
"Lempaarrr ....!" Pekikan pembawa acara menyusul terbangnya bouquet bunga yang dilempar Hanum dan Alex, membuat suasana semakin riuh.
Sejenak semua yang tadi berbaris rapi, saling mendorong dengan wajah tengadah keatas menunggu bunga yang melayang di atas segera jatuh. Jonathan segera berjalan menjauh sebelum tertabrak para wanita yang tiba-tiba menjadi liar.
"Selamaatttt buat mba ... siapa namanya?" Pembawa acara turun dari atas panggung ke tengah-tengah kerumunan gadis lajang.
"Jamilah." Suara kecil yang malu-malu itu menerobos indera pendengaran Jonathan. Tubuh Jonathan menegang. Langkahnya terhenti, ia ingin memastikan kalau tidak sedang berhalusinasi.
"Selamat buat Mba Jamilah, pasangannya mana Mba? atau masih jomblo?" Pembawa acara sudah mulai menggoda.
Secepat kilat Jonathan membalikan badannya, memastikan bahwa yang disebut Jamilah oleh pembawa acara yang gemoy itu benar Jamilah yang ia kenal. Namun banyaknya orang di tengah balroom membuat ia kesulitan melihat sosok yang di sodori mike oleh sang pembawa acara.
"Belum punya." Jonathan membesarkan matanya, ia sudah sangat yakin bahwa yang di depan itu adalah Jamilahnya. Walaupun wujudnya belum terlihat di matanya, tapi dari suara Jonathan sangat mengenalinya.
"Waahh, buat para jombloman di sini masih punya banyak kesempatan nih. Bagi yang mau daftar jadi suami, segera dekati Mba Jamilah yaaa," seloroh pembawa acara yang sontak menambah kerutan di wajah Jonathan.
Berangsur-angsur kerumunan gadis lajang kembali ke tempat masing-masing setelah beberapa dari mereka, sempat menggoda Jamilah.
Jonathan mengedarkan pandangannya, ia mencari sosok Pak Reno yang di duga datang bersama Jamilah.
Tubuhnya menegang saat Jamilah menatapnya dari tengah ballroom. Senyum manis tersungging di bibir Jamilah untuk Jonathan. Gadis susunya itu malam ini tampil sangat cantik namun sederhana.
Rambut panjangnya yang hitam digerai begitu saja dengan jepit rambut menghiasi di sisi kiri kepalanya. Gaun warna pastel muda selutut dengan pita di belakang menguatkan penampilan Jamilah yang seperti gadis remaja.
Jonathan mencoba membalas senyuman Jamilah, tapi begitu ia teringat penolakan Jamilah yang tanpa kata-kata, Jonathan menyurutkan senyumannya. Ia segera membalikan badan dan berjalan keluar dari ballroom.
Jonathan takut jika tiba-tiba Pak Reno datang dan menampilkan kemesraan mereka berdua di depan matanya, yang di khawatirkan ia tidak dapat mengontrol emosinya sendiri dan berbuat hal yang memalukan di sana.
"Pak!" Jonathan menghentikan langkahnya. Ia segera membalikan badan saat suara Jamilah berteriak di belakangnya.
Gadis itu tampak terengah-engah mengatur nafasnya. Wajahnya yang tadi ramah tampak berkerut kesal. Tangannya masih memeluk bouquet bunga yang tadi dilempar Hanum dan Alex.
"Kamu ngapain ikuti saya?"
"Pak Jo jalannya cepet banget." Jamilah berjalan mendekat. Hampir saja Jonathan menarik dan menculik gadis bergaun pastel di depannya karena rasa rindu lama tidak bertemu.
"Ada apa?"
"Buang aja! kalau ga suka, ga usah dikembalikan. Kasih ke orang lain yang barangkali lebih butuh dari kamu!" Jonathan berkata ketus lalu membalikan badan dan berjalan lagi.
"Pak Jo!" Jamilah berlari mengejar langkah Jonathan yang semakin cepat.
"Apaa??" Jonathan berseru sedikit keras karena langkahnya dihalangi oleh Jamilah. Wajah gadis itu semakin suram siap akan menangis.
"Ini." Jamilah kembali menyodorkan kotak maroon pemberian Jonathan.
"Sudah aku bilang, kalau ga suka buang! pantang bagiku mengambil kembali barang yang sudah kuberi ke orang lain!"
"Pasangin." Suara Jamilah terdengar merajuk dan setengah menahan tangis.
"Heh?"
"Pasangin."
"Maksudnya?"
"Aku ga mau pasang sendiri. Kalau Pak Jo kasih cincin ini, aku mau Pak Jo yang pasang ke jari aku."
Jonathan mengerjap-kerjapkan matanya, ia masih belum percaya dengan pendengarannya. Matanya terpaku pada kotak maroon kecil di tangan Jamilah.
"Kamu minta aku pasang cincin itu di jari kamu? Kamu tahu kan artinya kalau aku yang pasang cincin itu ke jari kamu?" tanya Jonathan memastikan ia tidak salah paham.
"Ka-kalau ga mau ga apa-apa." Jamilah menurunkan tangannya pelan.
"Aku tanya, kamu tahu ga artinya kalau aku yang pasang??" Jonathan menahan tangan Jamilah. Perlahan kepala Jamilah mengangguk lalu tertunduk malu.
"Karena kamu tahu, aku pasangkan." Jonathan mengambil kotak maroon dari tangan Jamilah dan mengambil cincin bermata biru dari dalamnya.
Sebelum benar-benar terpasang, Jonathan memandang kembali wajah gadis yang akan segera diikatnya, "Asal kamu tahu Milah, begitu cincin ini ada di jarimu hidupmu tidak akan bebas lagi. Kamu dilarang keras jauh dari aku."
...❤🤍...