CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Cara Mama


Flash back Mama


Melihat keadaan putra bungsunya yang semakin hari semakin menyedihkan, Ibu mana yang tega. Tanpa diberi tahu pun, Mama tahu jika Jonathan patah hati gara-gara asistennya.


Bukan Bu Devi jika tidak bisa menemukan alamat kerja Jamilah yang baru. Mama mengajak Hanum mantunya yang sedikit bocor kalau bicara, agar kedatangannya tidak membuat Jamilah takut.


"Jadi Jonathan benar suka sama Jamilah, Ma?" tanya Hanum saat mereka masih di dalam mobil.


"Menurut Mama sih seperti itu, berdasarkan cerita Papa sama suamimu juga."


"Kalau mereka salah?"


"Ya, kita cari tau lagi nanti. Tapi insting Mama ga pernah salah, Num. Sama seperti saat Alex mulai cinta sama kamu, Mama tahu betul."


"Iiisshhh, Mama." Hanum tersipu malu, "Memang tandanya seperti apa?" tanya Hanum akhirnya, karena tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Mama kenal betul dengan kedua anak laki Mama itu, jadi kalau ada sesuatu yang berbeda dari kebiasannya Mama tahu."


"Suamimu itu, sejak semakin dekat sama kamu jadi lebih cerewet. Biasa juga mana pernah peduli dengan sekitarnya. Mata dan hatinya seperti di batasi sama tembok."


"Sebaliknya Jonathan, yang awalnya rame jadi diam seribu bahasa sejak asistennya itu sudah ga kerja lagi sama dia. Alex juga cerita, Jonathan sempat panik waktu William sama Papinya datang ke kantor mau ketemu sama Jamilah. Tandanya apa tuh kalau bukan suka?"


Hanum hanya manggut-manggut walau ia sebenarnya juga tidak mengerti, yang dipikirannya tadi hanyalah cerita tentang suaminya.


"Terus kita mau ketemu sama Jamilah mau ngapain, Ma?"


"Memastikan kalau Jamilah punya perasaan yang sama dengan Jonathan."


Mama dan Hanum masuk ke dalam restoran tempat Jamilah bekerja. Belum lama di sana, mereka berdua sudah menemukan sosok Jamilah yang terlihat lincah mencatat dan mengantar pesanan dari meja satu ke meja lainnya.


"Lucu ya," celetuk Hanum. Mama hanya tersenyum sambil memperhatikan Jamilah dari jauh.


"Kamu panggil, Num."


Hanum mengangkat tangannya saat Jamilah lewat di sebelah meja mereka.


"Halo, Milah lama ga ketemu." Hanum memberikan senyum manisnya. Matanya terus melirik ke arah Ibu mertuanya.


"Eh, iya, Bu. Mau pesan apa? biar saya bantu." Jamilah menyodorkan buku menu ke atas meja.


Setelah beberapa saat memilih, Hanum dan Mama sudah menentukan pilihan. Mereka berdua menunggu pesanan dan berharap Jamilah juga yang mengantarkan.


Keinginan Mama terkabul, Jamilah sendiri yang mengantar pesanan mereka.


"Silahkan." Jamilah mundur hendak kembali ke belakang.


"Milah, sebelum saya pulang nanti bisa kita bicara sebentar?" pinta Bu Devi.


"Bi-bisa ... ada apa ya, Bu." Jamilah bertanya khawatir.


"Nanti saja, kamu kerja dulu dan kami habiskan ini dulu ya." Jamilah menganggukan kepala dengan wajah cemas.


"Num, nanti kamu yang tanya-tanya ya, tapi jangan terlalu terkesan ingin tahu juga." Kening Hanum berkerut bingung, pertanyaan seperti apa yang tidak terkesan ingin tahu. Bukankan bertanya itu karena ingin tahu? tapi demi kelancaran acara pernikahannya dengan Alex, Hanum mencoba mengikuti permintaan mama mertuanya.


Setelah keduanya menyelesaikan makanan mereka, Mama meminta salah satu pelayan yang lewat untuk memanggil Hanum.


"Ibu panggil, saya?"


"Kami sudah selesai makan, boleh kita ngobrol-ngobrol sedikit sama kamu, Milah?" tanya Mama membuka pembicaraan.


"Boleh, Bu. Ada apa ya, apa saya sudah berbuat kesalahan di kantor?"


"Ga ada." Mama memberikan senyum manis lalu memberikan Hanum kode untuk melanjutkan pertanyaan, "Kamu duduk dulu," lanjut Mama sembari menunjuk kursi di sampingnya.


"Milah, kamu harus tanggung jawab!" seru Hanum sembari melipat kedua tangannya di depan dada.


"Heh?!" Mama dan Jamilah serempak menjawab.


...❤🤍...