CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Penangkapan


Pak Beni menghela nafas panjang lalu melirik pada pria berjaket kulit di sebelahnya. Ia kembali memamdang sedih pada sahabat lamanya itu.


Ia sama sekali tidak menyangka, rekan bisnis sekaligus kawan lamanya itu, dapat berubah menjadi manusia yang tak mempunyai perasaan. Menghalalkan segala cara demi ambisi dan keinginan pribadinya.


Pria berjaket itumenganggukan kepalanya samar, memberikan kode pada Pak Beni jika sudah diijinkan untuk membeberkan semuanya.


"Maaf, Pak Eko apa yang saya katakan kemarin sepertinya tidak bisa kita jalankan," ucap Pak Beni lemah.


"Loh, kenapa bisa begitu?" Pak Eko tampak terkejut dan marah.


"Sebelumnya kenalkan dulu ini kenalan saya, namanya Raditya." Pak Eko memperkenalkan pria berjaket yang duduk di sampingnya. Raditya mengangguk sopan pada Pak Eko, yang tidak terlalu menganggapnya.


"Raditya ini profesinya sebagai polisi, Kapolres muda lebih tepatnya." Raditya mengangguk membenarkan. Wajah Pak Eko sudah mulai terlihat menegang.


"Pak Raditya aja ya yang menyampaikan," pinta Pak Beni. Walaupun marah dan kecewa pada kawannya itu, ia masih merasa tidak tega menyampaikan hal penangkapan secara langsung.


"Baiklah. Maaf, Pak Eko saya datang kemari bersama Pak Beni karena akan menjemput Bapak ke kantor guna diperiksa lebih lanjut ," papar Raditya sembari menyerahkan lembaran surat berita acara penangkapan resmi.


"Apa-apaan ini, Beni!" Pak Eko berdiri dari duduknya. Ane yang mendengar suara Pak Eko yang keras, ikut terlonjak dan berdiri dari duduknya.


Pak Beni hanya diam, karena ia sudah meyerahkan semuanya pada pihak kepolisian.


"Mari ikut saya, Pak." Raditya ikut berdiri dan berjalan mendekati Pak Eko.


"Saya ga mau! saya ga salah apa-apa, kenapa harus ditangkap!" Pak Eko terus menghindar dari tangan Raditya yang ingin menangkapnya.


"Semua nanti akan dijelaskan di kantor, Pak. Sebaiknya Bapak ikut kami tanpa penolakan, agar kami tidak menyakiti, Bapak," ujar Raditya tenang.


"Ini pasti gara-gara kamu, Ben! Kamu laporkan apa aku?! Dasar licik!" Pak Eko merangsek maju menghampiri Pak Beni yang masih duduk di tempatnya.


"Dari dulu selalu saja kau menyulitkan aku, dasar bre---"


BUUGGHH!!


Belum sempat Pak Eko menyelesaikan kalimatnya, Pak Beni sudah menghadiahkan sebuah hantaman di ulu hatinya. Pria itu langsung jatuh tergeletak kesakitan.


"Kamu yang brengsek! kau kira aku tidak tahu perbuatan kejimu?!" Pak Beni tidak membiarkan Pak Eko kembali berdiri, ia terus menghajar pria yang sudah sejak lama menjadi partner bisnisnya.


"Kau buat anak-anak pantiku menjadi pengemis, dan kau mau menikahkan putraku dengan pelacurmu?! Dasar bajingan!" Pak Beni masih terus memukul wajah Pak Eko, sampai Raditya datang dan menariknya berdiri.


Ane yang melihat Pak Eko sudah terkapar tak berdaya, langsung berlari ke arah pintu keluar hendak melarikan diri. Namun saat pintu terbuka, ia malah berjalan mundur karena dua orang berbadan besar dan berlencana menghadangnya di depan pintu.


Bahkan salah seorang di antaranya mengambil borgol dari kantung celananya dan memasangkan dengan paksa di tangan Ane.


"Aku ga salah! lepaskan! Ooomm, tolong Aneee," rengek Ane saat polisi berpakaian preman menggiringnya keluar ruangan.


Raditya juga memasangkan borgol di tangan Pak Eko dan membantunya berdiri. Pak Eko digiring keluar ruangan dengan wajah yang bengkak dan membiru.


Para bodyguard yang biasanya berjaga di kantor Pak Eko, rupanya sudah diamankan oleh team Raditya. Kantor Pak Eko langsung di segel oleh polisi karena, terbukti menjalankan bisnis ilegal dan banyak sekali aduan penipuan.


Penangkapan keduanya, menjadi tontonan para karyawan yang terpaksa menjadi pengangguran karena tempat mereka mencari nafkah dilarang beroperasi


...❤🤍...


Sambil nunggu mampir sini yuk