CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Mencari


"Ada apa Hanum?" Alex menangkap Hanum yang terus berlari kesana kemari tak menghiraukan panggilannya.


"Me-mereka semua ... kemana??" Hanum memandang Alex panik.


"Kamu tenang dulu, coba kamu telepon Bu Anita sekali lagi," saran Alex.


Hanum mengambil ponselnya dan menekan nomer ponsel Ibu asuhnya dengan tangan bergetar.


"Ga nyambung," ujarnya sedih setelah berulang kali mencoba menghubungi Ibu Anita.


"Kamu duduk dulu." Alex menunjuk bangku teras yang sudah berdebu, "Aku ambil ponselku dulu di mobil. Coba aku tanya Mama, mungkin Ibu Anita mengabari Mama," lanjutnya.


Hanum mengangguk, ia menuruti perintah Alex lagi pula kakinya baru terasa nyeri karena sempat terjatuh saat berlari tadi.


"Halo, Ma. Aku sama Hanum sudah sampai di Panti, tapi gedungnya kosong. Ibu Anita sama anak-anak panti semuanya ga ada. Apa Mama ada pernah dapat kabar dari mereka?" tanya Alex langsung begitu telepon tersambung dengan seberang sana.


"Ga ada, Lex. Mama terakhir telepon Ibu Anita itu, empat bulan yang lalu. Untuk urusan biaya perawatan dan kebutuhan tiap hari anak panti sudah ada yang mengurus dari kantor Papa," jelas Mama.


"Hanum gimana, baik-baik aja dia?" tanya Mama khawatir.


"Dia agak syok tadi, tapi semua baik-baik aja."


"Hati-hati di sana, Lex. Nanti Mama tanyakan di kantor Papa, sama yang bagian urus panti. Kamu langsung balik rumah kan?"


"Nanti aku kabari, Ma. Aku lihat Hanum dulu." Alex memicingkan mata, memandang Hanum dari kejauhan yang terlihat sedang berbicara di telepon.


"Gimana, Num. Ibu Anita sudah bisa di hubungi?" tanya Alex saat ia sudah berdiri di hadapan istrinya.


"Be-belum ada kabar," sahut Hanum gugup.


"Kamu tadi bicara dengan siapa?" tanya Alex curiga.


"Bukan siapa-siapa ... eh, maksudku yang telepon tadi dari pegawainya Bu Caroline, minta aku cepat kembali." Hanum berdiri dari duduknya dan langsung menyimpan ponselnya di dalam tas.


"Kamu ga mau tanya-tanya sama tetangga dulu?" tanya Alex bingung saat Hanum melangkah begitu saja ke arah kendaraannya.


"Sudah? ta---"


"Aku tadi sudah tanya, Mas dan mereka ga ada yang tahu," potong Hanum cepat.


"Baiklah." Alex menyerah berdebat dengan Hanum. Ia mengikuti langkah Hanum kembali ke mobil, walau ia sendiri masih belum puas dengan jawaban Hanum. Ia merasa heran kapan istrinya itu bertanya ke tetangga, padahal dari tadi Hanum tidak lepas dari pandangannya.


"Kita mau kemana sekarang?" tanya Alex saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Pulang," sahut Hanum singkat.


"Kita ga keliling daerah sini dulu cari mereka?" tawar Alex.


"Mereka ga ada di sini," sahut Hanum lemah.


"Kamu tau mereka ada di mana?" tanya Alex.


"Aku ga tau." Hanum menggeleng seraya menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Lalu??" kejar Alex tak sabar.


"Aku ga tau Mas! aku ga tau!" Hanum tidak bisa menahan tangisnya.


"Aku minta maaf, kamu pasti lagi bingung dan sedih sekali." Alex menarik Hanum ke dalam pelukannya.


"Aku takut terjadi sesuatu dengan mereka. Ibu Anita itu sudah sepuh, adik-adik juga masih kecil." Hanum menangis di dalam pelukan Alex.


"Ya, ya aku tahu. Nanti kita cari mereka sama-sama." Alex semakin memeluk Hanum dengan erat. Sesekali ia mengecup puncak kepala dan mengusap punggung istrinya.


"Tadi aku juga sudah telepon Mama, nanti Mama bantu tanyakan sama karyawan Papa yang biasa urus pantinya Bu Anita, kamu jangan khawatir," lanjut Alex.


...❤❤...


Lanjut sorean yaaa