CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Ganti rugi


"Kenapa? gengsi? sopir aja belagak," ucap gadis itu ketus.


"Aku bukan sopir! cepet naik!"


"Hei, kok situ yang marah-marah yang salah situ malah lebih galak."


"Berisik! jangan panggil situ-situ, aku punya nama."


"Ya, aku tau Jonathan."


"Eh, kamu kok tahu namaku?" Jonathan merasa bangga bisa dikenal banyak orang.


"Tadi aku sempet baca di KTPnya."


"Ow," Jonathan mendesah kecewa, "Duh, kamu makan apa sih kok berat betul. Keliatannya aja kecil badannya, tapi aku kayak gonceng lemari es dua pintu." Jonathan terengah-engah mengayuh sepeda di jalan yang memang sedikit menanjak.


"Irit nafasmu, jaraknya masih 2km lagi," ujar gadis itu santai.


"Kalo naik mobil kan enak dari tadi sudah sampe, mana panas banget lagi." Jonathan terus menggerutu sepanjang perjalanan.


Saat sampai di halaman supermarket, Jonathan langsung terkapar di teras lantai supermarkert yang dingin.


"Buruan, malu-maluin aja." Gadis itu menghentakkan kakinya tepat di samping kepala Jonathan.


"Ga sopan banget." Jonathan menyentil dahi gadis itu dengan kesal.


"Aku tunggu di sini," ujar gadis itu menolak untuk masuk.


"Kenapa?" tanya Jonathan.


"Ga apa-apa biar cepet aja, ambil duit aja 'kan? awas kabur!"


"Suka-suka aku mo ngapain di dalem, enak adem di luar panas," tukas Jonathan seraya berjalan masuk ke dalam supermarket.


Selang lima belas menit, Jonathan keluar dengan satu kantung plastik di tangannya.


"Ini dipotong biaya ganti rugi ga?" Gadis itu masih belum mau mengambil kotak susu itu dari tangan Jonathan.


"Ga, aku ini baik hati tahu dari tadi kamu kehausan 'kan?" Gadis itu tertunduk malu, karena dari tadi ia sering membasahi bibirnya yang kering karena menahan haus.


"Punyamu kayaknya lebih segar, kenapa aku dibelikan susu? Jualannya sudah susu, minum juga susu." Gadis itu melirik iri pada minuman penambah energi milik Jonathan.


"Anak kecil minumnya susu," sahut Jonathan tegas tak ingin dibantah.


"Berapa yang aku harus ganti?"


"Botol yang penuh ada 10, harganya satu botol 20ribu, kalo yang kosong 10botol dan pecah semua. Jadi kasih aja 500rb." Gadis itu menengadahkan tangannya.


"Lah, emang botol kosong harganya berapa kok jadi dua kali lipat?"


"Botol kosong lima ribu aja, sisanya untuk biaya sewa dan perawatan sepedaku," ujar gadis itu santai.


"Biaya sewa?? hei Esmeralda, kau yang minta kita kesini naik sepedamu, kenapa aku harus bayar sewa juga?"


"Ya sudah, ga apa-apa kalo ga mau bayar. Baliknya silahkan jalan kaki aja. Jangan lupa ojek online dilarang masuk kawasan ini," ujar gadis itu penuh kemenangan.


Jonathan menyerahkan uang 500rb ke tangan gadis itu dengan kesal. Ia bukannya perhitungan, bagi dirinya uang sejumlah itu tidak ada artinya. Hanya yang ia permasalahkan adalah harga dirinya jatuh ke dasar jurang sejak bertemu gadis bermata jernih ini.


flash back selesai


Jonathan memandang topi baseball milik gadis itu yang terbawa hingga ia pulang. Wajah usil dan ketus gadis itu, melekat dan tidak mau hilang dari benak Jonathan. Ia baru sadar sampai sekarang di tidak tahu siapa nama gadis tomboi itu.


Ketukan di pintu kamar membuat Jonathan memejamkan matanya rapat, dan berpura-pura sudah tidur lelap. Hal yang ia paling takutkan waktu pulang tadi adalah, keadaan mobil Alex yang tidak semulus saat ia membawanya.


...🤍❤...


Yuk mampir kesini