sesekali Hanum tertawa lagi saat pria murah senyum itu berbicara. Pria itu berulang kali mengarahkan gaya lalu membidik Hanum melalui kamera studio yang berharga fantastis.
Alex tertegun saat melihat ekspresi wajah Hanum saat bergaya di depan kamera. Begitu Arthur mengarahkan kameranya, ekspresi wajah Hanum seketika berubah layaknya model profesional.
Hanum bagai wanita yang mempunyai seribu wajah, bisa beralih ekspresi wajah dalam waktu yang sangat cepat.
"Silahkan di minum, Pak." Salah seorang karyawan menaruh secangkir kopi hitam di atas meja.
Alex menghela nafas, ia ingin meminta ganti minum teh hangat, tapi ia merasa tidak enak karena ini bukanlah rumah makan.
Aroma kopi yang menggoda dan juga karena dahaga mendorongnya untuk menghabiskan secangkir kopi hitam yang tadi disuguhkan.
"Bapak masih di sini?" Alex membuka matanya saat mendengar suara Hanum di dekatnya.
Hampir empat jam ia menunggu wanita ini menjalani pemotretan dengan berganti-ganti kostum, membuatnya mengantuk. Rupanya menahan kantuk dengan minum kopi tidak berlaku padanya.
"Kamu mengharapkan saya pergi?" cetus Alex seraya berdiri dan membenahi kemejanya yang kusut.
"Saya pikir tadi Bapak langsung balik ke kantor lagi."
"Aku kan tadi sudah bilang, kalau aku tunggu kamu sampai selesai." Tanpa sadar Alex sudah mengganti sebutan dirinya dari saya, menjadi aku jika berbicara dengan Hanum, "Sekarang sudah selesai kan? Ayo pulang," ucap Alex seraya membuka pintu dan melangkah keluar.
"Tunggu, Pak Alex kan belum pamitan sama Mas Arthur."
"Kamu aja, saya ga ada urusan sama dia," sahut Alex datar. Hanum menjulurkan lidah kesal merasa ucapan Alex suatu kesombongan.
"Kenapa kamu panggil laki-laki itu Mas?" tanya Alex, setelah beberapa saat mobil yang mereka kendarai meluncur di jalan.
"Mas Arthur maksudnya?"
"Ya," sahut Alex singkat disertai dengusan nafas kesal.
"Kenapa bukan panggil Bapak aja kalo lebih tua?"
"Biar lebih akrab aja," sahut Hanum seraya tersenyum.
"Akrab? kamu dengan orang lain berusaha akrab, tapi dengan aku yang suamimu kamu panggil Bapak. Berarti menurutmu kita tidak akrab?" tanya Alex seakan tidak sadar apa yang ia katakan.
"Bukannya kita memang tidak akrab, Pak?"
Alex sudah membuka mulutnya lebar hendak menyahuti pertanyaan Hanum, tapi akhirnya menutupnya kembali menyadari pertanyaannya yang terlihat bodoh.
"Lalu kenapa kamu memperkenalkan aku sebagai teman? aku kan suamimu? kamu malu punya suami seperti aku?" Alex terus memberondongnya dengan pertanyaan seolah tidak ada puasnya.
"Saya ga malu jadi istri Bapak, malah seneng. Selama ini kan Bapak yang malu punya istri seperti saya. Lagi pula, ga lama lagi mungkin saya bukan istri Bapak. Jadi tidak perlu repot-repot menjelaskan tentang alasan berpisah, toh selain keluarga Bapak dan calon istri Bapak, tidak ada yang tahu kalo saya menikah dengan Bapak. Jadi Bapak ga perlu khawatir," papar Hanum panjang lebar.
Alex menggosok-gosok kedua telinganya bergantian. Kupingnya terasa gatal saat kata Bapak berulang kali diucapkan Hanum.
"Calon istri yang mana kamu maksud?"
"Si Aneh itu, yang seharusnya jadi istri Bapak, tapi saya tikung duluan hehehehe," Hanum terkekeh pelan.
"Kenapa dulu kamu nekat mengganti berkas Ane?" Alex baru sadar selama ini, ia tidak pernah bertanya secara langsung alasan Hanum melakukan itu. Ia sama sekali tidak peduli siapa yang menjadi calon istrinya.
"Karena dulu saya suka sama Bapak," sahut Hanum tersipu.
"Dulu??"
"Iya, dulu." Alex ingin bertanya lebih lanjut, apakah sekarang masih suka dengannya, tapi urung karena ia merasa malu.
Alex memilih diam saja dari pada semakin terlihat bodoh di hadapan Hanum. Tiba-tiba perutnya terasa sakit melilit seperti di re*mas-re*mas.
"Bapak sakit?" tanya Hanum khawatir melihat pelipis Alex mengeluarkan keringat dingin dengan raut wajah yang menahan sakit.
Alex menggelengkan kepala. Meski ususnya terasa menari di dalam perutnya, ia tidak mau terlihat lemah di depan Hanum.
...❤❤...
Follow IG : Ave_aveeii
Jangan lupa yaa 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
Haaii, mau perkenalkan lagi karya teman, judulnya "Begitulah takdir"
Blurb :
Tak saling kenal, tak pernah bertemu. Namun Semesta yang menuntunmu. Itulah takdir, tak pernah ada yang tahu bagaimana kedepannya. Soal jodoh ada yang berwarna, ada yang kelam, ada yang penuh keseriusan dan ada juga yang penuh dengan canda tawa.
Shazfa Aiysha Humaira atau sering dipanggil Sasa, seorang mahasiswi yang memiliki tiga orang sahabat yaitu Safia (Sapi), Fathulila (Patul), dan Fifa (Pipa). Bukan sahabat namanya , jika tidak mengganti nama sahabatnya.
Shazfa pernah jatuh cinta dengan seorang Ustadz bernama Sakha. Tapi sayang, takdir berkata lain karena Ustadz Sakha dijodohkan dengan Patul. Mengikhlaskan adalah hal yang sulit sampai akhirnya datang seorang lelaki dengan gagahnya ingin menikahinya. Lelaki yang sebelumnya tidak ia kenali, tidak bertegur sapa namun ternyata ia lah takdirnya.
Ya, Begitulah Takdir. Lalu, siapakah lelaki gagah itu?