
Hari-hari Jonathan sejak asisten kecilnya itu mengundurkan diri, tidak lagi sama. Berulang kali kakak dan Papanya menawarkan karyawan baru pengganti Jamilah, Jonathan selalu menolak.
Beberapa kali juga ada karyawan baru yang langsung diterima oleh Papa dan Alex, tapi semua tidak bertahan lama. Semua tidak betah dengan permintaan konyol dan sikap anak bungsu di keluarga Prasojo itu.
Mulai dari perkataannya yang ketus dan menyakitkan hati, sampai tugas yang diberikan tidak masuk akal dan sia-sia. Seperti menyalin semua berkas penawaran selama satu tahun kebelakang, dalam waktu dua hari saja.
Jonathan ibarat raga tanpa nyawa, pagi berangkat ke kantor menyelesaikan pekerjaannya, lalu kembali pulang tanpa mau lama-lama berkumpul dengan keluarga seperti biasa. Hilang sudah canda tawa dan celetukan jahil dari mulutnya.
Semua perubahan itu tentunya menarik perhatian kedua orang tuanya juga Alex dan Hanum. Seperti pagi ini saat semuanya duduk mengelilingi meja makan untuk sarapan, Jonathan keluar dari kamar lalu duduk sebentar dan makan sekedarnya tanpa suara.
"Ada berita apa di kantor?" tanya Papa menahan gerak Jonathan yang sudah akan berdiri dari kursi.
"Ga ada," sahut Jonathan singkat.
"Semua lancar aja?" tanya Papa lagi. Semua mata sekarang tertuju padanya.
"Lancar."
"Kamu tidak kesulitan bekerja tanpa asisten?"
Jonathan mengeluh kesal, sudah berulang kali Papa dan Alex mempertanyakan hal yang sama padanya.
"Bagaimana Papa lihatnya saja. Aku merasa mampu, jangan khawatir," ucap Jonathan sembari tersenyum.
"Bagus kalau begitu. Beberapa hari kedepan, mungkin Papa sama kakakmu jarang ada di kantor. Papa mau ke Malaysia tanda tangan kontrak, Alex mau persiapan resepsi pernikahan mereka yang tertunda. Kamu ga apa-apa sendirian?"
Ia akui rasa rindu itu semakin mengganggunya, tapi ia juga masih merasa marah karena gadis kecil itu berani meninggalkannya. Sampai Jamilah datang ke kehidupannya, tidak ada seorang wanita yang mau meninggalkannya terlebih dulu, walaupun mereka tahu ia tidak pernah setia pada satu wanita.
Sejak Jamilah tidak bekerja dengannya, William pun tidak pernah datang ke kantor. Bahkan pria itu jarang menghubunginya, seperti punya kesibukan sendiri. Hal ini membuat segala dugaan jelek masuk ke dalam kepalanya.
Rasa penasaran sekaligus rindu membuat Jonathan memutar setir mobilnya ke arah restoran tempat Jamilah bekerja. Sebenarnya hampir setiap hari Jonathan datang, tapi hanya sampai di tempat parkir.
Restoran tempat Jamilah bekerja seluruh dinding pembatasnya terbuat dari kaca, jadi apapun yang ada di dalam bisa terlihat jelas dari luar.
Hanya dengan memandang dari jauh kelincahan gadis susu itu melayani pengunjung, Jonathan bisa tersenyum dan membayar rasa rindu. Rasa gengsi yang tinggi membuatnya tidak berani menemui Jamilah.
Seperti hari-hari kemarin, sore ini Jonathan sudah ada di tempat parkir restoran tempat Jamilah bekerja. Ia mengambil posisi yang tepat agar bisa memandang keseluruhan isi di dalam restoran.
Senyumnya terbit saat gadis yang ditunggu-tunggu berjalan membawa buku menu. Dipandanginya wajah dan mata Jamilah yang bebinar saat menjelaskan isi buku menu pada seorang pengunjung.
Senyumnya menghilang saat tangan pengunjung itu turun ke bawah meja, dan dengan kurang ajar mengusap kaki Jamilah yang memakai rok sedikit di atas lutut. Wajah Jamilah terlihat pucat dan ia tak berani bergerak.
Tanpa pikir panjang, Jonathan langsung masuk ke dalam restoran dan menghampiri meja di mana gadis susunya dilecehkan.
"Permisi, Mba. Saya juga mau pesan," ucap Jonathan tenang sembari matanya menatap tajam tangan dan mata pria setengah baya yang mesum itu.
...❤🤍...
Nanti malam ada lagi ditunggu yaa