CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Pingsan


Mobil Alex masih melaju pelan karena lampu merah, baru saja berubah warna menjadi hijau. Hanum yang tidak sabar segera membuka pintu mobil, dan berjalan dengan cepat ke arah anak-anak yang duduk di tepi trotoar.


"Hei, Hanum!" Alex terkejut saat Hanum keluar dari kendaraan dalam keadaan mobil berjalan meski melaju pelan.


Alex yang sudah terlanjur menjalankan mobilnya saat lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, kebingungan mencari celah untuk menepi.


SIAL!


Alex memukul kemudi mobilnya. Sembari meminggirkan mobilnya, matanya tak lepas dari kaca spion mengamati kemana istrinya itu pergi. Suara klakson yang marah karena ia memotong jalan mereka, sudah tidak ia pedulikan lagi.


Alex segera berlari mengejar Hanum setelah memastikan mobilnya tidak mengganggu pengendara yang lain.


Alex mendapati istrinya yang kebingungan berlarian kesana kemari di antara pertokoan pinggir jalan yang padat pengunjung.


"Kamu cari apa sih?!" Alex menarik tangan Hanum. Ia merasa kesal sekaligus khawatir karena istrinya itu tiba-tiba melompat keluar dari dalam mobil yang sedang berjalan.


"Aku tadi lihat Arif sama Denok," ujar Hanum setengah berteriak.


"Siapa itu?"


"Adik aku di panti. Tadi mereka di situ, Mas. Aku dekatin, tapi mereka lari." Hanum mulai menangis histeris. Beberapa pejalan kaki sudah mulai memperhatikan mereka.


Alex merengkuh Hanum kedalam pelukannya. Ia berusaha menenangkan istrinya sekaligus meredam tangisannya agar tidak menarik perhatian orang lain.


"Kita ke mobil dulu." Alex berusaha menggiring Hanum ke arah tempat ia memarkir kendaraanya.


"Ga mau, aku mau cari mereka dulu. Aku yakin mereka ga jauh dari sini." Hanum melepaskan pegangan Alex pada tubuhnya.


Alex berjalan cepat mencoba mengimbangi langkah Hanum yang lebar.


"Num, sudah. Sepertinya kamu salah lihat." Alex kembali menarik tangan Hanum. Dilihatnya wajah istrinya yang sudah pucat. Peluh sudah mengalir di pelipis dan lehernya. Alex mengenggam erat tangan Hanum yang terasa dingin.


"Aku yakin, Mas. Aku kenal banget wajah mereka." Hanum bersikukuh dan berusaha melepaskan cengkeraman tangan Alex di lengannya.


"Kamu masih sakit. Nanti kita kesini lagi cari mereka ya," bujuk Alex.


"Ga bisa Mas, nanti mereka tambah pergi jauh."


"Hanum dengar aku. Kita ke dokter sekarang!" Alex semakin mengeratkan genggamannya.


Hanum yang merasa kesal memukul dada Alex dengan kepalan tangannya yang semakin lama semakin lemah.


Sedetik kemudian tubuh Hanum terkulai lemah, Alex dengan sigap menangkap tubuh istrinya sebelum jatuh ke trotoar, "Hanum!"


"Kenapa, Pak?"


"Ada apa?"


Beberapa orang di sekitar mulai mendekat.


"Pak tolong istri saya pingsan, mobil saya di sana." Alex menunjuk mobilnya yang ia parkir di seberang jalan.


Sopir angkot dan ojek membantu memberhentikan kendaraan, agar Alex dapat menyeberang dengan Hanum dalam gendongannya.


"Terima kasih ya, Pak," ucap Alex setelah memasukan Hanum ke dalam mobil.


"Sama-sama, Pak. Tidak perlu di beri apa-apa, kami ikhlas," ucap salah satu sopir angkot, ketika Alex ingin menyelipkan beberapa lembar uang ke dalam tangannya. Alex menganggukan kepala dan tersenyum haru.


Alex membawa mobilnya sedikit lebih cepat ke arah rumah sakit terdekat. Dengan satu tangan, ia mengusap peluh yang menetes di kening Hanum. Setelah itu ia menggenggam erat, dan sesekali mengecup tangan istrinya yang semakin terasa dingin.


"Kamu kenapa keras kepala sih?" Alex melirik ke arah Hanum yang masih belum sadar.


Begitu sampai di rumah sakit, Alex menghentikan mobilnya tepat di depan lobby dan meminta petugas keamanan segera membawa ranjang pasien.


"Gimana, Dok?" tanya Alex tak sabar pada dokter yang bertugas di ruang IGD.


"Istri Bapak baik-baik saja, mungkin sedikit kelelahan dan kurang vitamin. Saya juga kasih rujukan untuk periksa lebih lanjut ke dokter SpOG ya, setelah ini langsung kesana," ujar dokter berkaca mata itu dan langsung menuliskan sesuatu di secarik kertas.


Alex langsung menyambar kertas yang diberikan dokter itu, lalu segera kembali ke ranjang perawatan Hanum.


"Istrinya sudah sadar, Pak. Bisa langsung mendaftar di dokter SpOG. Letaknya di ujung lorong ini. Istrinya naik kursi roda ya, karena masih lemas." Seorang perawat wanita dengan ramah menjelaskan dan membantu menyiapkan Hanum duduk di kursi roda.


"Periksa lagi," ujar Alex dengan wajah tegang. Ia sangat khawatir jika istrinya mendapat diagnosa penyakit yang berbahaya.


"Aku takut, Mas. Aku sakit apa?" Hanum mengenggam tangan Alex yang sedang mendorong kursi roda.


"Ada aku. Kamu jangan takut ya," ujar Alex dengan suara bergetar. Matanya sibuk membaca papan nama petunjuk arah.


"Di sini?" tanya Hanum bingung, "Kita ga salah tempat?" tanyanya lagi. Alex tidak menjawab, ia hanya berdiri melongo sambil memegang kertas rujukan di tangannya.


Perlahan Alex mendekati sepasang suami istri yang duduk paling ujung lalu berbisik, "Maaf ini ruang praktek Dokter Angga SpOG?" tanyanya sambil berusaha membaca tulisan latin yang tertulis di kertas.


"Ya benar," jawab sang suami.


"Spesialis apa ya dokter Angga ini?" tanyanya lagi.


Sepasang suami istri itu saling berpandangan lalu menjawab, "Kandungan. Istri Bapak hamil?"


Mulut Alex terbuka lebar saat mendengar jawaban suami istri itu. Ia yang tadi mengira Hanum sakit parah, merasa tidak percaya jika istrinya di duga sedang hamil.


"Eh, be-belum tahu. Ini dari IGD, tadi pingsan terus disuruh kesini." Alex melirik ke arah Hanum yang berusaha mendengar dari jauh pembicaraan mereka.


"Ow, bisa jadi benar hamil. Soalnya tanda-tanda kehamilan tiap wanita itu beda-beda. Selamat ya, Pak. Pasti anak pertama."


"Ia, semoga benar." Senyumnya terkembang dengan dada berdegub kencang bahagia.


Alex mendekati Hanum setelah mendaftar pada perawat yang berjaga di depan pintu ruang praktek.


"Bener tempatnya di sini?" tanya Hanum.


Alex berusaha menahan mulutnya untuk tidak memberi tahu dulu pada istrinya jika ia di duga hamil. Biar saja dokter yang mengatakan nanti.


Alex menggenggam tangan Hanum erat, sesekali ia mengecup tangan Hanum. Pandangannya tak lepas dari wajah Hanum yang masih terlihat pucat.


"Kenapa kok lihatin gitu," ujar Hanum jengah.


"Pingin lihatin aja terus. Soalnya tadi tiba-tiba lari keluar dari mobil. Aku takut kamu hilang, aku mau cari di mana lagi?" Wajah Hanum yang pucat berangsur-angsur merona mendengar kalimat manis yang sangat langka dari bibir Alex.


Sejenak kemudian ia kembali teringat pada adik-adik pantinya yang ia lihat di pinggir jalan.


"Mas, habis ini kesana lagi ya. Aku mau cari mereka sampai ketemu," ujar Hanum penuh semangat.


"Iya, iya. Setelah ini," ucap Alex singkat, hanya agar Hanum lebih tenang. Namun, ia akan pastikan istrinya ini tidak akan turun dari ranjang jika terbukti hamil.


...❤❤...


Bolong sehari maaf yaa 🙏😁


Follow


IG : Ave_aveeii


Halaman FB : Cerita Aveeii


Jangan lupa yaa 🙏


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰