CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Memaksa dengan gaya


"Pulang pergi aja cukup. Kalau kamu masih merasa kurang, tiap hari minggu aku antar kamu kesana kalau perlu," ujar Alex seraya mengembalikan baju Hanum ke dalam lemari.


"Waktunya mepet," sergah Hanum tak terima susunan bajunya di rombak oleh Alex.


"Sempat aja, kan lewat tol," Alex bersikukuh.


"Bis umum ga lewat tol," sahut Hanum. Ia kembali mengambil tumpukan baju yang di masukan Alex ke dalam lemari dan menaruhnya kembali ke dalam tasnya.


"Kamu ga naik bis, kita naik mobil. Aku yang nyetir, kamu kok ngeyel sih?!" Alex meraup semua baju di dalam tas Hanum, lalu melemparkan kembali ke dalam lemari begitu saja. Ia sudah lupa dengan petuah Mamanya saat di meja makan tadi.


Mulut Hanum terbuka kesal melihat baju yang sudah disusunnya rapi, sekarang kusut tak beraturan di dalam lemari.


"Aku sudah bilang, ga perlu diantar aku bisa berangkat sendiri!" seru Hanum. Matanya mulai berkaca-kaca karena menahan rasa kesal bukan sedih apalagi takut.


Alex sudah akan menyahuti dengan nada yang jauh lebih tinggi, tapi urung karena di kepalanya melintas bayangan Hanum yang tidak mau kembali pulang saat sudah bertemu Ibu Anita.


Alex menarik nafas panjang dan melepaskannya perlahan untuk meredakan emosinya. Nafas istrinya itu tersengal-sengal menahan emosi yang juga tinggi, terlihat dari gerakan di dadanya yang naik turun tidak beraturan.


"Duduk dulu." Alex menarik tangan Hanum untuk duduk di tepi ranjang.


Istrinya itu sempat menolak dengan mengibaskan tangannya seolah tidak mau disentuh, tapi Alex kembali berusaha meraih dan memaksanya untuk duduk.


"Aku minta maaf," ucap Alex pelan. Ia berusaha membuat kontak mata dengan istrinya, meski Hanum terus menghindar karena tidak ingin terlihat tetesan air matanya.


"Aku ga berniat ngomong seperti itu di depan Mama sama Jo. Tadi aku cuman pingin bercanda aja, tapi mungkin salah caranya," lanjut Alex. Hanum masih terdiam enggan menatap wajah suaminya.


"Aku minta maaf ya?" Hanum masih terdiam, bahkan membuang muka.


"Dimaafkan ga ini?" tanya Alex tidak sabar.


Hanum spontan menoleh dengan pandangan kesal. Rupanya itu hanya untuk memancing reaksi dari Hanum agar menoleh kearahnya.


Alex tersenyum lebar saat pandangan mata mereka bertemu. Dengan tangannya ia memegang dagu Hanum agar tidak kembali memalingkan wajahnya.


"Kita jadi berangkat? Aku diajak ga? Kalau ga diajak aku tetap maksa ikut." Hanum tidak bisa menahan senyumannya saat Alex menatapnya dengan pandangan merajuk.


"Terserah kalo mau ikut, aku ga minta," sahut Hanum masih berpura-pura marah.


Hanum ikut berjalan di belakang suaminya, tapi tepat di depan pintu langkah Alex berhenti lalu membalikkan badannya menghadap Hanum.


"Kenapa?" tanya Hanum heran.


Cup. Kecupan ringan mendarat di bibirnya. Wajah keduanya serempak memerah.


"A-aku tunggu di depan," ucap Alex lalu berbalik hendak keluar kamar, " ... jangan lama-lama," ucapnya lagi sebelum melangkah keluar dan meninggalkan senyum pada Hanum yang masih berdiri termangu.


Hanum spontan memegang bibirnya yang tadi bersentuhan dengan bibir Alex. Padahal bukan sekali ini bibir mereka bertemu, bahkan mereka sudah melakukan yang jauh lebih dari itu. Namun perlakuan manis dan spontan dari suaminya tadi, benar-benar membuat Hanum mati kutu.


...❤❤...


Follow


IG : Ave_aveeii


Halaman FB : Novel Online Aveeii


Jangan lupa yaa 🙏


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰