CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Gadis susu


Jonathan terus mengumpat sembari membolak balikkan berkas yang ada di atas meja rapat. Satupun tidak ada yang melekat di otaknya.


"Aku tuh bisanya praktek langsung, kalo suruh baca tulisan gini males banget!" Jonathan menghempaskan berkas ke atas meja.


Krruuukkk ... Kerasnya berpikir membuat perutnya ikut menggeliat.


"Mooy, tolong pesankan sarapan dong, nasi bungkus yang di depan kantor itu," pinta Jonathan dengan nada merayu melalui intercom.


"Maaf Pak, jam segini office boy-nya pada isirahat."


"Ya kamu dong sayang, tolong belikan sarapan buat aku di bawah ya." Jonathan mulai melancarkan kata rayuan mautnya.


"Aduh maaf Pak, saya banyak kerjaan."


"Lah, kan kamu sekretarisku, kerja untuk aku?" Jonathan sudah mulai tidak bisa menahan rasa kesalnya karena lapar dan suntuk.


"Saya sekretarisnya Pak Alex, kerjanya untuk Pak Alex hehehe," sahut Cimoy tanpa rasa sungkan.


"Gfhsjskexzxsl!" Jonathan menggerundel kesal sembari mematikan intercom penghubung antar ruangan Alex dan meja Cimoy.


Jonathan melirik pergelangan tangannya, jam tangan merk Tulang miliknya menunjukkan pukul 10, masih terlalu pagi untuk menunggu kiriman makanan dari Mama.


Hiruk pikuk dalam lambungnya memaksa Jonathan menyeret kakinya keluar dari ruangan. Saat membuka pintu, ia disambut dengan senyuman minta maaf dari Cimoy.


Lihat saja nanti, kalau aku sudah resmi menjabat di kantor ini kuturunkan jabatanmu jadi office girl! Jonathan tidak membalas senyuman Cimoy, ia hanya mengangkat sudut bibirnya sinis.


Sampai di lantai satu, suasana lobby sangat ramai dengan pria dan wanita usia muda, memakai pakaian hitam putih.


"Ada demo?" tanya Jonathan pasa security yang bertugas.


"Bukan Pak, lagi pada antri mau interview kerja."


"Ow," sahutnya cuek lalu terus berjalan ke arah pintu luar. Langkahnya terhenti saat matanya menangkap raut wajah yang tidak asing baginya.


"Si gadis susu." Jonathan beringsut ke belakang pilar, lalu meneruskan kegiatannya mengintip gadis incarannya.


"Ada siapa, Pak?" tanya seorang petugas keamanan.


"Sssttt!" Jonathan meletakan jari telunjuknya di depan bibirnya dengan mata masih tertuju pada gadis susu yang tampak gelisah di antara pelamar lainnya.


"Siapa, Pak?" tanya petugas keamanan itu dengan suara berbisik dan ikut bersembunyi di belakang tubuh Jonathan.


"Cantik ga?" tanya Jonathan.


"Yang mana?" Petugas keamanan itu memanjangkan lehernya.


"Itu yang rambutnya belah pant*at terus ada poninya."


"Iiih, belahan pan*tat kok sampe di kepala?"


"Belah tengah maksudnya ... eh, ngapain kamu ikut sembunyi di sini!" Jonathan baru tersadar kalau petugas keamanan itu ikut menunduk di belakang tubuhnya.


"Tadi saya kira disuruh ikut main detektif-detektifan." Petugas keamanan itu menyengir malu.


"Sembarangan! sini kamu aku kasih tugas. Mereka kan disini mau melamar pekerjaan. Kamu bilang ke receptionist, yang rambutnya pakai poni itu, ada tes khusus dari pimpinan. Beli nasi bungkus di depan, lalu langsung bawa ke ruang saya. Ngerti?"


"Ngerti, Pak."


"Ini uangnya. Cepet!" Jonathan mendorong tubuh petugas keamanan itu agar lebih cepat berjalan.


Jonathan kembali ke tempat persembunyiannya lalu mengamati petugas keamanan itu berbicara dengan receptionist. Walaupun receptionist sedikit merasa curiga, petugas keamanan itu berhasil meyakinkan.


Lalu receptionist mulai memanggil gadis susu itu, dan memberikan perintah sesuai yang diamanatkan Jonathan. Gadis itu tampak mengerutkan kening mendengar receptionist yang sedang menyampaikan sesuatu. Namun akhirnya ia tetap berjalan ke luar gedung.


Tidak berapa lama, gadis susu itu kembali dengan satu kantong plastik di tangannya. Jonathan segera berlari naik ke ruangan Alex dan memutar kursi kebesaran CEO membelakangi meja.


Dengan hati berdebar Jonathan menanti gadis susu itu masuk ke ruangan.


"Pak, ada pesan makanan?" Suara Cimoy terdengar saat pintu terbuka.


"Ehem, iya. Suruh masuk," sahut Jontahan dengan suara yang sedikit diberatkan agar terdengar seksi.


"Masuk, Mba." Cimoy sempat melebarkan matanya saat mendengar suara Jonathan yang berubah, lalu ia mempersilahkan gadis susu itu untuk masuk ke ruangan.


"Permisi, Pak. Ini nasinya." Terdengar suara yang familiar di telinga Jonathan.


"Terima kasih. Ada sendok sama piringnya juga?"


"Kalau ga ada, bagaimana saya bisa makan?" ujar Jonathan dengan posisi masih membelakangi gadis susu itu, "Kamu ambil di pantry."


"Baik, Pak." Terdengar suara langkah kaki menjauh, Jonathan berusaha mengintip dari balik kursi, "Eh, pantry itu dimana, Pak?" tiba-tiba gadis susu itu berbalik. Jonathan hampir saja terjungkal dari kursinya karena kehilangan keseimbangan.


"Ya kamu tanya sama karyawan lain!" serunya kesal karena terkejut dengan gerakan tiba-tiba si gadis susu.


"Baik, Pak," sahut si gadis susu itu lalu setengah berlari keluar dari ruangan.


Setelah sekian lama menunggu, gadis itu kembali lagi dengan nagas tersengal-sengal.


"Ini sendok sama piringnya, Pak." Tangan Jonathan menggapai-gapai ke balik kursi berusaha menyentuh nasi bungkus dan peralatan makan yang ada di atas meja.


"Duduk," ujar Jonathan setelah nasi bungkus dan peralatannya berhasil ia raih.


"Namamu siapa?" tanya Jonathan mulai menyuapkan sendok nasi ke dalam mulutnya. Rasa lapar dan penasarannya menjadi satu dan sama-sama tidak bisa terbendung lagi.


"Jamilah."


"Hook ... uhuk!" Jonathan memukul-mukul dadanya karena ada sepotong tahu yang nyelonong masuk ke tenggorokan saat ia akan menertawai nama si gadis susu itu.


"Minum, Pak?" Gadis itu menggeser gelas agar Jonathan lebih mudah meraihnya.


"Kamu ngelamar bagian apa di sini?" tanyanya lagi setelah memastikan potongan tahu itu kembali ke jalan yang benar.


"Tulisan lowongannya sih untuk bagian umum."


"Sekolah lulusan apa?"


"SMK."


"Umur?"


"18tahun."


"Sudah punya pacar?"


"He? maaf Pak?"


"Kamu punya pacar belum? ini pertanyaan penting loh, karena kalau wanita sudah punya pacar, kadang baru kerja sudah minta keluar karena mau nikah."


"Ow, ga Pak. Saya ga punya pacar dan ga mau pacaran."


"Jadi mau langsung nikah?"


"Belum, masih lama." Gadis susu itu terkikik malu.


"Rumahmu di mana?"


"Di jalan sayembara."


"Naik apa kamu kesini, lumayan jauh itu."


"Naik sepeda sampai terminal, terus sepeda di titipin di sana lalu lanjut baik bis."


Jonathan manggut-manggut mendengar penjelasan gadis susu bernama Jamilah itu. Entah mengapa, gadis itu sangat menyedot perhatian Jonathan.


"Oke, saya sudah selesai makan. Terima kasih sudah temani saya makan." Jonathan melempar bungkus nasi ke dalam tong sampah dengan posisi masih membelakangi Jamilah.


"Oh, ya satu lagi. Kamu cepat menghafal dan memahami sesuatu yang baru?"


"Kalau diberi kesempatan saya mau coba, Pak," ujar Jamilah dengan semangat.


"Oke, nanti akan dikabari lagi. Tulis nomer ponsel kamu di kertas."


"Sudah, Pak. Saya sudah boleh kembali, Pak?"


"Iya."


"Terima kasih, Pak."


Jonathan memutar kursinya saat memastikan Jamilah sudah tidak ada dalam ruangannya lagi. Senyumnya terkembang lebar dengan rencana yang tersusun sempurna di kepalanya.


...❤🤍...


Maaf ya lambat up, karena ada tugas tambahan 🙏. Tadi juga rencana up sebelum jam 12 tapi mampir di novel penulis favaoritku yang sudah sekian purnama baru up lagi malam ini 🤭. Kalau teman-teman ngikutin juga pasti tahu siapa yang aku maksud ini 😁