CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Untuk Jamilah


Stella tersenyum mengejek, sekarang ia tahu kelemahan pria bermulut pedas di sebelahnya itu. Mengenal Jonathan sejak di bangku sekolah, membuat Stella sangat mengenal karakter pria itu. Namun yang namanya sudah suka, Jonathan menjengkelkan seperti apapun, Stella semakin tertantang ingin menaklukannya.


"Bukan yang kemarin Papa tolak 'kan Jo?"


"Bukanlah, Pa hehehee ...." Jonathan memaksakan tawanya.


"Bagus kalau kamu sudah bisa dipercaya mengelola asset, Jo. Jangan sampai usaha yang Papa bangun sejak kalian berdua belum lahir, hancur di tangan kamu," ujar Papa sembari santai mengunyah.


"Papa jangan khawatir, Jonathan sekarang sudah bisa diandalkan, benar 'kan, Jo?" timpal Alex.


Pertanyaan dan pernyataan Papa serta Kakaknya, membuat Jonathan semakin tercekat. Serasa ada sebongkah batu besar di punggungnya, sehingga tubuhnya menjadi berat hanya untuk sekedar bergerak.


Jonathan melirik wanita yang menjadi biang kerok, sedang duduk di samping menatapnya tanpa rasa bersalah. Sahabat sekaligus musuh besarnya saat di bangku sekolah dulu itu, menyengir lalu mengkerucutkan bibir memberikan kecupan jauh untuk Jonathan.


Selesai makan, Jonathan langsung akan membawa Jamilah pergi ke tempat yang ia janjikan sebelum datang kerumahnya. Namun lagi-lagi Stella terus mengikuti mereka dari belakang.


"Ikuuutt," rengek Stella. Ia sudah akan membuka pintu mobil bagian depan.


"Gak!" Jonathan dengan sigap menghalangi Stella dengan badannya tiap gadis itu ingin membuka pintu mobil.


"Biarin aja Mba Stella ikut, Pak," bela Jamilah.


"Tuh, sama Jamilah boleh kok."


"Gak!" Jonathan bersikeras tidak mengijinkan Stella masuk ke dalam mobilnya. Jonathan tahu, wanita seperti Stella jika diberi satu kesempatan akan menagih yang lebih banyak.


"Milaaah." Stella mulai menggunakan Jamilah sebagai senjatanya.


"Pak ...." Jamilah memandang Jonathan dengan tatapan memohon.


"Gak, Milah. La, kamu ga usah ikut. Ini ga ada urusannya sama kamu, urusanmu sama aku di kantor. Titik!" ucap Jonathan tegas.


Jonathan lalu membukakan pintu mobil untuk Jamilah, dan menyuruh gadis itu untuk cepat masuk sebelum Stella menyerobot tempat duduknya. Dengan cepat Jonathan menjalankan mobilnya meninggalkan Stella yang mengamuk di belakang.


"Kasihan Mba Stella," ujar Jamilah seraya mengintip dari kaca spion.


"Biar aja," sahut Jonathan cuek.


"Kita mau kemana sih, kok Mba Stella ga boleh ikut?"


Jonathan membawa Jamilah ke sebuah gedung apartment yang cukup terkenal dekat dengan tempat kerjanya.


"Kita mau ketemu siapa?" tanya Jamilah saat sudah di dalam lift yang akan membawa mereka ke lantai tujuh. Jonathan tidak menjawab, ia hanya tersenyum kecil.


Jonathan berhenti tepat di depan kamar apartment bernomor 717, lalu ia berbalik menghadap Jamilah dan memberikan kartu kunci yang tadi disimpannya di dalam saku celana.


"Buka," ucap Jonathan. Jamilah masih terdiam menatap kartu di tangan Jonathan, "Ayo, buka pintunya, Milah." Jamilah menggeleng.


Jonathan mengalah, ia lalu yang membuka pintu kamar apartment yang sudah di sewanya selama dua tahun untuk Jamilah.


"Masuk." Jonathan menarik tangan Jamilah yang mematung di depan pintu, "Sementara kamu tinggal di sini ya." Jamilah kembali menggeleng.


"Kenapa ga mau?"


"Terlalu besar." Jamilah memandang sekelilingnya.


"Ini ga besar, Milah. Cuman ada dua kamar, ukurannya juga kecil 3x3. Kamar mandi, dapur, sama ruang tengah dan tamu jadi satu." Jonathan membuka satu persatu pintu ruangan yang ada untuk meyakinkan Jamilah.


"Maaf sementara aku cuman bisa sewa apartement murah ini, tapi yang penting di sini kamu aman. Fasilitasnya juga lengkap, kamu ga perlu beli perabotan lagi. Dekat juga sama restoran tempat kamu kerja, jalan kaki juga bisa."


"Ini besar banget, pasti mahal. Aku punya tabungan kok, rencana mau sewa rumah susun aja."


"Gak boleh. Kalo rumah susun, kamu tinggal sendiri ga aman. Aku ga mau. Cuman sebentar aja di sini, Milah mungkin ga sampai dua tahun." Jonathan terus berusaha meyakinkan Jamilah.


"Dua tahun aja? habis itu?"


"Aku usahakan sebelum dua tahun, kamu sudah pindah ke rumah kita."


"Rumah kita?"


"Walaupun aku anak pengusaha perumahaan, aku tetap harus nabung untuk beli rumah. Doain ya." Jamilah masih memandang Jonathan bingung, "Targetku sebelum dua tahun, kamu sudah harus resmi jadi istriku." Jonathan menariknya mendekat.


"Istri??" Jamilah terkejut, bagaimana bisa baru saja kemarin mereka menjalin hubungan, sekarang sudah membicarakan pernikahan, "Pak Jo mau nikah sama saya?"


Jonathan tidak menjawab, perhatiannya teralihkan pada pesan yang masuk di ponselnya. Seketika wajahnya menjadi pucat.


...❤🤍...