CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Suami


"Bapak kenal sama Pak Arthur?" tanya Hanum kembali karena melihat Alex yang tak kunjung menjawab, tapi jakunnya naik dan turun seakan ingin mengutarakan sesuatu.


"Ga ada untungnya bagi saya harus kenal orang macam dia," sahut Alex ketus.


"Ow ... jadi kapan Bapak mau menceraikan saya? sekarang pun saya siap," ujar Hanum mantap.


"Sombong sekali kamu!" Alex menatap Hanum tajam.


"Saya hanya memudahkan Bapak aja," tandas Hanum masih dengan sikap santai.


"Sepertinya kamu sedang mengincar mangsa baru heh? pria di Mall itu?" Alex tertawa mengejek.


"Bapak tadi makan siang sama si Aneh di Mall Kastanye juga?" Hanum tidak menanggapi sindiran Alex, ia malah lebih penasaran dari mana suaminya tahu jika ia di Mall bertemu dengan pria bernama Arthur.


"Berhenti memanggil saya Bapak!" seru Alex lalu berjalan pergi meninggalkan Hanum di ruang makan.


Panggil Mas ga boleh, sekarang panggil Bapak marah. Terus aku harus panggil apa? sambel mercon? pedes banget kalo ngomong. Hanum menggerutu jengkel dalam hati.


Tanpa mereka berdua sadari adu debat di meja makan tadi, menjadi tontonan kedua orang tua Alex. Mereka terkejut saat melihat putra sulungnya bisa mengeluarkan kalimat panjang penuh emosi. Alex biasanya tidak akan membuang-buang waktunya, untuk hal yang ia rasa tidak penting.


"Kamu lihat, Pa?" Mama Alex yang lebih dulu tersadar.


"He eh." Papa Alex mengangguk dengan mulut sedikit terbuka.


"Apakah itu artinya ....?" Papa dan Mama Alex saling bertatapan.


"Kamu ke wanita itu. Aku ke Alex," perintah Papa Alex. Seperti ada yang mengkomando kedua orang tua itu berjalan ke tujuan masing-masing.


Dok ... dok ... dok Papa Alex mengetuk pintu kamar anak sulungnya.


"Papa boleh masuk?" Papa Alex melongokan kepala di pintu kamar, sedangkan Alex hanya mengangguk.


"Hmmm, hanya ingin melanjutkan pembicaraan tadi di teras. Gimana hubunganmu dengan Ane, keponakan teman Papa?"


Alex terlihat malas mejawab, ia mendenguskan nafas kesal dan membuang muka dari Papanya, "Aku ga ada hubungan apa-apa. Apa yang Papa harapkan?"


"Menikah?" sahut Papa Alex lebih dari sekedar bertanya.


"Aku sudah menikah," ucap Alex dengan penekanan.


"Jadi kamu tetap mau melanjutkan pernikahan dengan wanita itu? tapi tadi Papa dengar dia minta cerai dari kamu?" tanya Papa Alex dengan sangat hati-hati.


Alex tidak menjawab, nafasnya sedikit lebih menderu menahan rasa kesal.


"Benar katamu Papa hanya ingin kamu menikah, bukan soal menikah dengan siapa. Asal wanitanya harus jelas bebet, bibit, dan bobotnya. Jika kamu mau ceraikan dia, segera jangan ditunda. Akan tetapi jika kamu mau melanjutkan pernikahanmu ini, ya jalankanlah dengan baik," papar Papa Alex.


"Aku malas mengucapkan ijab dua kali," ucap Alex cepat. Papa Alex mengerutkan kening sedetik kemudian ia terkekeh pelan.


Sementara itu Mama Alex sudah duduk di teras belakang dengan Hanum.


"Siapa Arthur tadi yang dibilang Alex?" tanya Mama Alex menyelidik.


"Teman."


"Kamu suka sama dia?"


"Bu-bukaan." Hanum menarik nafas panjang, sepertinya ia harus terbuka dengan Ibu mertuanya, "Pak Arthur rekan kerja saya, dia yang nanti menangani pembuatan iklan dan pemotretan saya," ucap Hanum pelan.


"Iklan? pemotretan?? kamu kerja apa?"


"Saya ... dapet kerja jadi bintang iklan paket perawatan Aku Cantik," ucap Hanum malu-malu.


Mata Mama Alex membesar, "Produk baru itu? yang lagi booming itu?? benar Hanum??"


"Iya, saya dikasih produknya gratis terus disuruh coba. Sekarang lanjut kontrak jadi bintang iklannya," jelas Hanum tertunduk malu.


Sore tadi ia sangat senang karena honor pertamanya sudah dibayar dan ia meminta untuk di transfer langsung ke rekening Ibu Anita, Ibu asuhnya di panti asuhan.


"Waahhh, pantes wajah kamu keliatan bersih banget sekarang, Num" Mama Alex menyentuh pipi Hanum kagum.


"Ibu mau coba?" tawar Hanum.


"Boleh?" Mama Alex antusias.


"Ini buat Ibu." Hanum memberikan satu kotak paket perawatan wajah merk Aku Cantik.


"Terima kasih ya, Num," ucap Mama Alex bahagia dan langsung berbalik menuju kamarnya sendiri.


"Gimana, Ma?" tanya Papa Alex begitu melihat istrinya masuk ke dalam kamar.


"Apanya gimana?" tanya Mama Alex tak acuh sambil berjalan ke arah meja riasnya.


"Tadi kan kamu sudah bicara sama Hanum, apa katanya?" tanya Papa Alex tidak sabar.


"Aah, lupaaa ...." Mama Alex melirik suaminya dari cermin rias dengan pandangan menyesal.


Begitu menerima paket perawatan dari Hanum, Mama Alex langsung terlupa oleh tujuan awalnya menemui istri dari putranya itu.


...❤...


"Mba, ini pesanan Den Alex. Katanya harus Mba Hanum yang masak dan dianter sendiri ke kantor Den Alex sebelum jam makan siang." Mbok Jum menyerahkan kertas berisi berbagai menu makanan.


Mata Hanum melotot melihat menu makanan yang tertulis di sana, "Dia mau makan siang atau mau hajatan?"


"Duuh, saya ada janjian jam satu," ucap Hanum gelisah. Siang nanti jadwalnya ia melakukan pemotretan untuk pertama kalinya.


"Mbok sama Tini bisa bantu siapin bahan-bahannya ya. Nanti kalo bukan Mba Hanum yang masak, ketahuan dari rasanya."


Jarum jam sudah menunjukan angka sembilan, Hanum dengan cepat menyelesaikan masaknya agar selesai sebelum jam dua belas.


Jam setengah satu, Hanum sudah berada di lobby kantor suaminya.


"Permisi Mba, saya mau anter makanan untuk Pak Alex," ucap Hanum sopan.


Receptionist yang dulu menolak Hanum mengernyitkan keningnya. Ia berusaha mengingat-ingat wanita yang ada di hadapannya. Tampilan Hanum yang sudah berubah hampir 180 derajat membuatnya ia tidak yakin.


"Se-sebentar." Receptionist itu menghubungi Cimoy sembari mengamati Hanum dari atas hingga kakinya.


Hanum siang itu menggunakan gaun biru langit di bawah lutut, dipadu dengan sepatu berhak tinggi berwarna putih. Riasan wajahnya natural dengan rambut berwarna hasil salon tergerai indah di bawah pundak.


"Langsung di suruh ke ruangan Pak Alex."


"Saya titip aja di sini, Mba. Tolong bawa naik ya, saya ada janji jam satu." Hanum meletakkan satu paper bag besar berisi kotak-kotak makanan.


Tanpa menunggu jawaban dari receptionist Hanum langsung melangkah ke luar gedung, dan berdiri di pinggir jalan menunggu taxi online yang sudah ia pesan.


"Beraninya kamu tidak menuruti permintaan suamimu." Hanum terkejut saat Alex sudah berdiri di sampingnya dan mencengkram lengannya.


Setelah Hanum menolak membawa makanan ke ruangan Alex, receptionist langsung menghubungi Cimoy dan menyampaikan jika wanita yang mengantar makanan menolak naik karena ada temu janji jam satu.


Alex mendengar laporan Cimoy langsung naik pitam, dan langsung berlari ke bawah mengejar Hanum.


"Suami? Bapak maksudnya? tenang aja, ga lama lagi Bapak bebas kok dari saya," ucap Hanum. Ia berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Alex yang semakin keras.


...❤❤...


Follow IG : Ave_aveeii


Jangan lupa yaa 🙏


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰