CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Aku minta maaf


Jonathan berjalan pelan mendekati ranjang di mana Stella terbaring dengan banyak alat terpasang di tubuhnya. Dadanya naik turun lebih cepat dari seharusnya, seolah udara sulit masuk ke rongga paru-parunya. Jonathan hanya berdiri mematung tak berani bersuara apalagi bergerak. Ditatapnya Stella yang terbaring menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Perlahan kepala Stella menoleh ke arah Jonathan dan bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman tipis.


"Jooo ...." Stella memanggil dengan suara yang sangat lirih hampir tak terdengar.


"Ya, La." Jonathan maju selangkah lebih mendekat ke arah Stella.


"Ka ... mu ga ... telat jem ... put Ja ... milah 'kan?" tanya Stella dengan terpatah-patah. Terlihat sekali ia sangat kesulitan mengeluarkan suara.


Jonathan terhenyak mendengar pertanyaan Stella, ia sama sekali tidak menduga sahabatnya itu menanyakan gadis lain, di saat dirinya sendiri terbaring lemah di rumah sakit. Ia hanya mengangguk cepat agar bisa mengendalikan air matanya.


"Syukurlah," ucap Stella lirih masih dengan senyum di bibir dan tatapan mata yang tulus.


"Istirahat, La," Hanya itu yang bisa Jonathan sampaikan. Mulutnya pun tak mampu mengucapkan kata maaf pada Stella. Ia mengakui jika dirinya sangatlah pengecut. Terlebih ada dua pasang mata yang mengawasinya dari pojok ruangan.


"Iya ... capek." Stella kembali memalingkan wajahnya menatap langit-langit lalu memejamkan matanya.


"La ... Laaa," panggil Jonathan panik.


"A ... ku capek, Jo. Mau ti ... dur." Stella membuka matanya sedikit lalu menutup matanya kembali. Mata Jonathan nyalang mengawasi penunjuk tanda vital di monitor, begitu terlihat masih berdetak barulah ia menghela nafas lega.


"Om ... Tante, saya minta maaf." Jonathan berjalan mendekat ke arah kedua orang tua Stella yang duduk di sudut ruangan.


"Sudahlah, yang terpenting anak Om sudah ketemu," ucap Papa Stella. Jonathan semakin merasa bersalah mendengar perkataan Papa Stella.


Wajah tua Papa Stella yang penuh kerutan, semakin terlihat kuyu dan lelah. Bisa dipastikan sepasang suami istri yang berusia di atas 60tahun itu tidak bisa beristirahat dengan baik selama putri satu-satunya belum ditemukan.


"Ijinkan saya menemani Stella di rumah sakit, biar Om dan Tante istirahat aja dulu. Nanti kalau Om sama Tante sakit, Stella pasti sedih." Papa dan Mama Stella saling berpandangan ragu. Mereka belum rela meninggalkan putri mereka yang baru saja ditemukan, tapi apa yang dikatakan Jonathan ada benarnya juga.


"Om titip Stella ya, Jo. Jangan kamu tinggalkan lagi sendiri, kalau ada apa-apa segera kabari kami," ucap Papa Stella sebelum menyusul istrinya yang berdiri di sisi ranjang putrinya.


Dada Jonathan berdenyut, memperhatikan kedua orang tua Stella mengusap rambut putrinya dan mengecup keningnya. Stella putri satu-satunya yang lahir di saat mama Stella berusia 38tahun. Buah hati itu akhirnya hadir di tengah-tengah mereka selama lebih dari 15tahun pernikahan mereka menunggu, dan putri yang mereka harapkan sebagai penerus keturunan sekarang terbaring tak berdaya berjuang antara hidup dan mati dan itu semua karenanya.


Papa Stella menepuk-nepuk pundaknya sebelum keluar dari ruangan. Jonathan mengambil kursi dan duduk di samping ranjang sahabatnya.


"La, kamu jangan bikin takut kalau sakit ... cepat sadar, La." Jonathan mengusap-usap tangan Stella yang tertancap jarum infus.


"Tidur?" bisik Raditya yang masuk setelah kedua orang tua Stella keluar dari ruang rawat.


"Iya." Jonathan mengangguk pelan.


"Kamu ga pulang?"


"Aku jaga di sini, biar Papa sama Mamanya istirahat dulu. Kasihan mereka pasti kurang tidur."


"Dia mencintaimu, Jo," ucap Raditya lugas.


"Aku tahu. Itu sudah lama."


"Kamu tahu sudah sejak lama?"


"Sejak SMA. Aku bukan pria cuek, jelas aku tahu kalau tanda-tanda wanita tertarik."


"Lantas kenapa kamu ga seriusin Stella? dia cantik, baik dari keluarga baik-baik."


"Ya kalau begitu, jangan kamu kasih harapan."


"Stella satu-satunya wanita di sekitarku yang tidak aku pacari, Om. Aku tidak mau bermain-main dengannya, karena aku tahu perasannya tulus padaku. Beda dengan gadis lainnya yang hanya ingin uangku dan numpang tenar, karena itu aku tidak mau mempermainkan perasaannya," papar Jonathan dengan mata terus tertuju pada wajah Stella yang pucat.


"Apa dia mengartikan lain kedekatanmu dengannya?"


"Semoga tidak, karena untuk kali ini aku berusaha bersikap tegas dengan memberi batasan jelas hubungan kita. Aku harap dia mengerti."


"Semoga dia mengerti." Raditya menghembuskan nafasnya berat.


Sepulang Raditya, Jonathan hanya tinggal sendiri menemani Stella. Ia berusaha membayar hutang waktunya bersama Stella.


"Jo ... ha ... us."


"I-iya, bentar ya." Jonathan mendekatkan sedotan ke bibir Stella yang kering dan pecah. Saat mendekat, mata Jonathan dapat melihat lebih jelas memar di rahang dan leher Stella. Ia langsung memalingkan wajahnya, tak kuat menahan rasa sesal.


"Pu ... lang jem ... put Mi ... lah," ucap Stella terbata-bata. Air mata Jonathan merebak, ia semakin merasa sesak mendengar perkataan Stella.


"Dia sudah pulang, aku di sini nemanin kamu. Jangan banyak bicara, Laa, please." Jonathan merasa sedih melihat Stella yang kesusahan bicara karena bibirnya yang bengkak dan nafasnya yang berat.


"Ce ... rita." Stella tidak menghiraukan permintaan Jonathan. Ia ingin memanfaatkan waktu bersama Jonathan lebih lama lagi.


"Cerita apa, Laaa." Jonathan menahan rasa kesalnya melihat Stella yang tidak mau mengerti kondosi tubuhnya.


"Du ... lu."


"Dulu? tentang masa SMU kita?" Stella mengangguk. Meskipun wajahnya bengkak dan sayu, namun sorot matanya terlihat lebih bersinar penuh harapan.


Jonathan mengangguk, ia mengerti permintaan sahabatnya itu. Ia lalu diam memikirkan cerita apa yang dapat menghibur Stella.


"Kamu inget ga, La? aku, Jamie, Andro sama kamu pernah ketahuan makan bakso pas upacara hari senin." Stella mengangguk senang, "Aku, Jamie sama Andro, disuruh pegang mangkuk bakso di tengah lapangan sambil hormat bendera. Eh, kamu enak aja alasan pusing karena datang bulan padahal kamu yang ngajak." Stella mulai tertawa pelan meski masih terlihat susah.


"Lom ... pat pa ... gar."


"Aah, iyaa. Kita berdua telat gara-gara kamu minta mampir beli es krim dulu, aaahh ... kamu lagi, kamu lagi. Terus rok mu sobek karena nekat lompat pagar. Aku lagi yang disalahkan guru." Stella tertawa lalu meringis menahan sakit.


"Udah ah, jangan ketawa." Jonathan merasa takut melihat Stella yang kesakitan.


"Ga apa ... apa. Ini ga se ... sa ... kit yang bia ... sa a ... ku ra ... sa ... kan," ucap Stella memandang Jonathan dalam. Jonathan terdiam, ia paham arti kalimat Stella.


"Aku minta maaf." Akhirnya kata maaf itu dapat keluar dari bibirnya tanpa hambatan.


"Un ... tuk apa?"


"Semua ... semuanya. Aku minta maaf." Jonathan menggenggam tangan Stella yang terasa semakin dingin.


...❤️🤍...


Aku bawa cerita bagus lagii